
Dengan langkah pelan, Lucas mencoba naik ke atas kamar milik Darren.
"Dia masih lama gak, ya mandinya? Duh, ini badan sudah mulai gerah lagi!" Keluhnya begitu sampai di dalam kamar.
Namun, karena merasa sangat lelah, ia justru membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik Darren, sembari menunggu Darren selesai mandi.
"Ngapain ya aku disini?" Ucpanya yang sudah mulai agak bosan.
Menatap lurus pada langit-langit kamar di atasnya, Lucas termenung dalam keheningan malam. Di dalam kamar yang luas, dengan hanya seorang dirinya yang tengah berbaring di atas ranjang, menambah kesunyian suasana disekelilingnya. Meski sayup-sayup terdengar rintikan suara yang mengalir dari arah kamar mandi, namun keheningan masih menyelimuti dirinya yang tengah melamun sendiri.
"Ngapain disitu?" Darren yang keluar dari arah kamar mandi membuyarkan lamunannya.
"Lagi meratapi kehidupan." Balas Lucas masih dengan posisi berbaring, sambil menatap Darren yang habis keluar dari arah kamar mandi.
Tentu saja Darren menatap jijik pada Lucas, ucapanya itu membuat dirinya bergidik ngeri karena ilfeel.
"Geli banget, sih. Mandi sana." Pintanya yang mencoba membuat Lucas pergi dari pandangannya.
"Ku sudah tak kuat lagi menahan tubuh yang lelah ini."
Darren menahan rasa kesalnya begitu mendengar perkataan Lucas yang terdengar begitu cringe ditelinganya.
"Sial, pergi sana. Atau ku usir nih?" Darren melempar handuk yang sedang ia pegang pada muka Lucas dengan wajah kesalnya.
"Ups, gak kena." Lucas menghindar begitu handuk yang dilempar oleh Darren mengarah padanya. Dengan memasang wajah tak merasa bersalah, ia mulai memungut handuk yang dilempar oleh Darren dan bangkit dari tidurnya untuk menuju ke kamar mandi.
"Saya mandi dulu ya, tuan." Ucapnya dengan nada meledek pada Darren yang masih menatap dirinya dengan ekspresi kesal.
Lucas masuk begitu saja ke kamar mandi ketika Darren mencoba mendekatinya dengan mimik wajahnya yang menahan kesal.
"Sial, harusnya gak aku kasih izin aja dia tinggal disini." Kesal Darren melihat tingkah Lucas, yang juga sahabatnya itu.
Hanya helaan nafas panjangnya yang mampu menjadi pengobat dirinya dalam mengatasi rasa kesalnya pada sang sahabat karibnya itu.
"Belum juga sehari, tapi sudah nyusahin aja." Darren agaknya tak bisa melepaskan begitu saja seorang Lucas. Rasa kesalnya terlihat masih ada dalam sudut hatinya, meski Lucas sudah masuk kedalam kamar mandi.
...
Ia memilih turun ke arah dapur, untuk meredakan sejanak rasa kesal dan lelahnya dengan meminum air dingin dari dalam kulkas miliknya.
"Ngapain ya sekarang?"
Dilihatnya waktu yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Darren pun memilih berjalan ke arah sofa, dan sejenak merebahkan tubuhnya disana.
__ADS_1
"Capek juga ternyata." Keluhnya yang sedikit merasakan rasa lelah.
Ia termenung, dan tak berekspresi sedikitpun. Mencoba memejamkam matanya sejenak untuk menenangkan dirinya yang sedang kehabisan tenaga.
"Woi." Panggil Lucas pada Darren yang tengah memejamkan matanya.
Tiba-tiba saja Darren membuka matanya dnegan cepat dengan ekspresinya yang seolah terkaget akan sesuatu.
"Kenapa? Kalau capek tidur sana di kasur." Ucap Lucas begitu Darren membuka matanya.
"Sial, kenapa muncul lagi." Umpat Darren kesal dan mulaibamgkit dari berbaringnya.
"Apanya yang muncul lagi?" Lucas yang tengah duduk di sofa sampingnya, merasa penasaran.
"Ngapain lu disini?" Darren tak menjawab pertanyaan Lucas, dan justru beralih bertanya padanya.
"Wah ini anak lagi ngelindur ya? Kan aku bilang mau menginap disini!" Ucap Lucas dengan nada kesal.
"Lu nanti tidur disini, jadi ambil sana bantal dan selimutnya dikamarku."
"Yaelah, kenapa gak tidur bareng aja, sih?"
"Enak aja kalau ngomong, ogah ya gue tidur sama elu." Tolak Darren dengan cepat.
"Sialan, emang lu pikir gue mau apa?" Balas Lucas dengan menggerutu kesal.
