Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
80. Langkah Awal


__ADS_3

Pagi telah menyambut hari yang indah, membangunkan kembali insan manusia yang tengah tertidur lelap. Tak terlepas oleh Darren yang ingin menyambut pagi dengan harapan baru yang lebih baik dari kemarin.


Setelah berkutat pada persoalan yang membuatnya dilema sejak semalam, hingga membuatnya terjaga sampai dini hari, namun pagi yang menyambutnya cerah, dengan tekadnya yang kuat setelah terus memikirkan jawaban dari persoalannya, saat ini ia ingin terbangun dari tidurnya bersama dengan harapan-harapan baru dari rasa keinginannya.


Harapan pada hubunganya bersama anaknya yang sejak awal tak pernah ia ketahui keberadaanya, juga pada kelanjutan hubunganya bersama Airin kedepannya.


"Aku harus memastikan dulu bagaimana perasaanku padanya, dengan begitu aku akan yakin pada keputusanku nanti."


Darren masih tak tau perasaan apa yang ia rasakan pada Airin saat ini, meski ada keinginan untuk membuat Airin berada di sisinya kembali, namun ia juga tak yakin akan membawa ke arah mana hubungannya bersama ibu dari anaknya itu. Karena ingatanya belum pulih sepenuhnya, hati dan perasaanya masih terasa mengganjal untuk mengekspresikanya, hingga membuatnya terus bertanya pada perasaanya sendiri.


Meski ia tau ada hubungan di masa lalu bersama Airin, tak menampik jika jarak yang sempat memisahkannya bersama Airin membuatnya cukup tak yakin pada perasaanya sendiri seperti apa. Apakah ini karena rasa penasaran darinya, rasa keingintahuannya, rasa ketertarikan belaka darinya, ataukah perasaan cinta yang sesungguhnya. Hal itulah yang ingin Darren pastikan dengan keyakinan pasti.


"Tapi, aku juga tidak ingin melepaskannya begitu saja." Ujarnya yang juga enggan melepaskan Airin, meski masih ada keraguan dalam hati dan perasaanya.


Rasa keingintahuanya pada Airin begitu besar, bahkan rasa ingin memilikinya pun juga tak kalah besarnya, terlebih setelah memastikan kedekatan Airin bersama seorang laki-laki dengan akrabnya, jiwa tekadnya membara dan tak ingin melepaskan Airin begitu saja.


Darren terlihat begitu terusik dengan kehadiran Rendi yang datang kerumah Airin kemarin malam, hingga membuatnya terus kepikiran pada sosoknya yang terlihat begitu akrab dan dekat dengan keluarga Airin, tak terlepas kedekatannya pada sang anak.


.....


"Mulai hari ini setiap kali ada masalah, Arka tidak boleh menyembunyikan sama mama, mengerti, kan?" Ucap Airin pada Arka yang sedang ia pakaikan baju.


"Iya, Ma." Jawab Arka dengan anggukan kecilnya.


"Pintarnya anak mama." Airin mengelus lembut pipi anaknya. "Sekarang anak mama sudah ganteng, ayo kita sarapan bersama." Ajaknya kemudian setelah menggantikan baju dan menyisir rambutnya.


"Iya." Senyum Arka yang kemudian ikut bersama Airin.


Sekarang keduanya tengah berjalan menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Begitu sampai, semua terlihat sudah berkumpul di ruang meja makan. Bi Rahma, pamanya Bilal dan juga adik sepupunya Dava sudah bersiap untuk mengambil makanan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Wah, Arka sudah bangun ternyata dan sudah ganteng begini, mau sarapan, ya?" Ujar bi Rahma menyapa Arka.


"Iya, Arka mau makan." Jawab Arka yang sudah duduk di atas kursi dibantu oleh Airin.


"Lho, itu kan baju yang dibelikan sama Rendi kemarin malam, ya?" Ucap bi Rahma mengomentari baju yang dipakai oleh Arka sekarang.


"Iya, bi. Aku sengaja memakaikan, soalnya Arka terlihat begitu menyukai baju pemberian kak Rendi." Jawab Airin.


"Baguslah, anakmu sudah kembali ceria sekarang, sudah lebih baik lha dari kemarin. Bibi jadi senang melihatnya." Ujar bi Rahma merasa lega melihat Arka yang kembali ceria.


