
Saat harapan itu akhirnya musnah, Airin hanya bisa melepaskannya, karena perasaan yang sedang terluka sedikit sulit bagi dirinya untuk menerima. Meski harapan agar dia kembali selalu ada dalam pikirannya, namun kenyataan yang menyakiti hatinya membuatnya jadi tersadar dan tak lagi mengharapkan apapun lagi, karena takut akan lebih terluka lagi.
Ingatan yang masih membekas dan kenyataan pahit yang masih kerasa di dada, membuat Airin terus memikirkan pertemuannya bersama Darren di rumah sakit. Sesakit itu perasaanya pada Darren, hingga terus memikirkan sikapnya yang ternyata benar-benar tidak mengingat dirinya.
"Padahal aku berharap itu hanyalah sebuah bohongan."
Pertemuannya beberapa kali bersama Darren setelah berpisah lama, terlalu membuatnya terkejut hingga tidak tau harus bagaimana saat dihadapkan lagi pada sosoknya yang ada di depan matanya, dan hingga akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah terus menangis dengan memendam perasaan marah dan rasa terlukanya.
"Meski sudah beberapa kali kita bertemu, ternyata dia masih tidak bisa mengingatku. Bukankah itu artinya dia benar-benar sudah melupakanku?."
Airin menahan rasa sakit dalam hatinya ketika mengingat kenyataan pahit yang diberikan oleh Darren untuknya. Orang yang dulu begitu ia percaya bahkan ia jadikan sandaran saat berada di negara orang dan saat ia jauh dari keluarganya, kini justru menjadi orang yang memberikan luka paling dalam padanya.
"Apa aku terlalu menaruh harapan tinggi padanya?" Ucapnya yang sangat kecewa pada Darren, hingga tanpa sadar kembali meneteskan air matanya.
"Haruskah aku melupakannya?.."
....
Di samping itu, Darren yang terus memikirkan pertemuannya bersama Airin di rumah sakit, terlihat tak bisa diam karena begitu penasaran. Sepulangnya dari rumah sakit, ia tak bisa mengalihkan ingatanya pada Airin yang terus saja mengganggu pikirannya.
"Siapa dia? Ah.."
Kepalanya kembali meraskan sakit saat berusaha mengingat soal Airin. Memori ingatan yang ia lupakan perlahan muncul kembali, meski hanya samar-samar yang muncul dan skelibatan saja dalam bayangannya.
"Ingatan itu lagi.." Darren menyadari satu hal saat kembali merasakan sakit pada kepalanya.
"Apa dia ada hubungannya dengan ingatan yang kulupakan?"
Setelah kepalanya yang sakit mulai sedikit reda, dengan segera ia mengambil ponsel miliknya yang kebetulan berada dekat dengannya, lalu mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan telfon sambil memasang ekspresi wajah yang terlihat serius dengan memberikan arahan pada orang yang ia telfon saat ini.
"Dia menyuruhku untuk mencari tau sendiri, kan? Maka akan ku lakukan seperti apa yang dia inginkan." Tuturnya begitu menyelesaikan panggilan.
Darren yang mulai sedikit tenang mencoba mengambil minuman dan meneguknya perlahan. Bayangan Airin terus mengikutinya kemanapun ia pergi, hingga membuatnya tak bisa melupakan wajah dan ekspresi yang dibuat oleh Airin padanya.
__ADS_1
"Lagi-lagi dia menangis saat melihatku." Ucapnya ketika mengingat pertemuannya beberapa kali bersama Airin.
"Ah, sudahlah, kali ini aku mau menyerahkan masalah ini pada Arsen dulu." Tutupnya mengakhiri kegundahan dirinya pada sosok Airin.
Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar dan melupakan sejenak yang menggangu pikirannya dengan melimpahkan hal yang menganggunya pada bawahanya untuk menyelidiki hal yang membuatnya begitu penasaran.
....
"Mama." Panggil Arka pada Airin yang berada dikamar.
Mendengar suara anaknya yang masuk kedalam kamar, air mata yang sempat turun membasahi pipinya, dengan segera Airin mengusapnya dan kemudian berbalik menatap ke arah anaknya.
