
Kamu pergi kemana sebenarnya?...
Darren tak berhenti memikirkan Airin, dan untuk pertama kalinya ia merasa takut akan sesuatu.
Aku takut, tapi aku nggak tau kenapa aku tiba-tiba jadi takut begini?
Terus menenangkan dirinya yang tampak gusar dengan kepergian Airin, Darren tak menyangka bahwa ia akan sekacau ini saat melihat Airin pergi.
Apa ini karena aku merasa takut jika tidak bisa melihatmu lagi? Tidak bisa bersamamu lagi? Atau karena aku takut jika nanti kamu tidak akan memaafkanku lagi?
Darren terus menggumamkan hal yang membuatnya begitu takut. Meski ia tak mengharapkan itu terjadi, namun ia tetap merasa takut dan khawatir jika hal itu benar-benar terjadi. Terlihat jelas bagaimana sekarang ia begitu panik saat hanya membayangkanya saja.
"Tidak boleh, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi."
Menyusuri setiap tempat yang ia datangi untuk mencari keberadaan Airin, melihat dengan seksama mobil-mobil yang terlihat mirip dengan mobil yang dipakai oleh Airin hari ini, hingga terus mencari sosok yang terlihat mirip dengan Airin yang ia temui dibeberapa jalan.
"Kemana sebenarnya dia pergi?" Darren berlari dengan wajah frustrasi mencari keberadaan Airin, karena hari yang sudah terlanjur malam membuatnya sedikit kesulitan untuk mengenali sosoknya.
Dengan ekspresi wajah yang tampak panik hingga khawatir, ia terus mencari keberadaan Airin yang masih belum juga ia temukan, hingga tanpa terasa waktu terus berputar dan hari yang semakin larut malam.
"Nomor telefon, ah.. sial aku lupa memintanya." Umpatnya kesal begitu tersadar lupa meminta nomor telfon milik Airin pada bibi dan juga pamanya.
Wajah yang panik, pakaian yang kini jadi berantakan dan basah karena keringat, nafas yang tersengal karena terus berlari mencari keberadaanya, Darren tak lagi memperdulikan penampilanya yang kini tampak kacau. Ia pun juga tak memperdulikan rasa capeknya yang terus-terusan berlari ke beberapa tempat untuk mencari keberadaan Airin.Meninggalkan Arsen dibelakang yang kini mulai kehilangan jejaknya.
"Dimana kamu, ha..." Seolah habis nafasnya karena terus ia buat lari mencari Airin, Darren mulai berjalan perlahan menyusuri tempat yang ia datangi saat ini dengan perasaan kacau dan juga sedikit putus asa.
__ADS_1
Berjalan tanpa arah menyusuri tempat yang terasa asing baginya, ia pun terlihat tak tau sedang berada dimana sekarang, terlebih harus mencari kemana lagi untuk mencari keberadaan Airin.
"Haruskah aku kembali? Tapi, aku sudah terlanjur berjanji dengan anakku untuk membawa mamanya pulang bersama." Ucap Darren sedikit frustrasi karena belum juga menemukan Airin.
.....
Hari pun semakin malam dan gelap, namun Darren terus berusaha mencari keberadaan Airin tanpa memperdulikan kondisinya yang sebenarnya baru tiba dari perjalanan keluar negeri.
Saat ini ia kembali lagi ke arah mobilnya yang tengah terparkir dan menghampirinya bersama Arsen yang kini telah berhasil menemukan keberadaanya.
"Bagaimana? Apa kamu dan bawahanmu sudah menemukan sesuatu?" Tanya Darren pada Arsen yang ia tugaskan untuk mencari Airin.
"Maaf, pak, kami belum menemukan apapun, tapi sampai detik ini kami masih berusaha mencari." Sesal Arsen sedikit menunduk bersalah.
Jawaban Arsen semakin membuat Darren tak tenang dan semakin membuatnya putus asa.
Tanpa penolakan Arsen pun langsung memberikan kunci mobilnya pada Darren.
"Kamu coba datang kerumahnya Airin, siapa tau Airin sudah pulang, kabari aku jika dia sudah pulang." Pintanya kemudian.