"Ok, baik tuan. Saya tidak akan membantah anda lagi."Lucas yang sedikit menahan kesal, merubah nada bicaranya menjadi lebih lembut dihadapn Darren yang ingin mengusirnya.
Pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi antar keduanya adalah hal yang biasa bagi Darren maupun Lucas itu sendiri. Meski terkadang saling melempar umpatan dan ekspresi kesal, namun hubungan pertemanan antara keduanya masih awet hingga sekarang.
"Oh iya, lu masih ingat soal kita yang ketemu sama klien tadi, kan?" Ucap Darren.
"Ingat, kenapa?"
"Ingat nggak, dalam obrolanku denganya tadi, membahas banyak hal, termasuk soal berita pernikahanku yang sempat beredar?"
"Iya, kan aku ada disitu. Terus kenapa memangnya? Apa ada hal yang mengganggumu pada obrolan tadi?"
"Tentu saja ada, dan yang menggangguku itu pasti soal berita pernikahan yang sudah kusangkal itu." Jelas Darren sedikit memasang wajah tak nyaman.
"Apa sebaiknya aku perlu melakukan konferensi pers ya? Biar beritanya tidak semakin liar begini?" Ucapnya lagi.
"Konferensi pers? Apa itu perlu? Sudahlah, toh beritanya juga sudah hilang. Lagian, nanti lu bisa jadi pusat perhatian setelah melakukanya, emang lu mau kaya gitu? Di datengin banyak pers gitu?"
__ADS_1
Darren terdiam, ia memikirkan perkataan Lucas yang terlihat masuk akal baginya itu. Mengingat dirinya benci menjadi lusat perhatian.
"Bener juga, kalau gitu emang gak usah aja." Darren tak lagi mendebat dan menyetujui perkataan Lucas.
"Nah, itu baru bener. Lagian kenapa sampai mikir gitu segala, coba?" Lucas terlihat puas melihat Darren yang tak mencoba bersikeras melakukan konferensi pers.
"Yaudah, aku mau tidur aja kalau begitu." Ucap Darren yang memilh pergi ke kamarnya.
"Aku ikut." Lucas ngikut dibelakang Darren yang hendak menuju kamarnya.
"Ngapain ngikut? Kan sudah ku bilang lu tidur di sofa dan gue yang tidur dikamar" Darren menatap dingin Lucas yang mengikuti dirinya.
"Saya kan harus ambil bantal dan selimut dong, tuan Darren."
Darren tak membantah atau mencoba mendebat lagi, dan memilih membiarkan Lucas mengikuti dirinya menuju kamar.
...
"Yasudah sana, katanya cuma mau ambil banyal sama selimut?" Usir Darren pada Lucas yang sudah masuk kedalam kamar.
"Ini kan baru mau ambil, sabar dikit dong." Gerutu Lucas.
"Jangan lupa matikan lampunya saat mau pergi." Pinta Darren.
"Baik tuan, eh.. ini..apa.., kok lucu banget." Lucas yang hendak pergi, mendadak berhenti begitu melihat foto masa kecil milik Darren yang terpajang disamping ranjangnya.
"Duh, ini anak. Letakan balik figuranya."
"Nggak mau ah, habis ini lucu banget." Gemas Lucas ketika melihat foto masa kecil Darren yang tengah berdiri disamping mamanya.
"Eh, kok gue baru tau soal foto ini, ya? Perasaan dulu gak ada deh?" Lucas menatap bingung pada foto yang ia pegang, karena merasa belum melihat foto itu sebelumnya di kamar milik Darren yang biasa ia datangi.
Darren yang kesal mencoba mengambil paksa foto yang tengah dipegang oleh Lucas.
"Gak usah kepo, mending sana pergi tidur." Usir Darren.
"Tapi, tunggu deh. Kenapa aku merasa familiar sama wajah itu, ya? Kek pernah lihat dimana gitu?"
"Lu lagi bercanda, ya?" Darren menatap Lucas dengan raut wajah tak percaya, mengingat mereka yang sudah berteman sejak kecil.
"Aku lagi serius tau. Saat melihat foto masa kecilmu itu, entah mengapa aku jadi teringat akan sesuatu, tapi aku lupa soal apa itu?" Ucap Lucas mencoba mengingat-ingat kembali sesuatu yang telah ia lupakan.
"Eh, apa lu punya kembaran sebelumnya?" Lucas yang masih penasaran, kembali mengajak Darren bicara dengan wajag seriusnya.
__ADS_1
"Makin ngawur aja ini anak." Darren menatap kesal wajah Lucas.
"Wah, sekarang gue inget, anak kecil yang kita lihat tadi." Seru Lucas ketika mengingat sesuatu.