Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
60. Langkah Darren


__ADS_3

Darren yang pingsan di dalam apartemen lamanya pun akhirnya berhasil dibawa oleh Lucas ke rumah sakit menggunakan ambulans yang telah ia panggil sebelumnya. Ekspresinya terlihat panik dan tak berhenti mencemaskan kondisi Darren yang belum tersadar dari pingsan.


"Akhirnya hal buruk pun terjadi juga." Ucapnya menghela nafas, melihat Darren yang kini harus terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Hal yang ia takutkan sebelum Darren pergi ke melbourne pun akhirnya menjadi kenyataan. Ada rasa penyesalan dari dirinya karena telah membiarkan Darren pergi, padahal ia tau betul bagaimana resiko yang akan terjadi nanti, terlebih kondisi Darren yang belum stabil sepenuhnya.


Di dalam ruangan itu pun hanya ada dirinya yang menemani Darren, mengingat keluarga dari Darren belum mengetahui soal kabar ini. Terlebih dirinya yang juga belum mau memberitahukan perihal ini pada keluarga Darren, karena terlalu beresiko bagi Darren yang sedari awal telah merahasiakan kepergiannya ke melbourne dari keluarganya.


"Gimana nanti aku melaporkan hal ini ke keluarganya, ya?"


Menatap tubuh Darren yang masih belun tersadar, membuatnya jadi teringat dengan keluarga Darren, tentang reaksi atau respon seperti apa yang nanti akan keluarga Darren berikan setelah mengetahui bahwa Darren telah datang ke melbourne dan akhirnya harus pingsan disini.


"Mungkin mereka akan marah padaku karena tidak bisa mencegah Darren pergi kesini." Ucap Lucas yang seolah tersadar dengan resiko yang akan ia hadapi jika suatu saat nanti keluarga Darren akhirnya mengetahui hal ini.


"Masalahnya sekarang, gimana caranya aku membujuk ini anak untuk pulang kalau sudah sadar, ya?" Lucas menatap Darren yang masih terpejam dan ia tau betul bahwa tak akan mudah untuk membujuk Darren pulang dari melbourne, mengingat betapa keras kepalanya dia saat akan datang kesini.


Lucas pun akhirnya memilih duduk dan melihat dengan seksama wajah Darren yang masih terpejam tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.


"Sebelum dia pingsan, dia sempat meneteskan air mata? Kira-kira hal apa yang membuatnya meneteskan air mata dan memberikan ekspresi seperti itu?"


Menatap bingung pada Darren yang masih belum sadar, Lucas cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada Darren tadi, karena ia terlihat masih tak percaya pada hal yang baru pertama kali ia lihat dalam ekpsresi seorang Darren.


"Apa dia mengingat sesuatu, ya?" Di tatapnya lagi wajah Darren dengan penuh rasa penasaran.


"Jangan tatap wajahku begitu, jijik tau.." Darren yang terbangun dari pingsan, menatap ilfeel pada Lucas yang sedang mengamati wajahnya.


"Wah, mengagetkan saja." Lucas tampak tekejut melihat Darren membuka matanya.


"Beneran bangun nih. Tapi, sejak kapan lu sadar?" Ucap Lucas menatap curiga.

__ADS_1


"Sejak lu memandangi wajahku dengan tatapan menjijikan itu." Jawab Darren berusaha untuk bangun dari tidurnya.


"Dasar ini anak, mulutnya tajam amat. Tapi, kalau mendengar umpatan darimu begini sih, berarti kondisimu sudah baik-baik saja." Lucas berdecak, namun ekspresinya merasa lega melihat Darren yang sudah mulai sadar.


"Kenapa aku bisa ada disini?" Darren yang sudah duduk, mulai menyadari keberadaanya di rumah sakit.


"Masih tanya? Lu tadi, kan, habis pingsan? Makanya aku membawamu kesini. Nggak ingat?" Jawab Lucas.


Darren pun terdiam, ia tiba-tiba kembali teringat saat tadi masih berada di dalam apartemen lamanya. Tersadar akan hal yang telah membuatnya terkejut sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri, membuatnya terfikirkan sesuatu.


"Cari tiket sana, kita harus pulang ke jakarta secepatnya." Ujar Darren memberi perintahnya pada Lucas.


"Hah, seriusan? Ku pikir lu bakal memaksa untuk tetap disini?" Lucas terlihat tak percaya dengan apa yang dia dengar, padahal sebelumnya dia masih memikirkan cara yang tepat untuk membujuk Darren pulang.


