Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
51. Identitas Diri


__ADS_3

Airin yang akhirnya mulai lebih tenang, memilih berjalan bersama Rendi untuk menuju pada bi Rahma berada. Dengan langkahnya yang pelan, ia masih berusaha melirik ke tempat yang ditinggalkan oleh Darren.


"Apa ada sesuatu yang tertinggal disana?" Ucap Rendi yang menangkap Airin tengah melihat ke arah lain.


"Ah, nggak ada kok, kak. Cuma tadi,.." Tiba-tiba saja ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Bukan apa-apa kok, kak." Airin menghentikan kalimat yang hendak ia katakan. "Oh iya, apa kak Rendi gapapa meninggalkan rumah sakit seperti ini? Takutnya nanti ada pasien yang membutuhkan kak Rendi." Ucap Airin yang merasa terlalu menahan Rendi dan sedikit mengubah topik pembicaraan.


"Gapapa, kamu nggak usah khawatir soal itu, karena tadi aku sudah bilang kalau mau pergi sebentar sama mereka dan sudah ada penggantiku juga nanti kalau sewaktu-waktu ada yang membutuhkan. Disini dokternya banyak kok, jadi kamu nggak perlu khawatir." Balas Rendi, yang mencoba menenangkan Airin sekali lagi.


"Tetap saja, Airin merasa nggak enak soal ini. Mungkin memang sebaiknya Airin dan bibi pulang naik taksi saja." Airin masih berusaha untuk terus membuat Rendi tak mengantarnya pulang karena merasa tidak enak hati dan takut merepotkan.


"Kalau kamu terus disini, yang ada kita makin lama pulangnya dan Arka juga jadi terlalu lama menunggu kamu, apalagi bi Rahma yang sedari tadi nungguin kedatangan kita lho!"


Rendi mencoba untuk menghiraukan penolakan Airin dan memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Airin yang melihat itu pun, tak lagi bisa protes dan mengikuti keinginan Rendi yang ingin mengantarnya pulang. Dengan segera ia menyusul langkah Rendi yang sudah mendahuluinya terlebih dahulu.


....


Nada panik dan ekspresi yang penuh rasa kekhawatiran diperlihatkan oleh bi Rahma ketika melihat keberadaan Airin yang akhirnya keluar dari rumah sakit bersama Rendi.


"Kamu ini habis menghilang kemana, sih?" Ucap bi Rahma menepuk pelan lengan Airin ketika menghampirinya. "Membuat bibi khawatir saja." Lanjutnya lagi dengan rasa khawatir.


"Maaf, bi kalau Airin sudah membuat bibi khawatir, tadi Airin mau menyusul bibi dan tadi juga mampir ketoilet sebenar." Ujar Airin yang merasa sedikit bersalah pada bibinya yang tengah menghawatirkan kondisinya.


"Aduh, bibi kira tadi kamu kenapa-napa, syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Lega bi Rahma begitu melihat keadaan dan penjelasan dari Airin.


"Yasudah ayo pulang, soalnya tadi Dava menelfon bibi, katanya Arka terus mencari kamu." Ucap bi Rahma.


"Oh ya! Apa lagi yang dikatakan sama Dava soal Arka, bi? Nggak terjadi apa-apa kan bi sama Arka" Tiba-tiba Airin merasa khawatir pada kondisi anaknya.


"Dia gapapa, cuma memang sedikit rewel saja karena kamu tidak ada." Jelas bi Rahma.

__ADS_1


Nada kelegaan diperlihatkan oleh Airin, karena sejak kedatanganya di rumah sakit, ia tak berhenti merasa tak nyaman dalam hatinya, karena seperti ada yang mengganjal di dalam perasaanya. Hal yang ia khwatirkan dan pikirkan pertama kalinya ketika merasakan perasaan itu adalah sosok anak semata wayangnya, yaitu Arka.


"Nak, Rendi terimakasih lho, karena sudah meropatkan begini." Ujar bi Rahma pada Rendi yang mengantarkan pulang dan telah membawa Airin yang kembali setelah sempat menghilang.


"Iya, sama-sama, bi. Rendi sama sekali tidak merasa direpotkan, kok." Balas Rendi ramah.


Setelah sempat ada insiden kecil yang menghampiri kepulangan mereka, kini ketiganya pun akhirnya melangkah pergi dari rumah sakit bersama dengan Rendi yang mengantar Airin dan bi Rahma pulang.


