Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
69. Rasa Mengharukan


__ADS_3

Saat mengetahui bahwa ia memiliki kehidupan masa lalu bersama Airin, Darren yang mendapatkan informasi pertama kalinya dari Arsen, segera bergegas menuju ke tempat Airin berada untuk mencoba mengamati kehidupan sehari-harinya. Ia mendatangi rumah sekaligus toko bunga milik Airin yang saat itu telah beroperasi kembali setelah sempat tutup karena Airin sakit.


Ia hanya melihat dari jauh melalui kaca mobilnya tanpa mencoba menghampiri Airin. Terdiam mengamati sosoknya yang tengah sibuk merangkai bunga bersama dua pegawainya. Melihat senyum cerah yang Airin pancarkan, sedikit membuatnya terpaku, seakan terpana olehnya. Darren yang hanya bisa melihat dari jauh, hanya bisa membatin untuk mencoba mengingat kembali momen yang pernah ia lakukan dulu bersama Airin.


"Apa benar kita pernah berhubungan di masa lalu?."


Meski belum mengingat sepenuhnya pada kenanganya dulu bersama Airin, namun karena fakta yang ada di depannya saat ini, membuatnya tidak bisa mengelak dan menghindarinya lagi, hingga terus berusaha untuk mencari ingatanya yang hilang itu, terlebih pada kenanganya bersama Airin di masa lalu.


"Jadi, separuh ingatanku yang hilang itu ada kaitanya dengan hubunganku bersamanya di masa lalu?"


Darren terus berusaha mencocokan puzzle ingatannya dengan bukti yang diberikan oleh Arsen padanya. Sebelum memastikan ingatanya, ada hal yang lebih dulu ingin ia pastikan dan lihat dengan mata kepalanya sendiri, yaitu tentang anak kecil yang di duga sebagai anak kandungnya sendiri.


Bersama Arsen yang menemaninya, ia pun bergerak menuju ke arah tempat anaknya berada saat ini dan meninggalkan sejenak Airin yang tengah sibuk dalam merangkai bunga. Meski sejatinya ia hanya ingin melihat dari jauh tentang kehidupan anaknya yang saat itu masih berada disekolah, terlebih ia hanya ingin memastikan wajah anak kecil yang katanya anaknya itu.


Namun, Darren yang baru pertama kali bertemu sosokny, dibuat terkejut dengan kondisinya yang saat itu terlihat berantakan ditambah dengan tangisan yang mengiringinya yang pada waktu itu tengah keluar sekolah dengan terburu-buru.


"Apa anak itu yang kamu maksud?" Tanya Darren pada Arsen untuk memastikan apa yang dia lihat.


"Benar, pak, dialah anak dari perempuan yang bernama Airin tadi, namanya Arkana." Jawab Arsen.


"Coba cari tau kenapa dia keluar dengan penampilan berantakan dan menangis?" Pinta Darren memberikan perintahnya pada Arsen.


"Baik, akan saya cari tau segera." Arsen pun pamit darinhadaoan Bian, dan bergerak cepat setelah mendapatkan intruksi dari Darren, sedangkan Darren memilih mengikuti arah kepergian Arka.


Sebelum akhirnya menghampiri Arka yang saat itu sedang menangis dan meringkuk sendirian ditaman, melalui sambungan telfon dari Arsen yang sebelumnya tengah mencari tau penyebab Arka keluar sekolah dengan tampilan berantakan, Darren pun akhirnya mengetahui persoalan Arka, hingga membuatnya langsung merubah rencananya yang semula hanya ingin melihat dari jauh kehidupan anak kecil yang saat itu masih ia duga anaknya, dan akhirnya memilih untuk menyapanya secara langsung dan mendekatinya.

__ADS_1


....


Dan, kini ia dihadapkan kembali seperti kejadian tempo hari, ketika melihat kembali anaknya yang sedang mendapatkan bullyan dari teman-temanya. Saat itu, ia ikut merasakan rasa sakit dalam hatinya meski identitas dari anaknya belum jelas ia ketahui dengan pasti, namun ketika ia sudah mengetahui identitas anaknya dengan jelas dan yakin, ketika menyaksikan secara langsung anaknya disakiti membuat perasaanya campur aduk dan juga pedih.