"Baik." Jawab Arsen mengerti.
Darren pun pergi bersama mobilnya seorang diri, dan meninggalkan Arsen sendirian bersama tugas yang dia berikan.
Setelah Darren pergi, Arsen yang mendapatkan tugas langsung dari Darren segera melaksanakan perintah tersebut. Namun, sebelum itu ia mencoba menelfon rekannya yang sudah ia tugaskan untuk mencari Airin. Setelahnya ia pun langsung bergerak menuju rumah Airin, ditemani rekannya yang lain.
__ADS_1
Sedangkan Darren, melajukan perlahan mobilnya untuk mencari keberadaan Airin yang belum juga ia temukan. Ia tampak putus asa melihat Airin yang hingga larut belum ia temukan keberadaanya.
"Apa sebegitunya kamu membenciku?" Ucapnya yang tiba-tiba terasa piluh.
Berhenti disalah satu tempat, Darren mencoba menepihkan sejenak mobilnya. Ia tampak gusar dan kacau dengan masalah yang ia hadapi saat ini. Perasaan putus asa yang baru pertama kali ia rasakan ini ternyata begitu menyiksa dan mengacaukan harinya.
"Sekarang aku harus pergi kemana untuk mencarinya." Ujarnya yang sudah mulai putus asa.
Saat ia sudah mulai putus asa tak bisa menemukan keberadaan Airin, panggilan telfon dari orang yang tak ia harapkan masuk dan kembali merusak suasana hatinya yang saat ini sedang tak baik. Laura, perempuan yang dulu pernah ia jodohkan itu, kini mencoba menelfonya.
"Sial, harusnya ku blokir saja nomornya." Umpat Darren yang terlihat tak senang ketika melihat panggilan dari Laura hingga membuatnya mengabaikan panggilan itu begitu saja, dan akhirnya ia pun kembali melajukan mobilnya untuk mencari Airin, tanpa memperdulikan panggilan yang terus Laura lakukan padanya.
Merasa diabaikan, Laura yang berada ditempat yang berbeda dengan Darren saat ini, tentu dibuat kesal oleh sikap Darren. Ia yang tak bisa tenang setelah membaca berita tentang Darren yang telah memiliki seorang anak, terus berusaha mengkonfirmasi secara langung pada Darren. Namun, sialnya Darren terus mengabaikan panggilan darinya, hingga membuatnya begitu marah karena terlalu penasaran pada berita yang beredar disekitarnya.
"Jadi, sekarang dia terang-terangan mengabaikanku." Ujarnya kesal melihat Darren yang tak mau mengangkat telfon darinya.
"Tidak bisa begini, aku harus menemui dia." Ujarnya lagi yang masih tak terima dengan berita yang beredar.
Ia yang masih menaruh perasaan pada Darren, terus mencari kebenaran berita tentang Darren, meski sebelumnya ia sudah diberi peringatan oleh Darren, namun Laura tampaknya tak terlalu memperdulikan hal itu, walaupun masalahnya dulu sempat merembet pada kehidupan pribadinya dan juga bisnis keluarganya.
"Setidaknya aku bisa menggunakan ini untuk membalas perlakuanya pada keluargaku." Ucapnya penuh rasa amarah, dan terkesan menaruh dendam pada Darren
Dan, saat ini Darren harus dihadapkan pada amarah dari dua perempuan yang berbeda, yang sama-sama terlibat masalah denganya dan juga sama-sama menyimpan perasaan padanya.
Siapa yang akan ia prioritaskan nanti, dan apakah nanti ia bisa menghadapi segala resiko yang terlanjur terjadi padanya? pada dua perempuan yang saat ini telah menaruh perasa marah dan juga kesal padanya.
__ADS_1
Bisakah ia menghadapi kelicikan Laura yang begitu gigih mengejarnya? Lalu, akankah ia berhasil membujuk Airin untuk memaafkan kesalahanya?
Perjalanan Darren untuk bahagia nampaknya masih begitu panjang, karena tak mudah baginya untuk mengahadapi sikap Airin yang sudah terlanjur marah padanya.