
"Gak boleh." Tolak Lucas dengan tegas begitu Darren membicarakan keputusan dirinya yang hendak pergi ke melbourne.
"Ha! Jadi ini pendapatmu?"
"Benar, lu nanya kan apa pendapat gue? Ya jawabanku itu, tidak boleh pergi."
"Gue tau ke khawatiran lu, tapi gue tetap harus datang kesana, karena gue benar-benar harus mencari tau ingatan gue yang hilang terutama soal perempuan yang selalu mengganggu tidurku itu." Ucap Darren dengan tekad bulat.
"Ok kalau begitu, biar gue yang temani lu disana. Tapi, sebelum itu kita konsultasikan dulu sama dokter Heru." Kata Lucas.
"Ok." Jawab Darren tak menolak usulan dari Lucas.
"Apa kakek dan papamu sudah tau soal lu yang mau ke melbourne?" Tanya Lucas.
"Mereka enggak tau, dan sebaiknya mereka memang tidak perlu tau. Jadi, jangan coba-coba bilang pada mereka." Jawab Darren tak perduli dengan sedikit memberi peringan pada Lucas.
"Terserah lu deh, tapi kenapa tiba-tiba lu mau datang lagi kesana? Kan lu tau sendiri, kepergian lu yang terakhir membuat lu jadi tambah susah tidur?" Tanya Lucas merasa heran dengan Darren yang tiba-tiba ingin pergi ke melbourne.
"Sebenarnya sekarang juga masih susah tidur, tapi aku agak kesal karena suara dan wajah samar-samar perempuan yang masih terus mengganggu tidurku." Jelas Darren.
"Mungkin ini memang benar." Ucap Lucas.
"Apanya?" Bingung Darren pada kalimat ambigu dari Lucas.
"Kalau lu itu mendapat kutukan dari perempuan itu." Kata Lucas kemudian.
"Kutukan? Maksud lu gue, gitu?" Darren menatap Lucas dengan ekspresi setengah tak percaya, karena tiba-tiba membahas soal kutukan.
"Iya lha, siapa lagi coba?" Yakin Lucas.
"Atas dasar apa?" Tanya Darren balik.
"Nah itu dia yang harus lu cari tau."
"Dasar, gak bantu banget sih." Cuek Darren pada ucapan Lucas lalu mengabaikanya.
"Oh, atau mungkin lu pernah membuat janji sama seorang perempuan gitu waktu di melbourne?" Ucap Lucas.
__ADS_1
"Janji? Dengan perempuan? Aku?" Darren mencoba mempertanyakan kembali apa yang di dengar, dan Lucas memberikan anggukan kecilnya.
"Atau bisa jadi ada seorang perempuan yang merasa patah hati sama lu, terus dia mengutuk atau menyumpahi gitu?" Lanjut Lucas.
"Makin ngawur aja, sih. Serius dikit, dong!" Darren jadi tak semangat mendengarnya.
"Ini uda serius kali, coba pikirkan dulu deh."
"Berhenti bahas itu, aku mau lihat hasil dari apa yang aku minta kemarin?" Ucap Darren yang jadi berbicara sedikit formal untuk menghentikan omong kosong dari Lucas.
"Sudah ku taruh di atas mejamu, tuh." Balas Lucas menunjuk ke arah meja.
Darren menerima berkas yang diberikan oleh Lucas dan mulai membukanya.
"Gimana? Apa sekarang sudah ada tindakan yang signifikan setelah kakek turun langsung mengatasinya?" Tanya Darren.
"Pasti lha, mungkin sekarang mereka sedang gugup menghadap kakek Ferdi. Beritanya juga sudah semakin mereda, terlihat orang-orang yang lebih condong membicarakan produk baru yang kita luncurkan saat ini. Meski ada pembahasan kalau berita kemarin bagian dari strategi pemasaran." Jelas Lucas ketika menjabarkan permasalahan kemarin, perihal berita pernikahan Darren dengan Laura yang terlanjur terekspos ke publik.
"Baguslah kalau begitu, tapi aku harus tetap bertemu denganya. Apa kamu sudah menghubungi dia?"
"Sudah, aku sudah bilang jam ketemuan dan tempat janjianya juga."
"Jelas dia mau lha, malah terlihat senang tanpa berfikiran apapun, seperti orang bodoh saja. Padahal kamu dan keluargamu kan sudah tau tentang masalah ini." Ucap Lucas sedikit meledek Laura.
