
Darren juga tampaknya sedang memikirkan hal itu, namun karena tak bisa mengingat soal kenangan itu, membuatnya tak yakin akan hal itu. Tentang dirinya yang kemungkinan memiliki seorang kekasih di masa lalu dan hubunganya pada seorang perempuan yang ia lihat dalam siluet bayangan yang tak sengaja terlihat di depan matanya.
"Aku nggak tau, nggak yakin soal itu juga." Ucapnya kemudian, yang akhirnya memberikan jawabannya.
"Wah kupikir seorang Darren nggak bakal tertarik soal hal beginian, ternyata bisa juga ya melakukannya?" Goda Lucas.
Darren melirik kesal pada Lucas yang malah menggodanya dan memilih tak menghiraukan omongannya. Sedangkan Lucas ternyum cuek melihat lirikan tajam dari Darren.
"Kemana woy, sudah mau pergi?"
Melihat Darren yang meninggalkannya, Lucas pun hendak menyusulnya. Sedangkan Darren memilih tak menjawab pertanyaan Lucas dan menuju kembali ke arah kamar, seolah ingin memastikan lagi tentang apa yang sempat ia lihat saat berada dikamar. Sebuah siluet atau gambaran akan dirinya saat masih tinggal di dalam apartemen ini tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Kenapa malah masuk kesini lagi? Apa akhirnya ada sesuatu yang lu inget?" Tanya Lucas yang berhasil menyusul Darren ke kamar.
Darren masih diam dan tak menjawab pertanyaan Lucas. Saat ini dia hanya tertarik dalam mengamati setiap sudut ruangan kamar tersebut tanpa breaksi apapun. Ekspresinya seolah sedang mencari kenanganya kembali, terlebih di dalam kamar ini ia sempat mendapatkan kembali gambaran masa lalunya.
"Apa lu juga merasa kalau tidak ada yang bisa lu dapatkan disini?"
Darren lagi-lagi diam, tak merespon apa yang dikatakan oleh Lucas. Namun dengan diamnya dia, seolah menegaskan bahwa apa yang dilontarkan oleh Lucas benar adanya.
Aku ingin melihatnya lagi..
Belum ada kemajuan apapun tentang ingatanya yang hilang selama ia berada di apartemen ini setelah lebih dari satu jam lamanya ia masuk kedalam. Hanya samar-samar bayangan akan dirinya di masa lalu itulah satu-satunya yang ia dapatkan setelah datang ke apartemenya yang berada di melbourne.
Merasa tak berhasil mendapatkan apa yang ia harapkan, Darren pun memilih keluar dari kamar dan hendak meninggalkan apartemennya. Darren merasa sudah cukup untuk memastikan apa yang ada di dalam apartemen yang telah lama ia tinggalkan itu.
"Kita ke lokasi selanjutnya." Ucapnya pada Lucas dan bergegas meninggalkan apartemen.
"Sudah beneran nih? Apa lu yakin akan meninggalkan apartemen ini begitu saja?" Tanya Lucas memastikan kembali pada Darren yang hendak keluar, mengingat belum ada hal yang Darren dapatkan setelah datang ke apartemen lamanya.
"Iya, toh tempatnya tidak bisa ditinggali juga, mungkin nanti aku bakal balik lagi kalau tempatnya sudah dibersikan." Ujar Darren yang sudah yakin pada keputusannya untuk pergi.
Sebelum benar-benar pergi dari apartemen, Darren menatap sejenak apartemen lamanya dan kemudian hendak melangkahkan kembali kakinya untuk keluar, namun tiba-tiba saja ada hal yang mengganggu pandangannya, hingga membuatnya mengurungkan niat untuk melangkah pergi.
__ADS_1
"Kamu mencintaiku, kan?"
"Tentu saja. Kenapa? apa kamu tidak percaya?"
"Aku percaya, kok."
"Kalau begitu, maukah kamu menikah denganku?"
Siluet bayangan dirinya di masa lalu saat masih tinggal di apartemen ini, bersama seorang wanita yang duduk disampingnya persis, tengah mengobrol dengan hangat dan penuh keakraban.
Darren yang melihat bayangan itu kembali, langsung merasa tertegun dan menghentikan langkahnya. Ekspresinya kembali terpaku, seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya. Sosok dirinya yang di masa lalu secara jelas bisa ia lihat, terlebih ada seorang wanita yang ada disampingnya saat ini.
