
Lucas membopong Darren keluar dari supermarket. Kondisi Darren yang terlihat tak baik-baik saja membuat Lucas memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Gimana? Apa masih sakit?" Tanya Lucas ketika Darren sudah diperiksa oleh dokter.
"Sudah agak mendingan." Jawab Darren yang terlihat masih agak pucat.
"Gimana sekarang? Mau balik ke kantor atau ke apartment?"
"Kita balik ke kantor sajalah, toh kondisiku sudah agak mendingan."
Darren mencoba bangkit dari tidurnya, setelah berbaring sebentar karena kondisinya yang lemah.
"Seriusan nih, mukamu masih terkihat pucat gitu?"
"Sudahlah, kita berangkat saja, aku bener-bener benci bau rumah sakit." Keluh Darren yang segera ingin pergi dari rumah sakit.
"Ini bukan yang pertama kalinya, kan?" Lucas agaknya menyadari sesuatu tentang kondisi Darren yang hari ini terlihat tidak baik.
"Apannya?" Tanya Darren balik.
"Ya tentang kondisi lu yang sekarang."
Darren diam, ekspresinya seolah mengisyaratkan tak ingin membahas soal kesehatannya.
"Kalau begini caranya, gimana bisa gue memberikanmu izin buat dateng ke melbourne nanti, coba?"
Agaknya Lucas sedikit khawatir dengan kondisi Darren yang hari ini cukup buruk, terlebih bukan hanya kepalanya saja yang merasakan sakit.
"Kan gue perginya sama elu." Ucap Darren dengan tenang.
"Nyebelin, padahal gue serius nanya." Kesal Lucas.
"Sudahlah, kita keluar dulu dari sini, kita bahas itu lain kali aja." Cuek Darren yang melangkah terlebih dahulu.
...
Rasa sakit yang datang padanya tanpa permisi, telah memberikan rasa sakit yang begitu menyulitkan bagi Darren. Rasa sakit yang datang tanpa tau waktu itu, terkadang membuat Darren merasa kesulitan sendiri. Terlebih, serpihan kecil tentang ingatan dirinya saat kecelakaan selalu muncul setiap kali ia merasakan rasa sakit pada kepala dan dadanya.
Ada wajah yang tak ia kenal setiap kali rasa sakit itu menyerang dirinya. Entah wajah orang yang membuatnya kecelakaan atau justru wajah orang yang sempat mengejarnya. Wajahnya hanya sekelibat ia lihat, dan masih terlihat samar-samar.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus menyelidiki soal kecelakaanku itu, deh." Ucapnya dengan memasang wajah serius.
"Kenapa tiba-tiba jadi bahas soal itu? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Lucas yang mendengarnya dari samping, ikut menimpali soal perkataan yang dilontarkan oleh Darren.
"Hanya merasa aneh aja, dan aku masih penasaran soal kejadian itu juga." Balas Darren merasa tertarik dengan kecelakaanya dulu.
"Jangan menggali terlalu jauh, kesehatanmu yang jauh lebih penting disini. Lagi pula penyelidikanya kan sudah selesai dilakukan."
"Aku tau, tapi aku masih belum puas soal itu."
"Jadi, apa yang mau lu tau? Soal ingatanmu yang hilang atau soal kejadian waktu kecelakaanmu?"
"Hmm.., entahlah." Darren memejamkan matanya sejenak di dalam mobil dan tiba-tiba menjadi tidak bersemangat untuk membahasnya.
Seketika suasana antara Darren dan Lucas menjadi dingin, karena tak adanya pembicaraan di antara keduanya. Darren yang tengah merenung menatap ke arah kaca jendela dan Lucas yang tetap fokus pada menyetir mobil.
"Eh, lu ingat soal anak kecil yang kita lihat di supermarket tadi, gak?" Ucap Lucas yang tiba-tiba teringat sesuatu dan mengajak Darren untuk bicara.
"Enggak, kenapa?" Balas Darren tak bersemangat.
"Duh, anak yang juga kita lihat waktu ketemu sama Laura itu, lho." Lucas mencoba Darren untuk mengingatnya kembali soal anak yang sempat mereka lihat tadi.
Ingatan Darren tiba-tiba teringat soal perempuan yang sedang bersama anak itu, dan Airin, adalah orang yang dimaksud oleh Darren. Seketika saja membuatnya sedikit bersemangat karena akhirnya bisa mengenali sosok perempuan yang pernah ia jumpai itu.
