Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
64. Berita Yang Mengejutkan


__ADS_3

Hari yang damai sejak pagi, dan di dukung pula oleh cuaca yang tampak cerah. Namun tidak dengan yang dirasakan oleh Darren hari ini, ia terlihat banyak pikiran dan tak bisa fokus dalam pekerjaanya, karena sejak kepulanganya dari melbourne pikirannya selalu tertuju pada sosok Airin, hingga mengacaukan hati dan perasaanya.


Airin yang dimatanya, masih terlihat asing olehnya, namun disatu sisi hatinya seperti menolak untuk melupakannya, hingga wajahnya kembali membayangi hari-harinya. Bahkan berada di dalam kantor pun, pikirannya tetap tertuju pada Airin dan pada hal yang baru saja ia temukan saat mengunjungi melbourne yang lalu. Meski singkat dan tak menggali lebih jauh, namun hanya dengan melihat siluet bayangan itu entah mengapa sudah membuatnya merasa ada kemajuan.


Hanya karena siluet bayangan yang ia lihat dalam kunjungannya beberapa hari lalu ke melbourne, seorang Darren tak bisa melupakan begitu saja wajah yang kini selalu muncul dalam mimpinya dan mengacaukan pikiran juga hatinya.


"Bahkan sekarang wajahnya muncul dalam mimpiku."


Darren kembali merenungkan tentang kedekatan apa yang ia lakukan bersama Airin di masa lalu.


"Karena memikirkan hal itu, aku harus kembali dirawat dan mendengar ocehan Lucas." Ujarnya merasa semakin dibuat pusing pada hal yang mengganggu pikirannya itu, hingga kembali membuatnya jatuh sakit.


Meski kondisinya setelah pulang dari melbourne belum terlalu baik, Darren yang tak perduli akan itu, terus mencoba menggali kenangan masa lalunya, meski rasa sakit dalam kepalanya seringkali menyerangnya saat ia terlalu keras dalam mengingat akan ingatannya itu.


Karena tak bisa menemukan apapun di dalam apartemen miliknya, Darren pun harus kembali kerumah keluarganya meski sedikit enggan untuk melakukanya. Untuk memastikan sesuatu di dalam kamar yang dulu pernah ia gunakan selama tinggal disana, membuat Darren akhirnya terpaksa datang kerumah. Namun, dikamar lamanya itu, juga tak bisa ia temukan sesuatu yang ingin ia cari dan kembali buntu.


"Sial, itu artinya aku hanya harus menunggu penyelidikan dari Arsen." Ucapnya yang sedikit kesal, hingga akhirnya memilih menyerah untuk menyelidikinya sendiri dan menunggu Arsen menghadap padanya sembari membawa laporan yang ia minta sebelumnya.


Karena hal tak berjalan sesuai apa yang ia mau, membuatnya merasa tidak tenang dan dilanda rasa penasaran.


....


Tok.., tok..., suara ketukan dua kali dari arah pintu membuat Darren yang sedari tadi terua melamun, tersadar dan menatap ke arah suara.


"Siapa?" Ucapnya kemudian.


"Saya Arsen, pak." Jawab Arsen dari luar pintu.


Mendengar nama Arsen, Darren yang sedari tadi tidak bisa fokus bekerja, memberikan reaksi yang sedikit tertarik dan seketika berubah lebih semangat.


"Masuklah." Ucap Darren.

__ADS_1


Arsen pun membuka pintu, lalu masuk kedalam ruangan untuk menghadap pada Darren, sembari membawa sebuah laporan ditangannya. Darren yang melihat laporan yang dibawa oleh Arsen, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, karena ia yakin itu adalah laporan yang ia minta sebelumnya.


Darren begitu yakin itu adalah laporan yang ia minta, karena selama ini apapun yang Arsen lakukan selalu berhasil ia lakukan, karena itu Darren merasa yakin Arsen telah berhasil menjawab permintaanya.


"Apa itu laporan yang ku minta saat itu?" Tanya Darren pada laporan yang dibawa oleh Arsen.


"Iya, pak. Saya menbawakan hal yang anda inginkan." Jawab Arsen, yang kemudian menyodrokan berkas laporan yang dibawanya.


"Kamu sedikit lama ya, kali ini." Ujar Darren menerima laporan yang Arsen bawa dan membukanya kemudian.


"Maafkan saya, karena sempat ada kendala dilapangan." Balas Arsen merasa menyesal.