"Perempuan itu lagi? Siapa dia? Siapa yang sedang bersamaku itu?"
Matanya mebulat begitu melihat wajah perempuan yang ada bersama dirinya di masa lalu.
"Woy, kenapa malah diam?" Lucas menepuk pundak milik Darren yang sedang terpaku menatap sesuatu di depannya.
"Lihat apa'an sih? Kenapa..." Lucas menghentikan kalimatnya ketika melihat ekspresi Darren yang diam mematung sambil meneteskan air mata. Ia pun jadi terkejut melihat pemandangan itu, dan ikut menatap pada arah yang Darren lihat saat ini, namun ia tak melihat apapun di depannya dan merasa bingung karena hal itu.
"Darren." Teriaknya keget dan segera menghampiri tubuh Darren yang sudah terjatuh dilantai.
"Darren bangun, kamu dengar aku kan, Ren?" Panggil Lucas pada Darren yang sudah tak tergeletak sembari terus mengguncang tubuhnya.
Merasa Darren tak sadarkan diri, Lucas pun langsung mengeluarkan handphone miliknya dan mencoba menghubungi ambulan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
....
Prang.. suara pecahan yang kencang mengagetkan Airin yang hendak minum air.
"Kenapa, Rin?" Bi Rahma yang mendengar suara pecahan itu pun langsung menghampiri Airin yang ada di dapur.
"Ah, ini bi. Tangan Airin tiba-tiba bergetar hingga membuat gelas yang Airin pegang terjatuh." Jelas Airin yang terlihat masih cukup terkejut dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Ya ampun, tapi kamu gapapa, kan?" Tanya bi Rahma beralih menanyakan keadaanya.
"Iya, bi. Airin gapapa kok, cuma sedikit kaget saja tadi." Jawab Airin.
"Syukurlah, ini kamu minum dulu biar tidak tambah kaget." Bi Rahma menyerahkan air putih pada Airin yang terlihat masih kaget dengan pecahan gelas yang ia pegang.
"Terimakasih, bi." Airin pun mengambil minuman yang dibawakan oleh bibinya dan meminumnya segera.
"Kamu mending menyingkir dulu dari pecahan kacanya, biar bibi saja yang bersihkan pecahannya." Ujar bi Rahma meminta Airin untuk menjauh dari pecahan kaca.
"Biar, Airin saja, bi. Nanti bibi kena pecahannya lho." Airin ingin menolak itu dan mencoba membantu bi Rahma yang sedang memungut pecahan gelas.
"Sudah sana, kamu tungguin saja anakmu di depan. Sebentar lagi dia akan pulang sekolah, kan? Kamu cegah saja agar dia tidak masuk kesini, biar tidak kena pecahan kacanya." Bi Rahma melarang Airin yang ingin membantunya membersihkan pecahan gelas.
"Yasudah Airin mau tunggu Arka diluar, tapi bibi juga hati-hati ya biar tidak kena pecahan kacanya."
"Iya, bibi pasti akan hati-hati. Sudah sana, sambut anakmu yang mau pulang sekolah."
Airin pun meninggalkan bi Rahma yang sedang membersihkan pecahan gelas yang tak sengaja ia pecahkan dan menuju kedeoan untuk menyambut anaknya yang hendak pulang sekolah.
Aku kenapa sih hari ini, kenapa perasaanku tidak tenang begini. Apa ada sesuatu sama Arka, ya?"
Airin menghela nafas perlahan, mencoba menengkan dirinya yang sedari kemarin selalu diliputi rasa cemas.
"Tidak ada hal buruk yang akan terjadi dalam keluargaku, kan?"
"Mama..." Panggilan Arka yang semangat, mengalihkan pikiran suntuknya dan membuat perubahan dalam ekepresinya.
"Wah, akhirnya anak mama pulang juga. Tidak nakal kan disekolah tadi." Sambutnya menghampiri Arka sembari memeluknya.
"Iya, dong." Jawab Arka tersenyum ceria.
Melihat wajah ceria dari sang anak mampu menenangkan hati Airin yang sedari tadi terus merasa cemas
__ADS_1
Baguslah, sepertinya memang tidak terjadi apa-apa pada Arka.