Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
68. Kenangan dan Harapan


__ADS_3

Flashback,


Melbourne, 7 tahun lalu.


"Cantik, ya?" Seru Airin, menatap pemandangan yang indah di malam hari melalui jendela apartemen.


"Iya, cantik banget." Jawab Darren tak berhenti menatap wajah Airin, bersamaan dengan senyumnya yang terus mengembang.


"Eh, yang ku maksud itu, kan, pemandangan hari ini, kenapa kamu malah menatapku?." Airin yang merasa aneh dengan arah pandang Darren yang malah menatapnya, segera memberitahukan hal yang ia maksud.


"Kenapa? Menurutku yang lebih cantik itu kamu." Darren terlihat tak perduli dengan maksud Airin, dan justru terus menatap wajahnya dengan lekat.


"Duh, berhenti bercanda, deh." Protes Airin yang jadi sedikit malu, karena mendapatkan tatapan itu.


"Padahal aku nggak bercanda lho." Balas Darren dengan ekspresi wajahnya yang tampak jujur.


"Terserah kamu saja deh." Airin pun memalingkan wajahnya karena malu ditatap terus oleh Darren.


"Aneh, biasanya cewek akan suka kalau dibilang cantik, kenapa kamu malah ngambek?" Heran Darren pada sikap Airin.


"Apa? Jadi, kamu pernah bilang cantik ke perempuan lain?" Airin pun kembali menatap ke arah Darren dengan wajah sedikit mengkerut.


"Eh, kok jadi gitu, kan semua perempuan biasanya memang seperti itu kalau dibilang cantik." Mendapat serangan mendadak dari Airin, tentu saja membuat Darren kelabakan dan menjadi susah untuk menjawab.


"Perempuan yang mana yang kamu maksud?" Ucap Airin, semakin memasang ekspresi wajah cemberut.


"Ok, deh, aku mengaku kalah." Darren pun akhirnya hanya bisa pasrah, karena tak tau lagi harus menjawab seperti apa.


"Hehe, aku tau kok, kalau kamu nggak bermaksud begitu." Airin tersenyum melihat eskpresi Darren yang terlihat pasrah dan kebingungan.


Ia mencoba memegang wajahnya yang sedang cemberut itu, lalu mendaratkan sedikit kecupan dalam bibirnya. Apa yang Airin lakukan, tentu saja membuat Darren terkejut.


"Kamu, tau kalau kamu tidak boleh melakukan hal ini, kan?" Ekspresi Darren tiba-tiba berubah begitu Airin menciumnya.


"Kenapa? Apa kamu nggak suka?" Ledek Airin.


"Kalau begini, aku jadi nggak bisa menahannya." Jawab Darren dengan ekspresi wajah yang serius.

__ADS_1


"Menahan untuk apa?" Balas Airin polos.


"Airin Oktavianti Putri, berhenti meledekku." Darren yang merasa sedang diledek, memberikan protesnya pada Airin.


"Coba aja kalau bisa." Ledek Airin dengan juluran lidahnya.


"Jadi, kamu menantangku, ya."


Darren pun memegang wajah Airin untuk menciumnya, dan Airin hanya bisa tersenyum karena perilaku Darren dan membiarkan Darren mencium bibirnya.


Keduanya berciuman dalam malam yang indah, dibawah sorot lampu keralap kerlip yang menyorot tubuh mereka. Suasana hari yang indah, karena berbarengan dengan hari valentine membuat suasana keduanya semakin romantis dan mrnumbuhkan perasaan yang semakin merekatkan hubungan keduanya.


Ciuman itu semakin dalam dan intens, membuat keduanya hanya bisa fokus satu sama lainnya.


"Ah..." Airin seperti kehabisan nafas karena ciuman itu, hingga tak lagi bisa untuk meneruskan ciuman itu dan sedikit berontak hingga Darren melepaskan ciumannya.


"Padahal aku baru saja memulainya." Darren hendak menciumnya kembali.


"Ah, tunggu, Euumm..." Airin hanya bisa pasrah ketika Darren menciumnya kembali.


......................


Saat ini, pukul 09.00 malam di dalam apartemen Darren.


Darren yang telah mengetahui kebenaran pada hubunganya bersama Airin di masa lalu, tak bisa menyembunyikan rasa sakit dalam hatinya, seolah dibuat tersadar akan kenyataan itu.


