
Mungkin tak hanya Lucas yang bertanya-tanya, Darren yang mengalaminya langsung pun ikut bertanya-tanya. Tentang apa hubungannya di masa lalu bersama Airin, bagaimaan awal mula mereka saling mengenal satu sama lain, hingga bagaimana keduanya bisa menjadi dekat.
"Cas, bagaimana cara menghadapi perempuan yang lagi marah padamu?" Tanya Darren pada Lucas yang masih berada di dalam ruanganya.
"Apa ini soal ibu dari anakmu?" Tanya Lucas balik.
"Iya, sepertinya dia begitu marah padaku sekarang." Jawab Darren jujur.
"Aduh, gimana ya? gue juga gak tau." Lucas yang mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dari Darren cukup membuatnya bingung, dan sedikit kesulitan untuk memberikan tanggapanya, mengingat ia belum pernah ada di posisi itu sebelumnya.
"Dasar, gak bantu banget sih." Celetuk Darren sedikit kecewa ketika tak mendapatkan balasan yang dia inginkan dari Lucas.
"Ya, kan soalnya gue gak tau seberapa marah dia sama lu, tapi emang lu udah pernah menemui dia dan meminta maaf sama dia? Se enggaknya ya lakuin itu dulu." Balas Lucas.
Mendengar itu Darren diam memikirkan, karena dia memang belum bertemu secara langsung atau menyapa Airin setelah ia mengetahui fakta tentangnya. Melihat ekpsresi Airin yang saat itu terlihat marah padanya, membuatnya menahan diri untuk mendekatinya.
"Kalau dia tetap marah meski aku sudah meminta maaf dan menjelaskan sama dia, bagaimana aku harus menghadapi itu?" Tanyanya kemudian pada Lucas.
"Kalau soal itu sih susah juga ya, soalanya gue sendiri gak pernah mengalami hal itu. Tapi, mungkin lu bisa jelasin pelan-pelan sama dia, terutama soal keadaanmu saat ini." Ungkap Lucas memberi masukan.
"Sepertinya dia bukan hanya marah padaku, tapi sudah sangat menbenciku." Ujar Darren yang merasa sedikit frustrasi.
"Lu kan belum ketemu sama dia, gimana lu yakin soal dia yang membencimu?" Heran Lucas.
"Bukanya wajar, aku meninggalkanya saat dia mengandung anakku dan lebih fatalnya aku tak mengingatnya meski dia ada di depan mataku." Ungkap Darren terlihat menyesal.
Lucas terdiam karena ucapan Darren, ia tak bisa berkomentar soal kesalahan yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Membuatnya mengerti posisi Darren yang saat ini terlihat tak baik dan menguntungkanya.
"Jelasin aja soal masalah kecelakaanmu dan juga soal amnesiamu, siapa tau dia mau mengerti soal itu?" Ucap Lucas memberikan komentarnya.
__ADS_1
"Entahlah aku nggak yakin soal itu, karena ekspresinya terlihat sekali kalau dia begitu membenciku." Darren menghela nafas panjang karena frustrasi memikirkan hal itu.
.....
Sedangkan Airin, begitu selesai membawa Arka pulang kerumah, terus memikirkan soal Darren yang akhirnya mengetahui identitas anaknya.
"Bagaimana bisa dia tau? Sekarang apa yang harus ku lakukan setelah dia tau?" Ucapnya sedikit bingung dalam menghadapi situasi yang terlampau tiba-tiba ini.
Padahal ia sudah mengharapkanya dari dulu tentang Darren yang bertemu dan mengetahui keberadaan anaknya, namun begitu ia mengetahuinya secara langsung, tak serta merta membuat perasaanya lega dan senang.
"Kenapa aku begini?" Ucapnya merasa bingung pada perasaanya sendiri.
Airin tampak dilema memikirkan Darren yanga akhirnya tau soal keberadaan dan identitas anaknya. Setelah sempat menutup harapannya pada Darren yang saat itu bahkan tak bisa mengingat dirinya, kini ia dihadapkan pada kenyataan yang membuat hatinya kembali goyah.
Sejenak ia tersadar pada reaksi anaknya yang begitu lengket dan bahkan menyambut Darren dengan baik, sosok ayah yang sejatinya tak pernah ia temui sebelumnya.
