Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
94. Menebus Kesalahan


__ADS_3

"Kamu sudah menghubungi dokter, kan?" Tanya Darren pada Arsen begitu sampai dirumah dan selesai membaringkan Airin diranjang.


"Sudah pak, saat ini beliau sudah dalam perjalanan kesini." Jawab Arsen.


"Baguslah, kalau begitu sekarang kamu pergilah kerumah Airin, sampaikan pada keluarganya kalau keberadaan Airin sudah ditemukan dan sedang bersamaku sekarang." Ujarnya memberi perintah pada Arsen.


"Baik, akan segera saya lakukan." Jawab Arsen, yang kemudian pamit dari hadapan Darren.


Begitu Arsen pergi, Darren yang merasa sudah lelah pada tubuhnya karena belum sempat beristirahat, menghela nafas ringan dan kembali menghampiri Airin yang saat ini masih memejamkan kedua matanya diatas tempat tidur.


Ada banyak hal yang ingin ia ucapkan saat melihat wajah Airin yang sedang menutup mata. Begitu banyak, hingga tak tau harus melakukan apa di depan seseorang yang sedang tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, kumohon bangunlah." Ucapnya lirih dengan ekpresi menyesal bercampur lelah.


Ia berdiri disamping Airin yang sedang tak sadarkan diri dengan sorot mata yang sayu dan penuh rasa bersalah. Saat menatap wajah perempuan yang ia cintai itu ada di depanya matanya, ia tak bisa membendung rasa kerinduanya yang membuncah pada perempuan yang telah mengisi hatinya itu.


"Apa hubungan kita benar-benar tidak bisa seperti dulu lagi?"


Darren hanya bisa berharap saat Airin terbangun dari pingsanya akan memberi ruang untuknya meminta maaf dan menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan, agar kedepannya hubungan yang terlanjur retak itu bisa menyatu kembali seperti dulu lagi. Namun, karena ia tau itu bukanlah jalan yang ringan untuk mewujudkanya, membuatnya kini hanya bisa menghela nafas berat seolah mempertegas beban masalah yang ia alami saat ini.


"Meski kamu terus menolakku, aku akan tetap mendekatimu dan menfapatkan hatimu lagi." Ucapnya penuh tekad di depan Airin yang sedang terbaring tak sadarkan diri.


.....


Ting tong...


Suara bel masuk mengalihkan pandanganya seketika, dengan segera Darren beralih menuju sumber suara dan meninggalkan Airin sendirian, karena mengira itu pasti dokter yang akan memeriksa Airin. Dan benar saja, ada seorang dokter yang datang bersama Arsen ketika ia hendak menyusulnya keluar.


Nampaknya Arsen yang kebetulan berpapasan dengan dokter yang memang dipanggil untuk memeriksa kondisi Airin, secara langsung mengantarkan dokter tersebut pada Darren dan juga mengarahkan dokter tersebut untuk menuju pada ruang kamar yang ditempati oleh Airin saat ini.


"Maaf, pak, saya kembali untuk mengantarkan dokter yang memeriksa nona Airin." Ucap Arsen pada Darren.


"Ok, terimakasih." Balas Darren merasa berterimakasih karena Arsen telah memandu dokternya menuju kamar Airin, hingga ia tak perlu repot menjemputnya keluar.


"Kalau begitu, saya mohon izin pergi dulu." Ujar Arsen yang hendak pergi dari hadapan Darren.

__ADS_1


"Emm.. pergilah." Daren pun mempersilahkan Arsen pergi, dan ia memilih langsung beralih pada Airin yang sedang diperiksa kondisinya oleh dokter.


Ekspresi tegang tak ayal baginya saat melihat dokter memulai memeriksa kondisi Airin. Ia harap-harap cemas, takut terjadi apa-apa pada kondisi Airin yang sedang diperiksa saat ini oleh dokter.


"Bagaimana kondisinya, dok? Dia tidak apa-apa, kan?" Tanya Darren pada dokter yang memeriksa Airin.


"Anda tidak perlu khawatir, kondisi pasien baik-baik saja, beliau hanya sedikit kelelahan dan sedikit terlalu tegang hingga membuatnya tak sadarkan diri seperti ini. Tenaganya akan pulih saat pasien mengkonsumsi makanan yang cukup dan menjaga pikirannya agar tidak terlalu tegang yang nantinya dapat menimbulkan stres dan beban dipikiranya." Jelas dokter Bima.


Mendengar penjelasan itu seketika membuat Darren terdiam. Ia tertegun dengan penjelasan itu, dan seolah bisa memahami apa yang dimaksud oleh dokter.


