
Dava terpaku pada penjelasan Arka, sekarang ia mengerti mengapa Arka bungkam pada masalah yang sedang ia alami.
"Yasudah, sekarang kita berangkat sekolah dulu. Soal ini nanti kita bicarakan lagi, ya.. " Ucap Dava.
"Om, nggak kan bilang sama mama, kan?" Dengan matanya yang penuh harap, Arka menatap pada Dava.
"Iya, om janji nggak akan bilang sama mama Arka, tapi Arka harus janji akan menceritakan masalah ini lagi sama om Dava, ok!"
"Ok.." Arka memancarkan wajah yang ceria pada jawaban Dava.
Keduanya pun melanjutkan kembali langkah perjalanan menuju sekolah. Dava menggandeng tangan Arka menuju ke sekolahnya.
"Belajar yang rajin, ya, kalau ada yang gangguin Arka disekolah, bilang saja sama om Dava, biar om Dava yang marahin nanti." Ucap Dava setelah sampai mengantar Arka di depan gerbang sekolahnya.
"Siap!" Dava membuat gesture hormat pada Dava bersama senyumnya yang merekah dan kemudian lari kedalam sekolahnya segera.
Dava tak langsung pergi, ia menunggu Arka hingga masuk di dalam kelasnya, begitu Arka masuk kedalam kelasnya, ia pun beralih pergi dari sekolah Arka. Sebelum itu, ia sempat terfikirkan kembali pada ucapan Arka. Dava terlihat galau memikirkan hal itu, hingga terus memikirkannya seperjalanannya menuju sekolahnya.
"Nanti aku bilang ke kak Airinnya gimana, ya? Nggak mungkin juga aku jelasin soal ini." Dava terlihat bingung memikirkan alasan untuk mengatakannya pada Airin soal Arka nanti.
"Ah, sudahlah, mending aku berangkat sekolah dulu, soal itu aku pikirkan nanti saja." Tutupnya yang akhirnya memilih m untuk sejenak melupakan yang membuatnya bingung itu.
....
Airin yang berada dirumah, terlihat penuh harap pada Dava dalam membantunya untuk berbicara dengan Arka. Perasaanya masih belum tenang memikirkan soal anaknya.
"Kamu kenapa? Apa kamu merasakan sakit di suatu tempat?" Tegur bi Rahma, pada Airin yang terlihat dalam ekspresi cemas dan kebetulan sedang memgangi kepalanya.
"Ah, enggak kok, bi. Airin baik-baik saja, cuma sedikit lemas saja." Airin yang terkejut, menjawab pertanyaan bibinya.
"Kalau masih lemas, mending kamu tiduran saja dikamar. Kamu sudah meminum obatnya, kan?"
"Iya, bi, Rahma sudah meminum obatnya."
"Yasudah, buat istirahat saja, jangan terlalu melakukan aktivitas berat dulu. Toko bunganya biar bibi saja yang handle, kamu tidak usah menghawatirkan apapun dulu untuk saat ini, jadi sembuhkan dulu kondismu itu." Ujar bi Rahma memberikan nasehatnya.
__ADS_1
"Iya, bi." Airin merasa di ingatkan oleh perkataan bibinya. Ia menjadi tersadar bahwa pikirannya hari ini terlalu banyak, hingga terus merasa cemas.
Airin pun melangkah menuju arah kamarnya kembali, mencoba menenangkan hati dan pikirannya yang hari ini terlalu banyak menghawatirkan sesuatu.
"Gimana aku tidak khawatir, ini kan soal anakku?" Ucapnya yang masih belum merasa lega dan terus merasa kepikiran dengan masalah anaknya.
"Semoga Dava berhasil mengajak Arka bicara"
Sebagai seorang ibu, melihat anaknya bertingkah aneh dan tidak seperti biasanya pasti akan bertanya-tanya soal itu dan menghawatirkannya. Hal itu juga dirasakan oleh Airin, rasa khawatirnya yang berlebihan setidaknya masih bisa di maklumi karena nalurinya sebagi orang tua dan seorang ibu bagi anak semata wayangnya.
"Kalau kondisiku tidak seperti ini, mungkin sekarang aku akan bertanya langsung pada gurunya Arka, tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya." Ucapnya yang sedikit menyayangkan pada kondisi tubuhnya yang masih belum sehat.
....
Rasa khawatir dan perasaan yang penuh harap, Darren yang saat ini masih menunggu jawaban dari Arsen soal penyelidikannya terlihat tak bisa tenang.
"Kenapa sih, dari tadi malah nggak fokus dan cemas gitu?" Lucas menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
"Aku mau mempercepat jadwalku ke melbourne." Ucap Darren menatap Lucas.
