
Sudah hampir lebih dari 15 menit Arka tidak bisa ditemukan, hingga membuat panik satu sekolah. Guru-guru yang tak pernah melihat sikap Arka seperti ini tentu saja dibuat terkejut dan kebingungan oleh sikap Arka yang tak seperti biasanya, tak terkecuali Airin yang merupakan orang tua dari Arka, saat pertama kali mendengar kabar soal anaknya yang berantem dan tiba-tiba menghilang membuat tubuhnya seketika panik dan gemetar.
"Astaga, Arka." Ucapnya panik dan bergegas menuju ke sekolah anaknya.
Tak butuh lama bagi Airin untuk datang kesekolah anaknya, karena jarak antar sekolah dan rumahnya yang tak terlalu jauh, hingga hanya dengan berjalan kaki pun masih bisa sampai ketempat sekolah.
"Apa Arka belum ditemukan juga?" Airin yang telah sampai disekolah, menghampiri wali kelas Arka yang telah menunggu kedatangannya.
"Saya mohon maaf, bu. Sampai sekarang kami masih berusaha mencari Arka." Jawab wali kelas Arka yang bernama bu Citra itu.
"Apa kalian sudah mencarinya ke arah taman?" Airin yang panik, terus bertanya keberadaan anaknya yang belum juga ditemukan.
"Yang lain sedang berpencar ke arah sana, jadi untuk saat ini saya masih belum mendapatkan kabar terbarunya soal Arka." Jelas bu Citra.
"Yasudah, aku juga akan menyusul mencarinya ke arah sana." Airin segera pergi begitu saja tanpa memperdulikan bu Citra yang hendak mengatakan kondisi sebelum Arka tiba-tiba menghilang.
"Hal itu nanti saja anda jelaskan pada saya, untuk sekarang yang terpenting adalah mencari keberadaan anak saya." Begitu tuturnya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan bu Citra.
Hati ibu mana yang tak panik jika mendengar anaknya menghilang, begitupun yang dirasakan oleh Airin sekarang, hati dan perasaanya berkecamuk tak karuan ketika harus menghadapi kondisi dimana anaknya tiba-tiba menghilang seperti waktu itu.
"Padahal kamu sudah berjanji sama mama untuk tidak menghilang seperti ini lagi." Gumamnya yang berlari frustrasi mencari keberadaan anaknya.
Airin dengan ekspresi paniknya terus berlari mencari keberadaan anaknya, hal yang sama yang beberapa waktu lalu ia rasakan ketika Arka tiba-tiba menghilang dari pandanganya saat menemaninya mengantar bunga pesanan pelanggannya.
....
Flashback,
15 menit yang lalu sebelum kejadian Arka yang tiba-tiba menghilang.
Berada di kelas yang sama dengan teman-temanya, Arka terlihat gembira dan bersenang-senang, rutinitas yang biasa ia lakukan setiap harinya saat kesekolah. Hingga suasana yang semula gembira berubah menjadi kacau saat salah satu temanya yang bernama Bima tiba-tiba menyeletukkan kata yang membuatnya tersinggung.
"Arka, kamu kan tidak punya papa, berarti kamu tidak bisa datang ke acara untuk para ayah, dong?" Celetuk Bima.
Arka yang semula tersenyum, berubah murung dan hanya bisa diam mendengar perkataan Bima.
"Iya, ya. Arka kan tidak ada ayah, nanti bagaimana dong?" celetuk teman lainnya.
"Nanti om Dava yang akan datang." Arka pun akhirnya bersuara.
"Mana bisa begitu, kan dia om bukan papa kamu." Protes Bima tidak setuju dengan jawaban Arka.
__ADS_1
"Tidak apa, om Dava katanya bisa berubah menjadi seorang papa." Jawab Arka masih tenang.
"Kasian deh, Arka tidak punya ayah." Ucap Bima sedikit meledek.
"Gapapa, Arka kan masih punya mama." Arka tak tersinggung dan tetap bersikap tenang menjawab ledekan Bima.
"Kata mamaku, kamu tidak punya ayah, karena mama kamu tidak menikah, makanya kamu jadi anak yang menyedihkan." Ledek Bima dengan setengah tertawa di ikuti teman lainya.