"Awalnya memang begitu, tapi aku harus pulang secepatnya, karena ada hal yang ingin aku pastikan soal ini padanya?" Ujar Darren dengan ekspresi wajahnya yang seolah ingin memangsa.


"Pada siapa yang lu maksud?" Tanya Lucas yang sedikit bingung.


"Yaelah, iya ini lagi ku cari." Lucas pasrah dan akhirnya menuruti keinginan Darren.


....


Darren yang sudah tersadar memilih untuk keluar rumah sakit segera setelah berhasil mencopot alat yang terpasang ditangannya.


"Yakin mau keluar sekarang? Tadi lu pingsan gitu?" Lucas agaknya ingin menahan Darren untuk tak buru-buru keluar dari rumah sakit.


"Aku sudah sehat, mau apa lagi aku disini?" Darren tetap tak mau berlama-lama untuk tinggal di dalam rumah sakit.


"Terserah deh." Lucas pun kembali pasrah. "Oh iya, soal tiket kepulangan kita, adanya 2 jam dari sekarang, gimana?" Lanjutnya memberitahukan soal jadwal kepulangan pada Darren.

__ADS_1


"Apa tidak ada yang lebih cepat lagi? Terlalu lama 2 jam itu. Coba cari lagi deh, yang mahal juga gapapa, pokonya aku harus segera pulang sekarang juga." Ujar Darren yang terlihat tidak puas dan segera meminta Lucas mencarikan jadwal keberangkatan yang lebih cepat.


"Tidak ada, jadwalnya sudah penuh semua. Lagian kenapa buru-buru sekali, sih? Waktu juya nggak akan terasa kalau kita menunggunya sebentar saja, hanya dua jam lho ini, dan ini juga yang paling cepat dari semua jadwal." Lucas yang tak mengerti dengan sifat buru-buru dari Darren mencoba untuk memberi penjelasan dan membujuknya.


"Karena ini penting buatku." Darren menjawabnya dengan wajah serius. "Karena itu, cari yang lebih cepat dari itu." Ujarnya lagi pada Lucas yang tetap kekeh meminta untuk pulang lebih cepat.


Sejenak Lucas merasa tertegun, karena terlalu terkejut dengan sikap kekeh dari Darren.


"Dasar, nggak sabaran banget, sih." Gerutunya kesal, namun tetao mencoba mencari jadwal penerbangan yang lebih cepat.


"Padahal baru juga terbangun dari pingsanya, kenapa malah terburu-buru begini, sih?" Terus menggerutu, Lucas masih tak mengerti dengan jalan pikiran Darren yang tak bisa ditebaknya itu.


"Dia sudah memaksa pergi, sekarang memaksa untuk pulang juga. Duh, sumpah ya ini melelahkan banget." Keluhnya pada sikap Darren yang terus berubah-ubah dan membuatnya kesal itu.


"Woy, berhenti menggerutu disana, cepat carikan tiket dan jadwal yang lebih cepat."


Darren yang menyadari Lucas tak ada dibelakangnya, akhirnya memberhentikan langkahnya dan menoleh ke arah Darren yang masih terus menggerutu kesal.


"Duh, iya iya, ini masih dicari. Lihat nih, ada yang lebih cepat, 30 menit dari sekarang, tapi harganya jau lebih mahal, wah buset mahal juga." Lucas yang memberitahukan soal ini pada Darren justru terkejut ketika melihat harga tiket pesawatnya.


"Bagus, cepat ambil yang ini saja." Darren yang melihatnya terlihat tak memperdulikan harganya.


"Wah, gila ini anak, seriusan lu?" Lucas menatap Darren tak percaya.


"Cepat kita ke bandara." Tak menggubris protes Lucas, Darren meminta untuk segera di antarkan ke bandara.


"Astaga, kita bahkan belum check out dari hotel. Kan sudah kubilang 2 jam itu yang sudah pas, dan lu juga lagi nggak bawa paspor milikmu."


Darren pun memejamkan matanya, seolah menyadari kesalahannya.

__ADS_1


"Sudahlah, kita balik ke hotel dulu buat check out, dan ambil barang-barang sekaligus paspornya, aku sudah terlanjur memesankan yang 2 jam." Ujar Lucas.


Darren yang sedari tadi terus keras kepala pada pendirianya yang ingin pulang lebih cepat, akhirnya tak bisa mengelak dan menuruti Lucas untuk kembali ke hotel.


__ADS_2