"Tiba-tiba apanya, hal ini kan sudah kurencanakan dari jauh hari. Aku juga sudah beberpa kali membicarakan soal ini padamu."
"Iya, sih. Tapi, kan kamu bilangnya nanti, bukan sekarang. Tepatnya, setelah melihat hasil pemeriksaan kesehatanmu yang terakhir akan keluar? Kenapa sekarang jadi mempercepatnya?" Lucas menatap bingung pada Darren yang tiba-tiba merubah jadwal keberangkatnya ke melbourne.
"Aku sudah nggak bisa menunggu lagi, karena ada hal yang benar-benar harus aku pastikan disana. Kamu siapkan saja penerbanganya nanti malam, ok!" Kata Darren dengan tekad bulatnya.
"Tunggu deh, jelasin dulu kenapa kamu tiba-tiba merubah jadwal kebernagkatanmu ke melbourne? Apa ada hal yang kamu ingat?" Tanya Lucas yang masih tak mengerti alasan Darren.
"Aku masih belum mengingat apapun, karena itu aku harus kesana agar mengingatnya." Tiba-tiba ekspresi Darren berubah menjadi sayu, seolah ada hal yang harus segera ia ingat.
"Ngapain memaksa kesana, sih? Memangnya apa yang ingin kamu ingat disana? Bukankah tidak ada hal yang spesial disana? Dan, lagipula hanya ingatan disana yang kamu lupakan, soal disini pun kamu masih mengingat semuanya? Jadi, bukankah itu sudah cukup?"
Darren terdiam, "Benar, apa yang kamu bilang. Tapi, ingatan itu tetap harus kutemukan, agar..aku bisa mengingat semua kenangan yang kulupakan dalam memori kepalaku, terlebih pada momen kecelakaanku yang akhirnya membuat memoriku hilang setengah ini."
Setelah sempat terdiam sejenak, Darren tetap kekeh untuk menemukan setengah memorinya yang hilang. Ia juga tetap kekeh untuk datang kembali ke melbourne.
__ADS_1
"Wah, benar-benar keras kepala banget." Gerutu Lucas pada sikap Darren yang kekeh, ia pun tak lagi bisa menolak keinginan sahabat sekaligus atasannya itu.
Ada alasan mengapa Darren begitu ingin datang ke melbourne segera. Setelah pertemuan sekaligus obrolannya bersama Airin dirumah sakit tempo hari, terus saja membuatnya kepikiran dan membangkitkan keinginanya untuk segrera mengetahui sosoknya. Terlebih, ia menjadi terpikirkan soal ingatannya yang hilang, mungkin ada sosok Airin disana, mengingat betapa Airin menatapnya yang seperti orang telah mengenalnya sebelumnya.
Apa benar aku mengenalnya, ya? Tapi, kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Dan, lagi setiap kali aku mengingatnya kepalaku akan menjadi sakit.
"Kita kenalnya dimana, ya?" Gumamya mencoba mengingat-ingat pertemuannya dengan Airin.
"Hah? Apa kamu bilang?" Lucas yang mendengar gumaaman itu, terlihat menanyakan maksudnya.
"Bukan apa-apa." Jawab Darren cepat yang tak menjelaskan maksudnya pada Lucas.
"Cih, dasar." Gerutu Lucas.
......................
Flashback, 6 tahun yang lalu.
"Bagaimana kondisi cucuku? Apa dia masih belum sadar juga?" Tanya kakek Ferdi yang terlihat begitu khawatir.
"Belum, papa nggak usah khawatir soal ini, karena Darren masih dalam tahap pemulihan pasca operasi, jadi pasti masih butuh proses. Dokter juga bilang Darren pasti akan sadar, jadi papa tenang saja soal ini." Ujar Edward menenangkan papanya.
"Bagaimana tidak khawatir, sampai detik ini saja dia masih belum bangun." Gerutu kakek yang terlihat tak puas.
Tiga bulan lamanya Darren koma dan dirawat dirumah sakit, dalam tiga bulan itu juga proses penyelidikan dilakukan tentang kronolagi kecelakaannya. Hingga hasilnya diputuskan menjadi kasus kelalaian pengemudi yang mabuk.
"Siapa kalian?" Darren yang terbangun dari koma panjangnya tiba-tiba menjadi tidak mengenali keluarganya begitu ia membuka mata.
"A-aapa ini? Kenapa dia begini?" Kakek Ferdi gemetar melihat cucunya yang tiba-tiba tidak mengingat dirinya.
Tak hanya kakek Ferdi yang terkejut, begitupun Edward, yang merupakan papa Darren, beserta istri dan adik tirinya ikut terkejut melihatnya.
"Kenapa kalian ada disini? Apa kalian mengenalku?" Ucap Darren lagi.
"...."
__ADS_1
Keheningan menyeruak di dalam ruangan inap milik Darren.