Arka yang sedari tadi diam dan bersikap tenang, berubah marah dan sedikit menggebrak meja ketika Bima menyebut mamanya.
"Jangan menghina mamaku." Ucap Arka dengan ekspresi marah.
"Aku punya papa dan aku bukan anak yang menyedihkan." Ucap Arka lagi menahan tangisnya.
"Mana, nggak ada tuh, kamu saja tidak pernah di jemput sama papa kamu, artinya kamu tidak punya ayah, weekk." Bima terkesan cuek dan tak perduli dengan amarah Arka.
Dan yah.., setelah itu pun keduanya jadi saling pukul dan bertengkar.
....
Arka berlari dalam tangisan ketika wali kelasnya berusaha melerai dan meminta dirinya untuk meminta maaf pada Bima. Hingga tanpa ia sadari, telah berjalan keluar jauh dari arah sekolahnya.
Rasa kesedihan dan sakit dalam hatinya tak bisa lagi ia sembunyikan. Saat ia sedang meringkuk bersedih meratapi kesedihanya, seseorang tiba-tiba menghampiri dirinya.
"Hai!" Sapa dengan ramah orang tersebut pada Arka yang tengah duduk meringkuk dalam kesedihan disalah satu bangku taman.
Arka yang sebelumnya tengah meringkuk, mengangkat perlahan kepalanya dan mencoba menatap ke arah orang yang tengah menyapa dirinya.
"Om, siapa?" Ucap Arka sedikit berhati-hati terhadap orang asing yang di depanya.
"Kamu lagi ngapain disini?" Orang itu ikut duduk disamping dan tak menjawab pertanyaan Arka.
"Aku lagi duduk." Jawab Arka polos sembari berushaa mengusap air matanya.
"Tidak apa, kamu boleh menangis lagi, kok. Om, nanti hanya akan diam saja disini."
"Hiikk, tapi.." Dan pecah kembali tangisan Arka setelah mendengar kalimat dari orang yang tak dikenalnya itu.
"Papa.., Arka ingin bertemu papa.." Ucapnya sembari terus menangis.
Arka menangis cukup lama disamping orang yang menyapanya, dan orang itu hanya diam mendengarkan Arka yang tengah menangis. Ekspresinya ikut merasakan kesedihan anak disampingnya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah selesai menangis?"
Arka mengangguk kecil, pada pertanyaan itu.
"Mau ikut om, nggak? Kita beli ice cream bersama, supaya kamu sedikit merasa lega setelah menangis."
Namun, dengan cepat Arka menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mau, ya?"
"Iya, soalnya kata mama, Arka tidak boleh ikut dengan orang yang baru dikenal." Jujur Arka dengan polosnya.
"Mama kamu mendidik kamu dengan baik rupanya." Ucap orang itu merasa ikut senang, yang kemudian beralih mengusap lembut puncak kepala anak disampingnya dengan ekspresi diamnya.
"Apa kamu tadi habis berantem dengan teman kamu?" Ucapnya lagi yang kemudian berhenti mengelus puncak kepala anak disampingnya.
"Kok, om tau?" Arka menatap kaget pada orang disampingnya.
Orang itu hanya tersenyum.
"Bagaimana kalau om bantu kamu." Ujarnya yang tiba-tiba memberikan bantuan.
"Membantu Arka?" Arka memperlihatkan ekspresi bingung pada ucapan itu.
"Iya, memabantu kamu untuk bertemu dengan papa kamu."
"Memangnya om tau, dimana papa Arka?" Balas Arka yang tiba-tiba tertarik soal itu.
Lagi-lagi orang itu hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Arka yang terlihat penasaran.
"Besok, om akan datang kesekolah kamu, nanti kamu tunggu om disana, ya! dan untuk pertemuan kita hari ini, kita rahasiakan dulu, ya?"
"Termasuk untuk mama?"
"Iya, karena ini rahasia antara kamu dan juga om."
"Baiklah, Arka berjanji untuk merahasiakannya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wah, siapa tuh yang sedang bersama Arka 😱, buka orang jahat, kan?...
__ADS_1