"Mungkin kalau sudah sadar, anda hanya perlu memberikan air untuk beliau minum dan obat yang nanti akan saya resepkan untuk anda." Sambung dokter kembali memberi penjelasan.


Meski sedikit terkejut, namun raut kelegaan terpancar dari ekspresi Darren, ia pun sedikit bisa bernafas lega setelah mendengar kondisi Airin yang tak begitu menghawatirkan.


"Saya sudah membuatkan resep obat untuk pasien, pastikan anda menebusnya nanti di apotek." Ucap dokter Bima lagi, sekaligus menyodorkan resep obat yang telah ia tulis untuk Darren.


"Terimakasih dok, nanti pasti akan saya tebus obatnya di apotek." Balas Darren menerima resep obat yang dibuatkan untuk Airin oleh dokter Bima.


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu, kalau ada apa-apa sama pasien, anda bisa menghubungi saya dinomor ini." Ucap dokter Bima yang hendak pamit setelah menyelesaikan pemeriksaanya, yang juga menyodorkan kartu namanya pada Darren.


"Terimakasih, akan saya pergunakan dengan baik nomor yang anda kasih." Balas Darren mengambil kartu namanya.


.....


Dengan lesu Darren kembali keruangan Airin berada setelah mengantar dokter Bima pulang. Raut wajahnya penuh dengan ekspresi lelah, hingga berulang kali menghela nafas panjang. Berjalan perlahan dan sedikit membuka satu kancing baju miliknya yang terasa sesak untuknya.


"Sebaiknya aku mandi dulu." Ucapnya ketika merasa tubuhnya mulai lengket karena keringat.


Tak memperdulikan waktu yang terus berputar, dan jadwalnya yang harus masuk ke kantor, Darren yang hari ini terlihat tak bersemangat hanya ingin mandi untuk menyegarkan pikiranya.


"Aku bahkan belum makan apapun sejak semalam. Apa aku minta bawakan sesuatu sama Arsen."


Seolah bisa menembus apa yang sedang ia pikirkan saat ini, Arsen yang sedang ia perintahkan untuk datang kerumah Airin sedang menghubunginya melalui ponsel.


"Ada apa? Apa kamu sudah menjelaskan semuanya pada keluarga Airin." Ucapanya segera begitu mengangkat telfon dari Arsen.

__ADS_1


"Maaf, pak. Itu..." Arsen terlihat ragu untuk mengatakan pada Darren.


"Itu apa? Kenapa kamu berhenti melanjutkan kalimatmu?" Ucap Darren meminta Arsen segera mengatakannya padanya.


"Saya sudah menjelaskan semuanya sesuai yang anda perintahkan, tapi masalahnya.. tuan muda terus menangis mencari anda dan nona Airin." Jelas Arsen kemudian.


Darren terdiam dengan kesulitan yang Arsen alami saat ini.


"Kamu masih ada disana, kan?" Tanya Darren.


"Iya, saya masih berada dirumah nona Airin." Jawab Arsen.


"Berikan ponselnya ke anakku, biar aku yang akan membujuknya sendiri." Ujar Darren meminta ponselnya diarahkan pada Arka.


"Baik," Arsen pun bergerak sesuai perintah Darren dan mulai mencoba mengajak Arka bicara yang kemudian memberikan ponselnya.


"Halo papa.." Ucap Arka.


"Halo, Arka, ini papa, apa Arka bisa mendengar suara papa?"


"Iya," Jawab Arka dengan anggukan kecilnya.


"Arka tunggu papa, ya. Nanti papa pasti akan datang bersama mama." Ujar Darren mencoba menangkan sang anak.


"Tidak mau, Arka mau bertemu mama sekarang." Namun, Arka menolak dan ingin segera bertemu mamanya.


"Baiklah, papa akan mempertemukan Arka dengan mama. Tapi, kalau Arka janji satu hal sama papa, nanti papa akan kabulkan permintaan Arka."


"Janji?..." Arka yang tak mengerti hanya bisa mengulangi kalimat yang dilontarkan oleh Darren tanpa mengerti maksudnya.


"Iya, janji untuk tidak menangis lagi."


"Baiklah, Arka tidak akan menangis lagi, tapi papa janji sama Arka ya, untuk membawa mama pulang."


"Ok, papa berjanji."

__ADS_1


Obrolan itu nyatanya mampu membuat Arka tenang, Darren pun juga ikut merasakan perasaan lega setelah berhasil membuat perasaan anaknya kembali tenang.


Fiuh... Satu tarikan nafas panjangnya sedikit melegakan hatinya.


__ADS_2