
Setelah perjalanan bisnisnya yang ternyata memakan waktu sedikit lebih lama, Darren yang telah kembali dari perjalanan bisnis panjangnya, memilih langsung pergi bersama Arsen ketempat yang nantinya akan menjadi tempat tinggalnya yang baru. Ia tak memperdulikan kondisi dirinya sendiri yang baru saja tiba dari perjalanan panjang.
Rumah yang pernah ia minta carikan pada Arsen sebelumnya, kini telah ada di depan matanya sekarang. Sebuah rumah dengan bangunan yang cukup luas dan besar, juga megah jika hanya dilihat dari luarnya saja. Rumah inilah yang nanti ia gunakan untuk tinggal bersama anak dan keluarganya.
"Bagaimana dengan bangunan dan ruanganya? Apa tidak ada yang cacat atau rusak?" Tanya Darren perihal rumah barunya pada Arsen yang ia tugaskan untuk mencarikan sebuah rumah untuk ia tempati nanti.
"Kebetulan semua masih terlihat bagus. Apa anda mau melihatnya langsung untuk memastikan rumahnya." Jawab Arsen, sekaligus memberikan Darren kesempatan untuk memeriksanya sendiri kondisi rumah barunya.
"Aku percaya padamu, tapi tetap lakukan apa yang kuperintahkan sebelumnya." Ujarnya mempercayai semuanya pada Arsen, meski ada sedikit perintah darinya untuk merenovasi beberapa bagian.
"Baik, pak." Jawab Arsen menanggapi perintah Darren.
Selesai melihat rumah barunya yang sudah ada di depan matanya, Darren bergegas pergi ketempat lainya bersama Arsen yang masih menemaninya. Ada satu tempat yang sangat ingin ia kunjungi begitu ia tiba dari perjalanan bisnisnya. Dan tempat itu adalah rumah milik Airin.
Tidak datang hanya dengan tangan kosong, Darren membawa beberapa barang dan makanan yang kiranya bisa untuk buah tangan. Karena ia datang bukan hanya untuk bertemu Airin dna anaknya, melainkan juga dengan keluarganya.
....
Hari yang masih sore, dengan cuaca yang tampak sejuk mengiringinya yang ingin bertemu dengan keluarga Airin. Udara sejuk pada sore hari cukup menangkan harinya yang lelah karena pekerjaan. Terlebih pada perjalanan panjang yang cukup menguras energinya.
Dengan tekadnya yang kuat, ia ingin mengawali hari baru dalam hubunganya bersama Airin dan anaknya, Arka. Ia ingin memperbaiki hubungan yang terlanjur retak karena kesalahanya di masa lalu, meskipun kesalahan itu tak sengaja ia lakukan. Namun, ia tetap merasa bersalah telah meninggalkannya tanpa penjelasan apapun.
__ADS_1
"Aku akan mencoba menjelaskan semuanya, meski aku tau itu sulit untuk dimaafkan."
Darren mencoba mengatur ekspresinya yang hendak datang kerumah Airin dan bertemu keluarganya. Tampaknya ia sedang mempersiapkan diri untuk menjelaskan semuanya pada Airiin dan keluarganya.
"Semoga saja mereka tidak mengusirku."
Karena kesalahanya cukup berat, tentu Darren sudah mempersiapkan diri jika nanti tak disambut dengan baik oleh keluarga Airin. Mau bagaimanapun ia tetap akan meminta maaf pada mereka, terlebih pada Airin itu sendiri. Karena setidaknya itu adalah hal yang ingin ia mulai jika ingin memeperbaiki hubunganya dengan Airin.
Semua tampak sudah ia fikirkan dengan perhitungan yang matang, dimulai dari hal apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi hubungan yang telah retak, hingga bagaimana caranya ia menaklukkan kembali hati perempuan yang terlanjur marah padanya.
Terlihat mudah, namun sebenarnya tidak juga, karena akan sulit memperbaiki semuanya seperti dari awal. Namun, bagi Darren yang memili hasrat kuat untuk mengembalikan semua seperti semula, pada hubungan bersama Airin, ia pun akan melakukan apapun untuk mewujudkannya.