....


Dari tempat yang sama, Darren yang masih berada di rumah sakit karena tengah menjenguk kenalannya bersama Lucas, saat ini tengah dihadapkan pada pikiran yang terus mengganggu dirinya. Ia tak bisa melupakan kejadian yang baru saja ia alami bersama Airin, yang juga seorang perempuan yang beberapa kali tak sengaja ia temui itu.


Airin...


Dalam hatinya, Darren tak berhenti menyebut nama dari perempuan yang akhirnya ia ketahui namanya itu.


"Ah, sial. Ini benar-benar menjengkelkan." Umpatnya kesal pada kebingungan akan dirinya pada identitas seorang Airin yang ia temui tadi.


"Ada tugas yang harus lu...," Darren tiba-tiba terdiam ketika menatap Lucas. "Nggak jadi deh." Lanjutnya yang akhirnya mengurungkan niatnya segera begitu ingin mengatakan sesuatu pada Lucas.


"Apa nih, kenapa malah nggak jadi? Tugas apa woi?" Ucap Lucas yang protes karena Darren tak melanjutkan kalimatnya.


"Berisik, kita pulang sekarang." Darren meninggalkan begitu saja Lucas yang terus memaksanya untuk mengatakan kalimat yang tak jadi ia katakan tadi.


......................


Siapa Airin sebenarnya?, apa hubungan yang sebenarnya antara dirinya dengan Airin?, apakah dimasa lalu mereka berdua saling mengenal?, dan mengapa ekspresi sedih dan terluka diperlihatkan oleh Airin tadi, seolah merasa kecewa pada dirinya.


Darren tak berhenti memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi pada hubungan antara dirinya dan Airin di masa lalu, meski ia saat ini tak memiliki gambaran apapun bahkan mengingat akan identitasnya, karena mau bagaimana pun sosok Airin saat ini adalah seseorang yang baru ia kenal dengan pertemuan-pertemuan yang tak sengaja ia alami antara dirinya dan Airin di berbagai kesempatan yang tak terduga.


"Sekarang aku benar-benar yakin kalau hal ini bukanlah hanya perasaanku saja." Ucap Darren yang menghapus keraguan dirinya tentang Airin yang kerap kali memasang ekspresi aneh di depannya saat bertemu.

__ADS_1


Dari menangis dipertemuan pertama, marah, kecewa dan terluka semua terlihat dari ekspresi yang Airin perlihatkan padanya.


"Siapa dia? Apa aku juga mengenalnya?"


Pertanyaan itu terus mengalir dalam isi kepalanya. Dari masih di dalam rumah sakit, hingga pulang dan sampai di dalam apartemennya kembali, pikiran itu selalu mengelilinginya.


"Dia menyuruhku untuk mencari tau sendiri." Ucapnya ketika mengingat kembali obrolanya bersama Airin.


"Sial, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya." Darren berteriak frustrasi.


Tiba-tiba saja sekelibatan kenangan masa lalunya muncul kembali dalam ingatannya, hingga membuat kepalanya berdengung sakit.


"Tadi juga begini." Ingatnya ketika mengingat hal serupa saat masih di rumah sakit dan terjadi tepat di depan Airin.


....


Airin yang ia fikirkan itu, kini telah sampai di depan rumah dengan selamat. Bersama bi Rahma dan Rendi yang mengantar, ia masuk kedalam rumah.


"Kak, makasih ya sudah mengantar Airin pulang. Maaf sekali lagi jika sudah merepotkan kakak." Ucap Airin merasa berterimaksih pada Rendi yang sudah mengantarnya pulang.


"Iya, santai aja." Balas Rendi tenang.


"Nak Rendi mau mampir dulu?"


"Maunya sih, bi. Tapi sepertinya Rendi harus balik ke rumah sakit, nanti kapan-kapan deh Rendi bakal mampir lagi kesini." Ujar Rendi yang agak menyayangkan.


"Oh gitu, yasudah kalau begitu, bibi tidak akan memaksa. Terimaksih ya sudah mengantar bibi dan Ailirin pulang." Ujar bi Rahma tak memaksa dan mengucapkan rasa terimaksihnya karena telah di antar pulang.


"Iya, bi sama-sama. Kalau begitu Rendi pamit dulu."


"Mama...." Sebuah teriakan panjang mengalihkan pandangan Airin, bi Rahma dan juga Rendi itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2