Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
77. Langkah Yang Tak Mudah


__ADS_3

Darren pergi begitu saja meninggalkan Lucas yang terus mendesaknya untuk pulang kerumah keluarganya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Lucas pada Darren yang hendak pergi meninggalkanya.


"Aku ada urusan sebentar." Jawab Darren.


"Lalu gimana dengan keluargamu? Lu nggak mau nemuin mereka? Kakek sama papamu terus mencarimu, tuh." Ucap Lucas mengingatkan.


"Aku bakal temuin mereka, tapi nanti setelah urusan hari ini selesai." Balas Darren yang bersiap untuk pergi.


"Lu tau masalahmu cukup serius, kan? Jangan bersikap santai apalagi cuek begini, karena ada hal yang harus lu jelaskan dan pertanggungjawabkan pada keluargamu sendiri. Apalagi masalah ini bukan hanya tertuju padamu, tapi keluarga juga perusahaan bakal kena dampaknya." Ujar Lucas yang kembali mengingatkan Darren akan rumor yang beredar.


"Aku tau seberapa pentingnya masalah ini, tapi menurutku hal yang mau kulakukan sekarang jauh lebih penting dari pada rumor yang menyerangku saat ini." Ujar Darren yang lebih mementingkan rencana tujuanya.


"Perusahaan bisa kena dampak, gimana hal itu nggak penting? Jangan egois deh. Ok, aku tau ini hal yang menggembirakan buatmu, tapi lu juga harus sadar sama posisi lu sekarang sebagai direktur perusahaan." Tutur Lucas.


Darren terdiam, memahami betul kekhawatiran Lucas padanya, mengingat posisi dirinya diperusahaan masih belum cukup aman.


"Aku tau kekhawatiranmu, tapi, kali ini biar aku urus masalahku." Ujar Darren menenangkan Lucas dan kemudian pergi meninggalkanya.


"Duh, bakal menyusahkanku lagi ini." Ucap Lucas sedikit mengeluh setelah Darren pergi meninggalkanya. Ia mendecak nafas kesal pada permasalahan yang ada di depanya saat ini.


.....


Bukan tak perduli pada masalahnya, ataupun mengabaikan perintah keluarganya, namun karena janjinya pada anaknya yang baru ia temui, membuat Darren lebih memilih untuk datang menemuinya.

__ADS_1


Dan, saat ini ia tengah berjalan menuju ke arah rumah Airin dan Arka tinggal. Tak pergi sendiri, ia kembali ditemani oleh Arsen yang bertugas mengendarai mobilnya.


"Aku sudah janji akan menemuinya lagi, tapi pekerjaan hari ini terlalu banyak, hingga membuatku hampir saja melupakan janjiku sendiri." Gumam Darren yang sedikit menyesal.


Ikatan dirinya yang sebagai seorang ayah baru tampaknya muncul dari dalam dirinya. Meski cukup terkejut dengan fakta bahwa ia telah memiliki seorang anak, namun kenyataanya ia cukup merasa senang dengan kehadiran Arka, seolah telah lama menanti keberadaan anaknya.


"Kenapa aku bisa merasa senang bertemu dengan anakku, ya? Padahal dari awal aku tak pernah tau keberadaanya ataupun merawatnya?"


Agaknya Darren juga merasa bingung dengan dirinya sendiri, ia tak menyangka bahwa akan menyambut dengan bahagia anak yang baru ia temui dan juga ia ketahui keberadaanya itu. Meskipun awalnya ia cukup merasa terkejut, namun ia tak tampak menolak kehadiran anaknya dan malah menyambut kehadiranya.


Siluet bayangan masa lalunya bersama Airin tiba-tiba kembali muncul dalam ingatanya, dalam bayangan yang samar-samar ia lihat terdengar obrolan yang hangat antara dirinya bersama Airin. Bersama Airin ia tampak mengobrol soal anak. Namun, karena terlalu sakit untuk mengingatnya, siluet bayangan itupun hilang dari ingatanya, membuatnya tak lagi mengetahui kelanjutanya.