"Yasudah, ayo berangkat sekarang." Ucap Darren yang hendak ketempat pertemuanya dengan Laura.
...
Di dalam rumah yang juga terhubung dengan toko bunga miliknya, Airin saat ini terlihat mempersiapkan pesanan bunganya sebelum di kirimkan ke pelangganya nanti.
"Ma, Arka nanti beneran boleh beli sepatu, kan?" Tanya Arka menyentuh mamanya yang sedang menata bunga-bunga pesanan pelanggannya.
"Boleh kok, Arka boleh beli sepatu yang Arka inginkan nanti." Jawab Airin membenarkan.
"Yeay, akhirnya Arka punya sepatu baru." Seru Arka dengan ceria ketika Airin mengajak dirinya membeli sepatu baru.
Melihat keceriaan anaknya, tentu saja membuat Airin juga merasa ikut senang. Ia mengusap lembut puncak kepala anaknya.
__ADS_1
"Bi, Airin pergi antar pesanan sambil mampir membelikan Arka sepatu ya.." Ucap Airin berpamitan pada bi Rahma ketika selesai menata bunga-bunga pesanan pelangganya.
"Iya, hati-hati ya kamu." Balas bi Rahma.
"Ok, Airin titip toko sebentar ya, bi."
"Iya, pergi sana." Jawab bi Rahma yang tak merasa keberatan.
Airin pun pergi bersama Arka dengan mobilnya untuk mengantarkan pesanan bunganya pada pelanggan pribadinya yang kebetulan satu arah dengan tujuan dirinya yang hendak membelikan sepatu buat anaknya.
"Gimana? Apa Arka senang sekarang?" Tanya Airin mencoba mengajak ngobrol anaknya.
"Senang banget, Arka senangnya buuuaanyak banget, sebesar ini.." Jawab Arka membuat ekspresi senang dengan kedua tanganya yang membentuk lingkaran besar.
Airin tersenyum melihat tingkah anaknya yang sangat senang ketika di ajak membeli sepatu. Ia cukup senang karena akhirnya bisa mengajak Arka jalan-jalan setelah sekian lama, terlebih sangat beruntung juga karena hari ini sekolah Arka lagi libur.
"Tapi, nanti kita mampir sebentar, ya. Soalnya mama mau mengantarkan bunga-bunganya dulu sama pelanggan."
"Ok." Balas Arka tanpa protes.
......................
Ada yang mengatakan bahwa takdir itu nyata adanya dan selalu dekat dengan kita. Mau sekeras apapun kita mencoba untuk menjauh dan berlari darinya, namun ketika semesta yang memilih kita untuk bertemu denganya, maka semua tidak akan bisa membantahnya.
Meski semua serba rahasia darinya, namun semua akan ada makna dan artinya tersendiri untuk para hambanya. Semua telah tertulis dari garis tanganya.
"Arka, kamu duduk dengan tenang ya disini? Mama cuma sebentar kok, ok?" Ucap Airin ketika memberikan anjuran pada Arka, karena dirinya yang hendak mengantarkan pesanan bunganya pada pelanggan sekaligus pemilik toko souvenir yang sedang ia datangi saat ini. Ucapanya itu langsung dijawab anggukan dari Arka yang tengah duduk manis di atas kursi dalam toko.
Saat Airin tengah berbincang dengan akrab bersama pemilik toko, tiba-tiba saja Arka berlari keluar dari toko karena pandanganya yang teralihkan oleh sesuatu. Ia lupa akan anjuran yang Airin katakan untuk tetap duduk dengan tenang.
"Yaudah ya mbak, kalau begitu Airin pamit dulu, takut Arka menunggu lama soalnya." Ucap Airin mencoba pamit pergi.
"Oh kamu sama anakmu, mana kok aku gak lihat dia, sih?" Balas pemilik toko sovenir yang mencoba mencari keberadaan Arka.
"Dia ada disana, lagi du.." Mata Airin langsung terbuka lebar ketika tak melihat keberadaan anaknya.
"Lho, Arka kemana?" Ucapnya sedikit panik ketika tak melihat keberadaan anaknya dan mencoba berlari ke arah terakhir Arka duduk.
__ADS_1
"Dia tadi ada disini, keman dia?" Nada dan ekspresi panik mulai menghiasi wajah Airin.