
Hari semakin sore, dan Airin masih terjebak di dalam rumah sakit dengan kondisi tubuhnya yang masih terlihat lemah. Di dalam ruangannya, ia masih menunggu bibinya menebus resep obat yang diresepkan dokter untuknya.
"Bau rumah sakit memang khas, ya!" Gumamnya pada bau rumah sakit yang semerbak di dalam ruangan inapnya.
Di dalam kamar inapnya, yang ia lakukan hanya berbaring sambil menunggu kedatangan bibinya yang keluar mengambil resep obat sekaligus menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit. Suasana yang sunyi sedikit membuatnya merasa kesepian.
Bibi yang sudah ia tunggu sedari tadi, datang tak lama kemudian. Menghilangkan segera rasa kesepian dan kebosanan yang melandanya selama berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Bibi sudah menyelesaikan administrasi dan mengambil obat yang diresepkan dokter untukku?" Tanya Airin pada bi Rahma yang baru saja datang.
"Iya, bibi sudah menyelesaikan semuanya. Gimana kondisi kamu sekarang? Apa kamu yakin mau pulang hari ini?" Bi Rahma yang baru datang dengan membawa resep obat milik Airin, mencoba menghampiri Airin dan menanyakan kembali kondisi tubuhnya.
"Iya, bi. Kalau Airin tetap disini, yang ada Airin malah nggak bisa tidur. Jadi, lebih baik Airin istirahat dirumah saja." Balas Airin meyakinkan bibinya pada keputusan yang sudah ia ambil.
"Yasudah kalau itu yang kamu inginkan. Kalau begitu kita langsung berberes saja." Bi Rahma melunak dan tak lagi mendebat pada keinginan keponakannya itu, meski sejatinya ia masih sedikit menghawatirkan kondisi keponakannya yang belum sembuh sepenuhnya.
Di samping itu, Airin yang akhirnya mendapatkan izin untuk pulang kerumah, merasa lega dan juga senang, meskipun harus sedikit membujuk dokter yang menangani kondisinya saat ini. Walaupun raut wajahnya masih terlihat pucat, namun ia cukup lega karena akhirnya bisa pulang kerumah, karena dengan itu membuat dirinya bisa bertemu dengan anaknya segera.
"Lho, kamu jadi beneran pulang hari ini? Aku pikir kamu bakal setidaknya menginap satu hari lagi?" Ucap Rendi yang terlihat terkejut ketika melihat Airin dan bibinya tengah merapikan ruangannya ketika ia kembali datang untuk menjenguk Airin.
Airin yang mendengar suara segera menoleh ke arah suara tersebut dan mendapati Rendi yang datang keruanganya. "Iya kak, Airin memutuskan untuk pulang dan memilih untuk berobat jalan saja." Balas Airin kemudian.
"Padahal wajah kamu masih pucat begini. Kamu yakin mau pulang?"
"Iya, saya lebih baik istirahat dirumah saja."
"Apa ini karena kamu menghawatirkan Arka?"
"Benar, itu yang membuat saya terus merasa tidak nyaman disini dan memilih pulang saja."
"Yasudah kalau itu memang keputusan kamu, aku sih cuma berharap kondisi kamu semakin baik dan berharapnya juga tidak datang kesini lagi." Ujar Rendi.
"Amin, terimaksih kak." Senyum Airin membalas ucapan Rendi.
"Oh iya, kamu pulangnya nanti gimana? Di jemput sama paman kamu?"
__ADS_1
"Kita berencana naik taksi, ini bibi mau memesan taksi online." Ujar bi Rahma ikut menimpali pertanyaan Rendi.
"Bibi belum memesannya, kan?" Ucap Rendi mencoba bertanya.
"Belum sih, kenapa ya?" Bi Rahma menatap bingung Rendi yang hendak mencegahnya untuk memesan taksi online.
"Biar Rendi saja yang mengantar bibi dan Airin pulang." Ujar Rendi mengajukan diri.
"Eh, nggak usah kak, nanti malah ngerepotin kak Rendi! Lagi pula bukannya kak Rendi masih ada tugas?" Sanggah Airin segera untuk menolak Rendi yang hendak mengantarnya pulang.
"Iya nak Rendi, biar bibi sama Airin naik taksi online saja. Bibi nggak mau mengganggu pekerjaan nak Rendi." Bi Rahma ikut setuju pada apa yang dikatakan oleh Airin.
"Gapapa bi, Rendi nggak merasa direpotkan kok. Rendi juga tidak merasa di ganggu sama sekali." Ucap Rendi yang tak merasa direpotkan.