"It's ok, asal apa yang kuminta lengkap dan membuatku senang." Ujar Darren tak mempermaslahkannya lagi dan lebih memilih untuk membuka isi laporan yang Arsen berikan untuknya.


Ada beberapa foto, tulisan bahkan sebuah barang lama di dalamnya, hingga membuat Darren menatap bingung dan mengernyitkan kedua alisnya ketika pertama kali melihatnya. Sampai disatu titik, kedua bola mata Darren terperanjat kaget ketika melihat foto dirinya yang lagi bersama Airin, terlebih dalam foto tersebut dirinya tersenyum bahagia.


"Kamu.. dapat foto ini dari mana?" Tanya Darren meminta penjelasan pada Arsen.


"Temanku? Siapa namanya? Apa kamu tidak menanyakan kenapa foto ini bisa ada padanya?" Darren yang tak ada gambaran, kembali bertanya pada Arsen.


"Katanya tertinggal di asrama miliknya saat anda berkunjung kesana, dan dia bilang namanya Richard."


Meski sudah mendengar penjelasan dari Arsen, namun Darren masih belum mengingat soal kenangannya saat itu dan melanjutkan kembali melihat-lihat isi laporan yang Arsen berikan padanya.


....


Di tempat yang berbeda, Arka yang biasa kalem dan tenang, tiba-tiba bersikap marah pada teman sekelasnya karena suatu alasan.


"Ayo minta maaf." Ucapnya marah pada temanya itu.


"Tidak mau." Temanya itu menolak untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Dasar nakal, akan ku adukan pada bu guru." Ucap Arka mengancam.


"Kamu yang nakal, karena memukulku." Temannya tak mau kalah.


"Kamu duluan yang menghina mama Arka." Arka pun juga tak mau kalah.


Suasana kelas pun tampak kacau dengan adanya pertengkaran itu, hingga membuat lainya ikut ribut saat melihatnya, bahkan ada yang menangis saat melihat pertengkaran itu dan teman lainya ada yang langsung berlari untuk melaporkanya pada guru.


Kondisi kedua anak yang sedang berantem hebat pun menjadi acak-acakan karena saling berbalas pukulan, bahkan saling tak mau kalah, hingga membuat teman yang ingin melerai mereka sedikit kewalahan dan takut.


"Anak-anak, apa yang sedang kalian berdua lakukan." Wali kelas Arka datang setelah dipanggil salah seorang temanya.


"Ayo berhenti, Arkana dan Bimantara." Wali kelas yang bernama bu Citra itu pun berusaha melerai pertengkaran antara dua anak muridnya.


"Tidak mau, Bima yang mulai duluan karena sudah menghina Arka dan mama Arka." Dengan tampilanya yang sudah berantakan dan tangis yang mulai pecah, Arka pun berusaha menjelaskan pada wali kelasnya dan tak mau meminta maaf duluan.


"Apa itu benar, Bima?" Bu Citra yang mendengar itu pun langsung mencoba mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh Arka.


"Tapi, Arka juga memukul Bima." Bima tak menjawabnya dengan jujur dan tetap berusaha untuk mengelak.


Karena jawaban Bima, Bu Citra yang mengerti pun akhirnya menasehati keduanya.


"Meski Bima bersalah, Arka tidak boleh memukul teman begitu, ya, karena itu tidak baik." Ucapnya pada Arka dan Arka hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Dan, Bima, kamu juga tidak boleh menghina orang sembarangan, itu juga tidak baik, kamu mengerti, kan?" Kali ini bu Citra beralih menatap Bima dan Bina juga tak menjawabnya.


"Ayo, kalian berdua saling meminta maaf." Ujar bu Citra meminta keduanya slaing meminta maaf.


"Nggak mau.." Arka berlari keluar begitu saja setelah mebgatkan hal itu, hingga menbuat bu Citra terkejut dan berusaha mengejarnya, namun tentu saja ia terlebih dahulu memberikan disiplin pada Bima yang telah memulai pertengkaran.


"Duh, dimana, ya?" Bu Citra tampak panik ketika tak bisa menemukan keberadaan Arka.

__ADS_1


Hingga ia pun akhirnya memutuskan untuk memberikan kabar soal ini pada orang tua Arka sembari terus mencari keberadaan Arka, dibantu juga oleh guru lainnya.


__ADS_2