
"Oh iya, aku dengar kamu bertunangan sama Laura? Apa berita itu benar?" Tanya Alex.
"Beritaku ternyata sampe ke amerika juga, ya?" Darren tampak mengernyitkan dahi ketika mendapat pertanyaan dari Alex.
"Kemarin aku dengar dari anak-anak, dan semua pada bahas soal kamu dan Laura, makanya aku jadi tau dan coba konfirmasi langsung ke kamu hari ini." Jelas Alex.
"Wah, makin terkenal aja, nih ceritanya" Ledek Lucas.
"Bisa diam, nggak?, ku usir juga nih." Kesal Darren menatap Lucas yang duduk disampingnya.
"Peace..." Lucas hanya tersenyum sembari membuat gestur 2 jari.
Alex lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat perdebatan kecil dari kedua teman lamanya.
"Beritanya nggak benar, aku dan Laura tidak ada hubugan apapapun. Lagi pula aku sudah menarik beritanya turun, kenapa masih ada saja yang membahasnya?." Darren beralih menatap ke arah Alex, menjawab pertanyaan yang sempat Alex tanyakan padanya itu.
"Mungkin karena kamu belum bikin statment bantahan? Bola liarnya jadi semakin melebar, karena kamu hanya menghapus beritanya, tanpa memberikan klarifikasi soal berita yang sesungguhnya." Ucap Alex.
"Memangnya aku artis harus memberikan klarifikasi segala? Lagi pula hal itu tidak perlu aku lakukan, karena terlalu merepotkan." Ujar Darren yang terlihat cuek.
"Justru itu, karena kamu bersikap cuek begini, kamu jadi seperti membenarkan isi beritanya meskipun kamu sudah menghapus beritanya sekalipun." Ujar Alex memberikan pendapatnya.
"....."
Darren terdiam, ia merenungkan kembali perkataan Alex soal permasalahannya.
"Dia sebenarnya malah mau bikin konferensi press buat membantah berita itu, tapi aku menyarankan untuk tidak melakukannya, karena kalau gitu, nanti wartawan malah bertanya ini itu sama dia dan malah mengganggu dia, lagi? Tau sendiri kan, dia itu anak yang nggak suka dengan kehebohan semacam itu." Timpal Lucas ikut berkomentar.
"Wah, iya juga ya." Alex yang faham maksud dari Lucas, tampak setuju pada pandanganya.
"Terus sekarang gimana dong? Apa tetap seperti ini saja?" Tanya Alex lagi.
"Biarkan sajalah, meski ucapanmu ada benarnya, sepertinya aku lebih suka membiarkannya seperti ini. Toh, bukan satu kali ini saja pembicaraan tentang diriku muncul dikalangan anak-anak, kan?." Kata Darren yang terlihat tak terlalu memerdulikan teman-temanya yang bergosip tentang dirinya.
"Ini sih Darren banget." Ujar Alex mengomentari sikap cuek Darren dan Darren yang hanya membalasnya dengan senyum simpulnya.
....
__ADS_1
Berbeda dengan Darren yang masih bisa berbincang dengan tenang bersama teman-teman dekatnya, Airin yang masih terjaga dari tidurnya terus saja merenung di dalam kamarnya. Memikirkan cara yang tepat untuk bisa menemui Darren nanti. Meski sudah berbagi cerita pada bibinya, namun sejatinya ia masih belum yakin pada keputusan untuk mendatangi seorang Darren secara langsung. Terlebih dengan kondisi Darren yang tidak mengingatnya. Ia takut ditolak sebelum mengatakan tujuannya.
"Mama.." Panggilan Arka mengalihkan pandanganya yang sedari tadi terus termenung menatap ke arah jendela kamarnya.
"Oh, Arka terbangun, ya?" Airin segera menghampiri sang anak yang sedang mencari keberadaanya.
"Mama tidak tidur?" Tanya Arka dengan ekspresi masih mengantuk.
"Oh, ini mama juga mau tidur, kok." Airin memeluk anaknya yang terbangun dari tidurnya.
"Arka mau tidur sambil dipeluk sama mama." Ucap Arka sambil memeluk Airin.
Mendengar itu, tentu saja membuat Airin tersenyum. "Baiklah, mama akan peluk Arka. Sekarang ayo tidur lagi, ok." Airin pun ikut membaringkan tubuhnya disamping anaknya,yang akhirnya memaksa dirinya untuk ikut tidur.
Menepuk pelan punggung anaknya, Airin mencoba menidurkan kembali anaknya yang sempat terbangun.
Kamu sepertinya tau ya, kalau mama lagi banyak pikiran.
Airin menyibak lembut rambut sang anak yang sudah kembali memejamkan mata. Melihat anaknya yang sedang tertidur membuatnya tersenyum dan makin memeluk tubuh anaknya, dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya dengan melupakan sejenak beban pikiran yang mengganggu dirinya.