"Iya, bi, Airin juga merasa lega. Sempat takut karena tidak biasanya Arka begini." Balas Airin yang ikut merasa senang melihat anaknya kembali ceria seperti biasanya, sembari menatap wajah anaknya yang tengah sibuk makan.


"Arka, nanti ayo main sama om Dava. Gimana kalau kita main ditaman?" Ucap Dava mengajak Arka.


"Mau, boleh kan, ma?" Arka terlihat mau, namun sebelumnya ia meminta izin terlebih dahulu pada Airin yang duduk tepat disampingnya.


"Boleh kok, asal Arka tidak nakal dan nurut sama om Dava." Balas Airin mengizinkan.


Melihat ekspresi wajahnya yang gembira membuat lainya ikut tersenyum melihatnya, seperti ikut merasakan kebahagian yang sama. Terasa begitu damai dan tenang melihat keakraban Airin dan keluarganya.


....


Di tempat yang berbeda, Darren yang kembali ke kantor seperti biasanya, dibuat terkejut dengan fakta mengenai kedekatan Airin dan Rendi yang merupakan teman satu sekolah yang sama.


"Jadi, keduanya pernah sekolah ditempat yang sama?" Ucap Darren bertanya pada Arsen yang membawakan laporan tentang Rendi yang ia minta sebelumnya.


"Benar, namun keduanya baru bertemu kembali setelah bu Airin pindah ketempat tinggal yang beliau tempati saat ini bersama keluarganya." Jelas Arsen.


"Artinya mereka baru dekat kembali setelah Airin pindah kerumahnya yang sekarang, kan?"

__ADS_1


"Iya, pak." Jawab Rendi.


Darren diam mendengarkan penjelasan Arsen. Ia terus mendengarkan Arsen yang kembali menjelaskan tentang status Rendi yang merupakan seorang dokter dan seputar Airin yang juga mengenal baik keluarga Rendi.


"Jadi, mereka sudah saling mengunjungi rumah masing-masing?"


Fakta itu tentu saja semakin membuat Darren terusik. Membuatnya semakin tak nyaman dan juga merasa kesal tanpa sadar.


"Antar aku ke toko bunga, ah.. tidak jadi, tolong pesankan saja aku satu bunga pada toko bunga Airin's Garden. Pastikan pemiliknya sendiri yang mengantarkan ke kantorku." Pinta Darren pada Arsen.


"Baik." Meski sedikit terkejut dengan perintah Darren, namun Arsen tetap ingin menjalankan perintah dari Darren. Ia pun hendak pamit pergi dari hadapan Darren.


"Tunggu.." Cegahnya pada Arsen yang hendak pergi.


Arsen yang hendak melangkah pergi, kembali menghadap Darren dengan tatapan bingung. Ia pun mengurungkan niatnya yang hendak keluar dari ruangan milik Darren.


"Belikan aku hadiah saat kamu kembali dari toko bunga, hadiah yang cocok untuk anak berusia lima tahun." Ujar Darren yang kembali memberikan perintah pada Arsen.


"Baik, nanti akan saya belikan hadiah yang anda minta." Jawabnya yang kali ini benar-benar pergi dari ruangan Darren.


Darren yang saat ini seorang diri, terlihat mencoba untuk mengatur ekspresinya yang terlihat kesal. Merasa tak berada dalam kondisi yang senang, yang ia lakukan hanyalah menghela nafas panjang sembari menyenderkan kepalanya.


"Kenapa aku jadi marah begini?" Ucapnya yang tiba-tiba menjadi kesal sendiri.


Marah tanpa sadar, dengan perasaan yang tanpak tak suka melihat kedekatan Airin bersama laki-laki lain, membuatnya semakin dibuat bingung pada hati dan perasaanya sendiri


"Apa ini karena dia adalah ibu dari anakku? atau justru ini memang murni karena perasaanku padanya?"


Darren masih bingung, apakah perasaan kesalnya saat ini karena tak suka ibu dari anaknya dekat dengan laki-laki lain atau justru ini karena rasa kecemburuanya yang tak suka melihat wanita spesialnya dekat dengan laki-laki lain.

__ADS_1


"Aku harus memastikan perasaanku padanya."


__ADS_2