"Bagaimana Arka tau soal ayahnya? Bukankah aku tidak pernah memberitahukan soal ini padanya? Lalu, dari mana dia tau soal ayahnya?"
"Apa ini karena insiden yang sempat terjadi disekolahnya, ya?" Ujarnya teringat pada pertengkaran anaknya bersama teman-teman sekelasnya.
Saat itu, ia akhirnya tau kalau Arka mendapatkan bullyian dari salah seorang temanya karena Arka yang tak mempunyai seorang ayah sedangkan acara sekolahnya mengharuskan unruk membawa seorang ayah bersamanya.
"Ini pasti karena kejadian waktu itu, makanya Arka enggan untuk mengatakanya padaku."
Airin merasa sedikit malu dan menyesal pada anaknya, mengingat ia pernah menangis ketika anaknya bertanya seputar ayah kandungnya, dan karena hal itu Arka tak lagi bertanya soal ayah kandungnya lagi padanya dan memendam rasa penasaranya seorang diri.
"Saat itu, aku juga masih berusaha untuk melupakannya." Ujarnya yang kembali menyesali kejadian saat itu, hingga membuat anaknya menderita sendirian.
.....
__ADS_1
Berita soal Darren yang memiliki seorang anak telah masuk ketelinga keluarganya. Semua memberikan reaksi yang sama terkejutnya ketika pertama kali membaca artikel yang beredar.
"Apa ini maksudnya?" Tanya kakek Ferdi pada asistenya, Doni dengan ekspresi meminta penjelasan.
"Maaf, saya masih menyelidiki kebenaran beritanya." Jawab Doni.
"Panggil Darren, suruh dia datang kerumah." Ujar kakek Ferdi merasa pusing dengan rumor tentang cucunya.
"Baik." Doni mengiyakan permintaan kakek Ferdi dan kemudian pamit pergi dari hadapanya.
Tak berbeda dengan kakek Ferdi, papa dari Darren yaitu Edward juga merasa cukup terkejut melihat berita tentang anaknya yang tengah bersama anak kecil dan di dalamnya tertulis kalau itu anaknya. Ia mengernyit bingung dan juga terlihat cukup tertegun.
"Apa lagi ini?" Ucapnya mengomentari rumor anaknya.
Cukup ramai berita yang beredar soal Darren yang telah memiliki seorang anak, banyak yang bertanya-tanya tentang kebenaran beritanya, mengingat yang mereka tau Darren belum pernah menikah sebelumnya. Berita itu juga telah masuk kedalam telinga Laura, perempuan yang sempat di jodohkan dengan Darren sebelumnya.
"Hah, apa-apa'an ini? Bukanya beritanya terlalu mengada-ada? Tapi, masa iya Darren sudah punya anak?" Ucapnya yang menatap tak percaya pada artikel yang sedang ia baca.
Hanya Airin yang tak mengetahui soal ramainya pemberitaan seputar Darren di media sosial. Ia saat ini hanya fokus pada pekerjaanya, dan juga tengah mengatasi ambekan yang dilakukan oleh anaknya.
"Bagaimana caranya membujuk Arka? Padahal aku baru mau bertanya soal bagaimana dia bisa tau soal ayahnya?" Ujar Airin yang sedikit kebingungan melihat anaknya terus murung sepulangnya dari sekolah.
Tak ada semangat dari Arka, sepulangnya dari sekolah ia hanya diam dan memilih terus berbaring dikamarnya.
"Ini karena kamu mengajaknya pulang, padahal acaranya belum selesai." Ucap bi Rahma yang mengira Arka ngambek karena pulang lebih cepat.
"Ya habisnya gimana, bi. Saat itu kan Arka tidak ada yang menjaga, jadi Airin bawa pulang saja, lagi pula Airin sudah meminta izin sama wali kelasnya." Balas Airin yang tak menjelaskan seputar Darren yang sempat datang kesekolah.
"Harusnya kamu tunggu sebentar sampai Dava datang kesana." Ucap bi Rahma lagi.
__ADS_1
Dan, Airin hanya bisa diam karena tak bisa menceritakan soal Darren yang datang ke sekolah anaknya.