"Kenapa tiba-tiba jadi muncul begini, sih?" Gumamnya yang tampak terganggu dengan siluet bayangan yang tiba-tiba muncul, hingga membuatnya sakit dibagian kepala.


....


"Siapa dia?" Ucapnya penuh tanya. "Apa kamu tau sesuatu soal dia?" Kali ini ia berbalik bertanya pada Arsen.


"Maaf, pak, saya juga kurang tahu, tapi nanti akan saya coba cari tahu identitasnya." Jawab Arsen yang tak mengetahui identitas dari orang yang dimaksud oleh Darren.


Setelah itu suasana menjadi hening di antara mereka, dengan Darren yang jadi diam di dalam mobil dengan ekspresinya yang terlihat penuh rasa penasaran. Ia yang sejatinya hendak turun dari mobil, terus kepikiran pada sosok laki-laki yang datang kerumah Airin.


Entah mengapa hati dan perasaannya terasa menggelitik ketika melihat kedekatan sosok laki-laki itu bersama Airin dan anaknya. Sikapnya begitu mengganggunya, karena terlihat begitu dekat dengan keluarga Airin.


Rendi, adalah orang yang dimaksud oleh Darren. Suatu kebetulan yang tak terduga bagi Darren bertemu dan melihat langsung Rendi yang sedang berkunjung ke rumah Airin. Ekspresinya terlihat tertegun melihat kedekatan Rendi bersama Airin dan keluarganya, juga pada anaknya.

__ADS_1


"Kalau aku datang sekarang, apa mereka akan menyambutku?" Ucapnya sedikit merasa iri ketika melihat Rendi mendapat sambutan hangat dari keluarga Airin.


Darren yang sudah keluar dari mobilnya, dan saat ini tengah berdiri menatap rumah Airin dengan ekspresinya yang terlihat penuh rasa penasaran dan tanda tanya besar dalam ekspresi wajahnya, membuat ia terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah tujuan. Tubuhnya mematung melihat rumah Airin, dan tiba-tiba saja hatinya merasa sakit ketika melihat rumah di depanya itu. Teringat kembali pada sosok Rendi yang saat ini tengah berkunjung kerumahnya.


"Ini bukan waktu yang tepat untukku bertemu dengan mereka." Tuturnya yang akhirnya memilih pergi dari rumah Airin.


......................


Siapa dia? Apa hubunganya dengan Airin? Dan bagaimana mereka bisa saling mengenal sebelumnya?


Berjalan pulang dari rumah Airin, Darren yang sejatinya ingin melegakan hatinya harus dibuat kepikiran pada sosok laki-laki yang terlihat begitu dekat dengan Airin. Berbagai pertanyaan bermunculan di dalam isi kepalanya.


"Kenapa ini? Kenapa aku jadi merasa kesal begini?"


Darren memegangi dadanya yang tiba-tiba merasakan sakit tak tertahankan, dan merasa sedikit kesal ketika memikirkan kedekatan Rendi dengan Airin.


Ia pun hanya bisa memukuli kepalanya yang terus kepikiran pada kejadian yang ia lihat saat datang kerumah Airin. Ada rasa kecewa darinya yang tak bisa menemui Arka, yang merupakan anaknya.


"Kamu bisa mencarikan aku sebuah rumah yang besar dan memiliki halaman yang luas, nggak? Soalnya aku membutuhkan sebuah rumah secepatnya." Pintanya kemudian pada Arsen.


Arsen yang sedang fokus menyetir mobil, segera melirik ke arah Darren melalui kaca di depanya. "Akan saya usahakan, pak. Tapi, bukankah anda tinggal di apartemen?" Jawab Arsen, yang sedikit bertanya alasanya pada Darren yang sedang mencari sebuah rumah.


"Aku mau tinggal dirumah, apartemen tidak terlalu nyaman buatku, apalagi buat anakku nanti." Ujar Darren.


Arsen yang sempat bingung dengan maksud Darren, hanya bisa diam dan tersenyum simpul, sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu, mengenai anak kandung Darren yang juga sempat ia temui bersama Darren. Tepatnya tadi pagi disekolahnya langsung.

__ADS_1


__ADS_2