Airin dan bi Rahma saling pandang, keduanya sama-sama ingin menolak keinginan Rendi yang hendak mengantar pulang, namun merasa tidak enak ketika melihat ekspresi dan niat tulusnya.
"Apa engga apa-apa nih? Nak Rendi kan masih bertugas?" Kata bi Rahma yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa bi, kebetulan jadwal Rendi masih kosong. Rendi masih bisa mengantarkan bibi sama Airin pulang."
"Kak, nggak usah aja deh. Takutnya nanti kalau kakak keluar, ada pasien yang butuh kakak gimana?" Kata Airin yang merasa tidak nyaman.
"Ya, tapi kan.."
"Udah ayo pulang sekarang, nanti keburu tambah malam lho, kamu juga ingin cepat sampai dirumah dan ketemu sama Arka, kan?" Potong Rendi pada Airin yang terus menolak ajakannya.
"Yaudah deh, ini kak Rendi yang maksa lho ya, Airin nggak mau tanggung jawab kalau nanti kak Rendi jadi kesusahan sendiri." Airin pun tak lagi mendebat dan menerima keinginan Rendi yang hendak mengantarnya pulang.
"Kamu tenang saja soal itu, karena hal yang kamu khawatirkan tidak akan pernah terjadi." Balas Rendi yang hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Airin.
"Dasar, kak Rendi ini selalu keras kepala."
Lontaran Airin hanya dibalas senyuman manis dari Rendi.
....
__ADS_1
Airin bersama dengan bibinya dan Rendi, berjalan bersama untuk ke luar rumah sakit. Dengan langkah perlahan, ketiganya menyusuri setiap sudut lorong rumah sakit yang mereka lalui.
"Aku mau ambil mobil dulu, kamu sama bi Rahma tunggu disini saja." Ucap Rendi setibanya diluar ruangan rumah sakit dan hendak mengambil mobilnya yang terparkir tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.
"Iya kak." Balas Airin, yang membiarkan Rendi untuk mengambil mobilnya.
"Bibi merasa kalau nak Rendi itu terlalu baik sama kita. Apa kamu juga merasa begitu?" Ucap Bi Rahma ketika Rendi meninggalkan mereka.
"Kak Rendi memang baik orangnya. Dari dulu sikapnya tidak pernah berubah, jadi Airin tidak merasa ada yang berbeda dengan itu." Kata Airin menimpali ucapan bibinya.
"Bibi juga merasa begitu, tapi entah kenapa bibi merasa tidak enak setiap kali dia berlebihan seperti ini sama kita." Ucap bibi sekali lagi.
Airin terdiam, seolah menyetujui perkataan bibinya.
"Aduh, bibi lupa, sepertinya handfone bibi masih ketinggalan di dalam." Bi Rahma tiba-tiba teringat akan handfonenya yang tidak ada di dalam tas miliknya.
"Eh! Yang benar? Kalau begitu cepat ambil." Airin ikut terkejut, dan segera meminta bibinya untuk mengambil handfonenya yang ketinggalan.
"Bibi masuk kedalam dulu ya, kamu tunggu disini." Ucap bi Rahma yang hendak masuk kembali kedalam rumah sakit.
"Iya, Airin bakal tunggu disini, jadi bibi nggak usah terlalu buru-buru begitu." Jawab Airin meminta agar bibinya sedikit lebih tenang.
Seperginya bi Rahma, membuat Airin berdiri seorang diri, dengan wajahnya yang pucat itu membuatnya terlihat seperti seorang pasien. Karena kondisi yang masih belum stabil, membuatnya terlihat lemah, bahkan hampir kehilangan keseimbangannya.
"Lama ya? Maaf ya?" Ucap Rendi yang datang dan memegang tubuh Airin yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Ah, maaf kak." Airin terkejut dengan seseorang yang sedang memegang tubuhnya, dan mendapati Rendi disana. Karena merasa tak enak, ia pun langsung menyeimbangkan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Harusnya aku yang minta maaf karena terlalu lama, tapi.. apa kamu nggak apa-apa?" Tanya Rendi pada Airin.
"Aku gapapa kok kak, cuma kaki Airin sedikit pegal tadi." Balas Airin yang sedikit berbohong, karena takut dengan Rendi yang akan memintanya dirawat lagi.
"Kamu serius?" Rendi mencoba memastikan kembali kondisi Airin.
"Iya, aku beneran gapapa kok kak." Ujar Airin mencoba meyakinkan Rendi dengan senyumnya.
__ADS_1
"Oh iya, bi Rahma mana?" Sempat terdiam sejenak, Rendi pun menyadari ketidakhadiran bi Rahma.
"Bi Rahma mas.. suuk." Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada kehadiran seseorang yang tak sengaja terlihat oleh kedua matanya.