Darren pun akhirnya masuk ke sekolah anaknya dengan setelan jasnya yang rapi dan tekad yang kuat untuk bertemu pertama kalinya dengan anak kandungnya secara resmi setelah terkonfirmasi identitas aslinya.Ia bahkan rela mengabaikan panggilan dari Lucas yang memintanya untuk segera datang ke kantor karena ada meeting pagi.


"Papa.." Teriak Arka ketika melihat keberadaan Darren yang tengah berjalan ke arahnya. Meninggalkan teman-temanya yang sedari tadi terus mengganggu dan meledeknya.


Tanpa memperdulikan lainnya, Arka yang seolah telah menunggu kehadirannya, langsung berlari menuju ke arah Darren. Tangisnya langsung pecah dengan kerasnya di dalam pelukan Darren, papa kandung yang telah lama ia tunggu selama ini.


Darren menyambut dengan suka cita kehadiran anaknya yang tengah memanggil dan menghampirinya, lalu mendekapnya dengan pelukan hangat. Ekspresinya ikut merasakan rasa sakit yang dipendam oleh anaknya.


"Maafkan papa yang terlambat menemui Arka" Ucap Darren sembari memberi elusan hangat pada punggung anaknya sembari menahan rasa harunya.


Dalam pelukan Darren, Arka terus menangis seolah tengah meluapkan rasa rindunya pada papa yang telah lama ia nanti itu. Meski Darren sedikit terkejut dengan Arka yang langsung menghampiri dan memanggilnya papa, namun karena Arka yang langsung memeluknya dengan erat membuatnya tak lagi perduli dan melupakan rasa penasarannya.


Di samping itu, pemandangan antara keduanya yang tengah berpelukan tentu saja mendapat tatapan dari lainya yang tengah menatap bingung pada mereka.


"Papa kan sudah datang, apa Arka tidak mau memperlihatkan wajah Arka pada papa?" Darren mencoba membujuk Arka yang terus memeluknya dan menangis.


"Tidak mau." Jawab Arka yang tak mau melepaskan pelukanya.


"Baiklah, kalau begitu biar papa angkat tubuh anak papa ini." Darren pun tak bisa memaksa dan memilih menggendong sang anak dan membiarkan Arka yang terus merangkul tubuhnya.


....

__ADS_1


Aksinya itu mendapat tatapan dari guru, para orang tua dari teman-teman anaknya yang kebetulan hadir dan juga teman-teman anaknya. Darren yang tengah menggendong Arka pun, kini beralih menatap ke arah mereka.


"Maaf, saya tidak terlambat, kan?" Ucapnya pada seorang guru dan juga wali kelas anaknya.


"Ah, iya pak, tapi maaf, anda siapa, ya? Apa anda papa dari Arka?" Tanya bu Citra sedikit penasaran.


"Benar, perkenalkan naman saya Darren Aditya Pratama, ayah kandung dari anak yang sedang saya gendong ini." Ujar Darren yang kemudian memperkenalkan dirinya secara resmi pada guru anaknya, di depan teman dan juga para wali murid lainya.


Seketika suasana menjadi berisik dan saling pandang setelah Darren memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari Arka.


"Darren Aditya Pratama, bukankah dia cucu dari Ferdinan Pratama, yang punya perusahaan makanan itu?" Celetuk lainnya yang berasa familiar dengan nama Darren, disambut lainya yang langsung tertegun ketika mendengar nama dan identitas Darren.


"Benar, saya memang cucu dari kakek saya yang bernama Ferdinan Pratama, pendiri sekaligus pemilik perusahaan makanan dan minuman kemasan yang kebetulan sedang anda sekalian makan saat ini." Jawab Darren membenarkan.


Mendengar penjelasan daru Darren, semakin membuat suasana sekolah semakin ramai, karena tak menyangka seorang Darren memiliki anak, terlebih anaknya bersekolah ditempat yang sama dengan anak-anak mereka.


"Apa acaranya sudah dimulai?" Tanya Darren memilih bertanya acara sekolah anaknya pada bu Citra, wali kelas anaknya.


"Ah, belum pak, sebenarnya ini baru saja mau dimulai." Jawab bu Citra cepat.


"Tapi, bu guru, kenapa anak saya menangis, ya? Apa anda bisa menjelaskannya pada saya?" Tanya Darren dengan ekspresi dingin meminta penjelasan pada wali kelas anaknya.


Bu Citra sedikit tertegun mendapat pertanyaan dan juga tatapan dingin dari Darren.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hayo lho, si papa marah nih lihat anaknya dibikin nangis 😋


__ADS_2