
"Wajah yang tidak bisa kulihat dengan jelas, suara yang terdengar begitu lembut adanya, hingga ku bertanya-tanya siapa dia sebenarnya?" Darren masih mencoba mencari tau kebenaran akan perempuan yang selalu muncul dalam mimpi dan ingatanya itu.
Masih dalam ingatan yang sama, Darren juga masih mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang telah ia perbuat pada perempuan yang sudah tiga kali ia lihat dan bertemu denganya secara tak sengaja. Pertemuan pertama sudah membuatnya bingung sekaligus heran, karena melihat perempuan yang tak ia kenal dengan baik, justru terlihat menangis ketika melihat dirinya. Dan, saat ia menghawatirkan kondisi perempuan itu, karena mendapat kekerasan dari Laura dipertemuan kedua mereka, justru tatapan amarah dengan eskpresi dingin yang ia dapat dari Airin, yang merupakan perempuan yang ia lihat dan jumpai secara tak sengaja itu.
Dan pada pertemuan ketiganya dengan Airin di supermarket yang juga tak sengaja ia lihat, membuatnya kembali tertarik akan identitas asli milik Airin. Terlebih pada pertemuanya bersama Airin lalu, telah mengacaukan pikiranya, karena merasa aneh dan membingungkan dirinya secara bersamaan.
Meski merasa familiar akan wajahnya, namun ia tak bisa memastikan dengan jelas akan identitas aslinya.
Di samping itu, ada perasaan aneh ketika Darren melihat wajah Airin dari dekat. Saat berdekatan dengannya, entah mengapa ingatan akan perempuan yang selalu muncul dalam mimpinya bisa muncul dalam ingatannya secara samar-samar, dan entah mengapa hatinya ikut bereaksi ketika melihat Airin secara langsung. Perasaanya menjadi aneh ketika menatap wajahnya dan merasakan getaran yang tak terduga pada hatinya.
"15 menit lagi kita akan ada meeting, jadi aku mau memberikanmu proposal pembahasan dalam meeting nanti."
Lucas yang kembali bertugas sebagai sekretaris Darren, mencoba memberikan bahan materi yang akan digunakan dalam meeting nanti. Namun, Darren yang ia ajak berbicara tengah dalam dunianya sendiri. Ia terlihat merenungkan sesuatu dengan wajah seriusnya.
Lucas melihat Darren yang tengah tak fokus ketika sedang ia ajak bicara. Ia menjentikkan dua jarinya untuk mengalihkan fokus Darren padanya yang kini telah berdiri di depanya.
"Ada apa?" Darren yang sudah tersadar dari lamunannya, menatap Lucas yang ada di depannya.
"Ada apa?" Kernyit Lucas. "Harusnya aku yang bilang begitu, anda sedang apa tuan Darren sampai tidak sadar ada saya disini?" Ucapnya lagi.
"Sorry deh. Oh, kamu bawa materi buat meeting, ya?" Darren yang tersadar akan arah pembicaraan yang dimaksud oleh Lucas, kini beralih menatap ke arah proposal yang diberikan oleh Lucas padanya.
"Kenapa sih? Masih mikir soal perempuan itu?" Tanya Lucas dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, kita bahas ini aja, bentar lagi kan kita mau masuk ruang meeting." Darren tak menjelaskan kegundahan hatinya pada Lucas dan memilih mengalihkannya pada proposal yang akan ia gunakan untuk meeting nanti.
Lucas tak mendebatnya lagi dan mengikuti ritme Darren yang ingin membahas soal bahan materi mereka yang akan digunakan pada meeting bulanan perusahaan.
...
15 menit pun berlalu begitu saja, dan keduanya pun masuk pada ruang meeting untuk membahas soal pergerakan angka penjualan produk yang telah dibuat oleh perusahaan yang sedang dipimpin oleh Darren saat ini.
Meski sempat merasakan perasaan yang galau karena memikirkan perempuan yang selalu muncul dalam mimpi dan ingatanya, juga pada pertemuanya dengan Airin, namun saat meeting telah dimulai, Darren terlihat masih bisa fokus pada acara meeting tersebut. Pembawaan yang tegas dalam rapat, membuatnya terlihat berwibawa dan berkharisma.