.....
Benar, sosok rintangan itu datangnya dari seorang laki-laki yang kembali mendatangi rumah Airin. Laki-laki yang terus menggangunya beberapa hari ini karena kedekatanya dengan Airin dan keluarganya. Sosok itu adalah Rendi, teman dan juga kakak kelas Airin dulu.
"Aku kira waktu itu dia hanya datang berkunjung, tapi hubungan mereka ternyata memang sudah sedekat ini." Ujarnya mengomentari sosok Rendi yang datang kerumah Airin, hingga kedekatanya dengan Airin dan keluarganya.
Menatap tak suka pada kedekatan keduanya, Darren yang datang untuk bertemu dengan Airin, merasakan perasaan cemburu melihat kedekatan mereka. Berbeda dengan sebelumnya yang langsung memilih pergi, kali ini ia tetap memilih menghampiri mereka yang sedang mengobrol santai.
"Selamat sore." Sapa Darren dengan ramah pada bibi dan paman Airin.
__ADS_1
Kedatanganya yang tiba-tiba tentu saja membuat bibi dan paman Airin menatapnya bingung, tak terkecuali dengan Rendi yang masih berada dirumah Airin, mengingat sosoknya yang tak mereka kenal sebelumnya.Mungkin hanya Airin yang menatap terkejut hingga diam terpaku pada kedatangan Darren kerumahnya.
"Ah, iya sore, maaf, tapi anda siapa, ya? Apa anda ada urusan pada keluarga kami?"
Meski masih bingung dan cukup terkejut dengan kedatanganya, namun bi Rahma dengan ramah membalas sapa Darren. Ia juga bertanya tentang identitas dan tujuan Darren datang kerumah.
"Nama saya Darren, dan saya memang ada sedikit urusan pada keluarga ini." Jawab Darren memperkenalkan nama dan maksud tujuannya datang kerumah mereka. Meski tak secara gamblang ia menjelaskan semuanya.
"Ada sedikit buah tangan dari saya, semoga kalian semua menyukainya." Darren pun mengintruksikan pada Arsen untuk menaruh barang bawaan dan buah yang mereka bawa sebagai hadiah untuk keluarga Airin.
Sejenak suasana seketika menjadi hening, mengingat sosok tamu yang datang kerumah mereka dengan tiba-tiba terlihat begitu mencurigakan bagi mereka. Bi Rahma dan suaminya hanya saling pandang, karena sama-sama merasa bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba memberikan hadiah pada keluarganya.
Saat semua keluarganya menatap bingung pada Darren, terlebih pada tujuannya. Airin yang mengenali sosoknya terus menatapnya tak percaya dan tertegun. Ia bahkan terdiam karena saking terkejutnya melihat kehadiran Darren. Rasa cemasnya kembali muncul begitu melihat Darren datang kerumahnya. Ekspresinya itu tak lepas dari pandangan Rendi yang juga sama bingungnya melihat kehadiran Darren.
"Tidak bisa, aku harus menghentikan tujuanya." Batin Airin, yang hendak menghentikan tujuan Darren.
Baru saja ia berniat menghampiri Darren, Arka yang baru kembali bersama Dava dari arah kamar karena baru saja mengambil mainan, mengalihkan pandangan semua orang dengan aksinya.
"Papa..." Panggilnya begitu melihat kehadiran Darren.
Sama terkejutnya dengan yang dirasakan oleh bibi, paman, Rendi dan juga Dava ketika mendengar Arka memanggil laki-laki asing dengan sebutan papa. Airin hanya bisa memejamkan matanya seolah pasrah dengan keadaan. Ia tak lagi bisa menutupi fakta bahwa Darren adalah ayah kandung dari anaknya.
__ADS_1
Karena aksi Arka yang memanggil seorang tamu dengan sebutan papa, dan bahkan menghampirinya secara langsung, kali ini semua mata tertuju pada Airin. Mereka seolah ingin mengkonfirmasi secara langsung fakta di depan mereka pada Airin.