"Sekarang aku ingat, dia perempuan yang pernah kita lihat di hari pernikahan Silvia." Ucap Darren yang tiba-tiba teringat akan Airin.
"Hah! Siapa yang lu maksud?" Bingung Lucas pada ucapan Darren yang tiba-tiba.
"Perempuan yang bersama anak itu."
"Kenapa jadi fokusnya ke perempuan itu, kan gue tadi lagi bahas soal anak kecilnya?" Lucas sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa bingung dengan sikap Darren.
"Saat di supermarket tadi, aku pernah bilang kalau pernah ketemu sama dia, kan? Nah, dia perempuan yang pernah kita temui di pesta itu." Jelas Darren.
"Perempuan yang di pesta?" Lucas masih mencoba mengingat kembali identitas perempuan yang dimaksud oleh Darren.
"Perempuan yang menangis saat melihatku." Darren mencoba memberikan clue pada Lucas soal identitas perempuan yang bersama anak kecil yang mereka lihat tadi.
"Wow, gue ingat sekarang. Jadi dia perempuan itu, pantas saja wajahnya gak asing." Balas Lucas yang sekarang teringat soal Airin yang mereka lihat tadi.
__ADS_1
"Benar, dia adalah perempuan pertama yang menangis saat melihatku. Dan tadi, dia memberikan tatapan yang penuh amarah dan dingin padaku." Ujar Darren ketika mengingat kembali ekspresi Airin padanya.
"Serius? Wah, gue nggak merhatiin lagi. Soalnya pandanganku saat itu terfokus pada keributan yang dilakukan Laura." Sesal Lucas.
"Tapi, kenapa dia memberikan tatapan seperti itu padamu? Apa lu punya salah sama dia?" Tanya Lucas yang tiba-tiba merasa aneh akan itu.
"Itu juga yang ingin aku tau. Reaksinya ketika melihatku selalu berubah, saat itu dia menangis, sekarang justru seperti terlihat menahan marah padaku. Padahal, aku gak merasa aku berbuat salah padanya?"
Darren juga merasa aneh akan itu, dan tak menemukan jawaban dari rasa bingungnya.
"Dia ada dendam sama lu, kali?"
"Dendam? untuk apa? Ini kan baru kali kedua kita bertemu."
Deg.., tiba-tiba saja perasaan Darren menjadi aneh begitu membahas soal Airin. Dadanya tiba-tiba saja berdetak tak karuan karena memikirkan itu.
"Kenapa aku begini lagi?" Batinya merasa aneh pada dirinya sendiri dan tiba-tiba merasakan sakit pada dadanya lagi.
Sekelibatan ingatan kecilnya bersama seorang perempuan samar-samar terlihat jelas dalam ingatannya. Pecahan-pecahan potongan tentang perempuan yang selalu muncul dalam fikiranya kembali menghampiri dirinya dan semakin terasa jelas dalam bayanganya.
"Kenapa? Apa kepalamu sakit lagi?" Lucas yang menoleh ke arah Darren sedikit terkejut ketika melihatnya yang sedang memegangi kepalanya.
"Cas, aku tiba-tiba teringat soal apartmentku yang di melbourne dulu." Ucap Darren yang tiba-tiba menatap ke arah Lucas disampingnya.
"Kenapa dengan apartmentmu?" Lucas yang kini memilih untuk menepihkan mobilnya karena melihat ekspresi Darren yang kembali merasakan kesakitan terlihat kebingungan dengan maksud Darren.
"Dengan begitu, aku akan tau soal perempuan yang selalu muncul dalam otakku ini."
"Perempuan yang mana lagi?"
"Perempuan yang selalu muncul difikiranku."
Lucas terlihat menghela nafas sejenak, karena semua terasa membingungkan bagi dirinya.
"Sumpah ya, permasalahnmu banyak banget. Satu-satu dong, gue kan jadi bingung. Tadi bahas apa, sekarang jadi bahas apa!" Kesal Lucas yang hari ini merasa jadi lebih lelah.
"Terus, lu mau protes sekarang? Kan disini cuma ada lu, jadi gue cuma bisa cerita ke elu, lha." Cuek Darren yang kini sudah merasa lebih baik keadaanya.
"Sialan, bodo amat lha. Kita ke kantor sajalah." Lucas menghidupkan kembali mobilnya dan memilih mengacuhkan ucapan Darren.
__ADS_1