"Penjualan bulan ini memang naik, tapi angka naiknya tidak terlalu signifikan, sehingga keuntungannya tidak terlalu bisa dirasakan pada perusahaan. Aku berharap ada perbaikan dalam hal menaikan kualitas produk, agar produk-produk yang diedarkan keluar adalah produk yang berkualitas terbaik, dengan begitu penjualan akan ikut naik. Strategi pemasaran juga tidak boleh monoton lagi, karena aku lihat masih ada yang mencoba mempertahankan cara lama, yang terlihat sudah tidak efektif lagi jika digunakan di era sekarang." Ujar Darren saat memberikan pendapat dan arahan dalam rapat.
Semua memperhatikan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Darren selaku pemimpin mereka. Mencatat dan mendengar dengan seksama apa yang dikatakan oleh Darren. Begitulah meeting akhirnya berjalan dengan lancar selama 30 menit berlalu. Meski sempat ada perbedaan pendapat dan selisih suara, namun Darren masih bisa menghandle rapat yang akhirnya bisa memberikan solusi terbaik bagi perusahaan yang dipimpinnya.
"Kita lihat saja gimana kinerjanya nanti, setelah bersikap begitu apa mereka bisa mempertanggung jawabkan ucapannya?" Balas Darren yang terlihat puas dengan hasil meeting hari ini dan terlihat tak memperdulikan akan protes dari para peragu.
Usianya yang masih muda dengan jam terbangnya yang terbilang masih baru dalam perusahaan. Membuat Darren mendapatkan keraguan dari berbagai pihak, terutama bagi para pimpinan perusahan yang sudah lama bersama perusahaan selama Darren pergi dari rumah. Semua terlihat meragukan kepemimpinan yang Darren lakukan, meskipun Darren merupakan penerus perusahaan dimasa depan.
"Mereka memusuhi orang yang salah"
Meski sebelumnya Darren tak ingin meneruskan perusahaan milik sang kakek, karena itu dirinya memilih pergi dari rumah dan keluar dari anggota keluarganya sendiri. Namun, karena ada perusahaan yang sempat dihandle oleh almarhum mamanya dulu, membuatnya mau tidak mau ikut terlibat di dalamnya dan memilih bergabung kembali dalam perusahaan.
...
__ADS_1
Kini Darren telah kembali kedalam ruanganya bersama dengan Lucas. Ia melemaskan sejenak tubuhnya setelah keluar dari perang dalam meetingnya tadi.
"Aku sudah membawakan teh nih buatmu. Minumlah, setidaknya redakan rasa lelahmu dengan teh ini." Lucas yang keluar sebentar, kembali dengan membawa teh untuk Darren dan untuk dirinya.
"Thanks." Darren mengambil teh yang diberikan oleh Lucas padanya, dan mulai meminumnya.
"Ren, soal keberangkatanmu ke Melbourne nanti, apa itu harus kamu lakukan?"
"Kenapa tanya lagi soal itu, kan aku sudah bilang kemarin."
"Melihat kondisimu tadi saja sudah menghawatirkan, bagaimana nanti kalau kamu jadi berangkat, coba?"
"Sudahlah, aku gak mau bahas soal itu lagi. Aku mau bahas soal yang lain." Darren meletakkan cangkir teh yang ia pegang.
"Soal lain? Soal lain apa maksudmu?" Lucas yang tengah duduk, menatap bingung pada Darren.
"Kamu ingat soal Laura, kan?"
"Iya, aku ingat. Kenapa memang?"
"Aku minta perkembangan soal dirinya, takutnya dia berbuat hal nekat lainya."
"Tenang aja, aku sudah memata-matai dirinya sepulangnya dia tadi. Soal keluarganya juga sudah tidak ada masalah lagi." Jelas Lucas yang menenangkan Darren.
__ADS_1
"Baguslah, kalau melihat sikapnya aku masih nggak yakin dia akan diam aja meski aku sudah memberi peringatan padanya."