"Oh, Arka. Ada apa sayang?" Ucapnya menatap wajah anaknya yang menghampiri dirinya.
"Mama beneran lagi sakit, ya?" Arka yang kini duduk dipangkuan Airin, terlihat menghawatrikan kondisi Airin.
"Enggak kok, mama sekarang sudah baik-baik saja. Kenapa? Apa Arka khawatir sama mama?"
Arka mengangguk kecil dengan ekspresinya yang polos dan jujur.
"Enggak kok, cuma..."
"Cuma Apa? Kecewa sama mama?" Airin menatap wajah anaknya dengan penasaran karena kalimatnya yang tertunda.
"Hehehe nggak kok, cuma khawatir sama mama." Senyum Arka kemudian.
Airin merasa terharu pada sikap sang anak, dan membalasnya dengan senyuman lembutnya, sembari memeluk tubuh sang anak.
"Gimana sekolahnya tadi? Apa Arka menikmatinya?"
Tiba-tiba Arka menunduk diam dan ekspresinya berubah murung.
"Kenapa sayang, apa ada sesuatu disekolah? Ada yang mengganggu Arka?" Tanya Airin pada Arka yang tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Arka, jawab mama. Ada apa sayang?" Tanya Airin sekali lagi, pada Arka yang masih diam.
Namun, Arka masih diam dan menunduk. Airin terlihat khawatir ketika melihat ekspresi anaknya.
"Arka, coba lihat mama, bicara sama mama apa yang terjadi, mama janji tidak akan marah kok sama Arka, jadi Arka bisa bicara sekarang." Dengan sedikit berjongkok, Airin mencoba membuat anaknya menatap matanya.
"Tapi.. nanti mama jadi sedih." Arka yang menunduk menatap ragu pada Airin.
Airin menatap bingung wajah anaknya yang saat ini sedang memberikan ekspresi enggan, seolah tak ingin mengatakannya karena tak ingin melihatnya sedih jika nanti mendengarnya.
"Mama sedih? Kenapa Arka bisa yakin soal itu? Memangnya apa sih yang membuat mama jadi sedih itu?"
"Arka mau tidur saja." Arka berjalan menghampiri ranjang tempat tidurnya dan kemudian membaringkan tubuhnya. Ia menolak menjawab pertanyaan dari Airin, hingga membuat Airin merasa bingung sendiri pada sikap sang anak yang tak seperti biasanya.
"Ada apa ya? Kenapa Arka bisa sampai bersikap seperti ini?"
Airin menatap punggung anaknya yang lagi membelakanginya itu. Ekspresinya terus bertanya pada apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sang anak.
"Sepertinya aku harus tanya sama Dava dulu"
Airin memilih menghargai sikap sang anak dan tak lagi memaksanya untuk mengatakan alasannya. Ia mengahmpiri tubuh anaknya yang kini sudah berbaring ditempat tidur, lalu memeluknya dengan hangat.
"Mama tidak akan memaksa lagi, mama akan tunggu sampai Arka bisa mengatakannya sama mama, jadi pelan-pelan saja." Ujar Airin sembari memeluk tubuh anaknya dan menepuknya pelan pada punggungnya yang mungil itu. Arka yang masih belum tidur berbalik menhadap ke arah Airin dan memeluk tubuhnya sembari mendusel padanya.
Airin tersenyum dengan sikap anaknya yang tiba-tiba mendusel pada tubuhnya Eskpresinya mencoba tenang dalam menghadapi sikap anaknya yang sedikit diluar perilakunya yang seperti biasanya.
Apa karena ini ya, hatiku selalu merasa tak nyaman selama di rumah sakit tadi.
Airin teringat kembali pada perasaanya yang selalu tidak nyaman selama di rumah sakit, hingga terus memikirkan keberadaan dan kondisi sang anak selama di rumah sakit.
"Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi." Ucapnya yang berharap tidak ada hal yang serius menimpa sang anak.
Melihat kembali pada tubuh anaknya yang kini sudah tertidur lelap, menatapnya khawatir dan sedikit merasa sedih karena anaknya yang tak ingin bercerita padanya tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
"Apa ya yang membuatku sedih?" Airin mengingat kembali perkataan Arka yang tak ingin bercerita karena takut dirinya sedih.