Ia tertidur sambil memeluk anaknya. Mencoba untuk berdamai pada masalahnya sendiri dengan mencoba untuk bersikap lebih tenang dan tidur untuk menghilangkan sejenak kegundahaan hatinya.
Aku ingin bertemu denganya lagi.
Tanpa terasa air mata keluar dari matanya yang sedang terpejam. Hanya membayangkan saja sudah membuat perasaanya bergejolak, dan tanpa sadar meneteskan air mata. Tak ingin berlarut dalam kesedihanya, karena takut menggangu sang anak yang sedang tertidur, Airin menghiraukan begitu saja rasa sedihnya dan melanjutkan tidurnya tanpa mencoba untuk mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar.
Bukan keputusan yang mudah bagi seorang Airin, meski kecewa karena perasaanya yang sudah terlanjur terluka pada seorang Darren, namun hati yang sudah pernah terisi oleh cinta akan sulit untuk dilupakan begitu saja. Meski berusaha untuk berlari menjauh, bayangan akan orang yang pernah mengisi hati dan perasaanya, begitu sulit untuk ia lupakan.
......................
Pagi hari, pukul 8 pagi, bertepat di rumah sakit harapanku.
Wajahnya yang semakin lesu dan terlihat pucat dengan tubuhnya yang memperlihatkan penurunan berat badan, karena gangguan makannya, membuatnya kini dalam kondisi lemas, hingga berakhir dengan masuk rumah sakit.
"Kamu sakit apa?" Rendi menjenguk Airin yang sedang terbaring dalam ranjang rumah sakit.
"Airin cuma kecapean aja kok, kak." Balas Airin memperlihatkan senyumannya meski dengan kondisinya yang masih lemah.
__ADS_1
"Ya ampun Airin, lain kali kamu harus menjaga kondisi badan kamu." Ucap Rendi yang menghawatirkan kondisi Airin dengan ekspresinya yang begitu tulus.
"Aku kaget lho waktu lihat bibi kamu ada dirumah sakit, tadi ku kira beliau yang sakit." Nada khawatir terlihat jelas dari Rendi.
"Iya kak, Airin tau. Lain kali Airin bakal menjaga tubuh Airin lebih baik lagi. Dan, lagipula Airin sekarang gapapa kok, cuma agak lemas aja sedikit." Ujar Airin menenangkan Rendi yang menghawatirkan kondisinya.
"Terimakasih ya nak Rendi sudah menjenguk keponakan saya, padahal lagi sibuk begini." Ucap bi Rahma pada Rendi yang memilih menghampiri Airin yang sedang dirawat di rumah sakit yang juga tempatnya bertugas.
"Tidak apa bi, kebetulan Rendi masih ada waktu luang kok, jadi coba mampir sebentar kesini sambil melihat kondisi Airin." Balas Rendi yang tak merasa keberatan.
"Oh iya, bagaimana dengan Arka? Apa dia tau kalau kamu lagi di rawat dirumah sakit?" Ucap Rendi balik bertanya pada Airin.
"Dia masih belum tau, soalnya dia masih sekolah sekarang." Jawab Airin.
"Terus yang jemput dia pulang sekolah nanti siapa dong?"
"Tadi, aku sudah minta tolong pada Dava kalau dia ada waktu, dan ada paman juga dirumah."
"Oh gitu, aku ikut lega mendengarnya." Rendi tersenyum lega begitu mendengarnya.
Perhatian Rendi pada Airin dan keluarganya sungguh menghangatkan siapapun yang melihatnya. Begitu tulus dan penuh rasa kasih sayang.
"Kak Rendi lagi nggak ada pasien hari ini?" Tanya Airin melihat Rendi yang masih di dalam kamar inapnya.
"Aku belum ada jadwal buat operasi lagi, cuma ada tugas mengontrol pasien yang selesai aku operasi, itupun sudah kulakukan ,jadi kamu tenang saja, ok."
"Begitu ya, soalnya aku takut kalau malah mengganggu tugas kak Rendi yang seorang dokter."
"Nggak lha, kan ini kemauanku sendiri buat datang kesini." Rendi tersenyum menenangkan Airin.
"Tapi, tetap saja kan seorang dokter tidak bisa sesantai ini?"
"Dokter juga butuh merilekskan diri, agar tidak terlalu kelelahan dan jatuh sakit. Nanti kalau dokternya sakit, siapa dong yang bakal memeriksa para pasien?"
Mendengar itu, Airin hanya bisa tersenyum.
"Hemm... mereka berdua malah bikin orang tua ini jadi obat nyamuk." Batin bi Rahma melihat keakraban Airin dan Rendi yang tengah mengobrol berdua. Meski begitu, ia ikut tersenyum senang melihat ke akraban mereka.
__ADS_1