"Bagaimana aku harus menyapamu nanti?" Ucapnya memikirkan tentang hal yang harus ia lakukan di depan Airin setelah mengetahuinya.


"Dan.. apa kamu akan memaafkanku?"


Di dalam apartemennya saat ini, Darren tak berhentinya untuk memikirkan pertemuanya bersama Airin nanti setelah ia sudah mengetahuinya sekarang, mengingat respon yang dulu tak terlalu baik pada Airin, hingga membuat Airin seringkali menangis saat melihatnya.


"Pertemuan terakhir, dia terlihat marah padaku. Apa nanti dia akan berbeda saat aku sudah mengetahui tentang apa yang dia bilang sebelumnya?"


Darren ingat, saat itu Airin memintanya untuk mencari tau sendiri soal siapa Airin, dan ia pun melakukan apa yang dikatakan oleh Airin hingga akhirnya ia mengetahui sikap Airin yang terus menangis dan menahan marah padanya setiap kali bertemu.


"Kamu terus membayangi mimpiku, hingga membuatku susah tidur, dan terus menerus menahan rasa sakit ini, apakah ini hukuman karena aku yang meninggalkanmu?"

__ADS_1


Darren kembali merasakan rasa sakit di dalam hatinya yang amat sesak itu ketika mengingat Airin. Dan, bersama rasa sakit yang ia rasakan itu, terus membelenggunya hingga membuatnya terjaga hingga pagi, dan tak lagi bisa tidur karena terus kepikiran.


.....


Pagi, hari pukul 06.00


"Saya telah membawakan yang anda minta." Arsen datang menemui Darren di dalam apartemen.


"Apa kamu sudah memeriksa sebelumnya?" Tanya Darren yang masih mencoba mengatur ekspresinya yang terlihat tak baik-baik saja, karena sejak semalam tak bisa tidur dan terus menerus teringat kenangan yang membuat kepala dan dadanya terasa nyeri.


"Saya suda memeriksanya sebelum membawanya pada anda." Jawab Arsen memberikan sebuah amplop pada Darren.


Darren pun langsung mengambil amplop yang diberikan oleh Arsen dan coba untuk membukanya untuk memastikan isi di dalamnya.


Ia membantingkan amplopnya begitu saja, dan terduduk lemas pada sofa dibelakangnya.Setelah berhasil memastikan isi di dalam amplop, isi kepalanya langsung penuh dengan berbagai kekacauan.


Ekspresi wajahnya memperlihatkan kalau ia merasa terkejut, tak percaya, kecewa dan marah pada dirinya sendiri, namun, di satu sisi ada rasa bahagia yang ia rasakan.


"Sial, apa yang kulakukan selama ini, sebenarnya?" Ucapnya memasang wajah sedih dan penuh rasa sesal.


Isi dari amplop yang diberikan oleh Arsen padanya, begitu mengguncang hatinya, ia yang sebelumnya masih belum yakin seratus persen tentang kecocokan pada seorang anak kecil yang diyakini adalah anak kandungya, kini telah memastikan sendiri dengan mata kepalanya akan berita kebenaranya, setelah melihat langsung hasil dari tes DNA antara dirinya dan Arka yang dilakukan olah Arsen atas perintahnya itu.


"Ternyata dia benar-benar anakku." Ujarnya sedikit bergetar.


Darren tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Aku sudah memastikannya, kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ucapnya pada Arsen dan bergegas untuk pergi kesuatu tempat.


Arsen tak menolak dan mengikuti Darren yang pergi terlebih dahulu. Dan, tempat yang mereka tuju adalah tempat sekolah Arka. Darren yang kini sudah yakin dan membuktikan sendiri kebeneran akan identitas Arka, membuatnya tak lagi ragu untuk menemui sang anak yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaan dan juga identitasnya.


....


"Aku bilang aku punya papa, dia bilang akan datang menemui Arka hari ini."


"Kamu bohong, kan? Mana mungkin papa kamu datang hari ini? Kamu kan, tidak punya ayah."


Namun, lagi-lagi ia harus melihat pemandangan yang sama ketika datang kesekolah anaknya. Melihat kembali anaknya yang tengah beradu argumen dengan teman-temanya.

__ADS_1


__ADS_2