Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
31. Begitu Dekat, Namun Terasa Jauh


__ADS_3

Dia tepat berada di depanku saat ini, namun mengapa terasa begitu jauh? Wajah yang ku rindukan itu telah berada sangat dekat denganku dan kini tengah menatap ke arahku, tapi aku bahkan tidak bisa mendekat ke arahnya.


Air matanya seperti hendak keluar karena tak bisa menahan rasa kerinduannya pada orang yang ia cintai, dengan segera ia memalingkan wajahnya dan menenangkan hatinya yang kini tengah terluka.


"Anda tidak apa-apa?" Sebuah kalimat yang menandakan bahwa orang di depanya itu tak mengingat akan dirinya, dan semakin merobek hatinya.


"Mama ayo kita pulang." Arka mencoba menggoyangkan tubuh Airin dengan meminta untuk pulang.


Berada dalam situasi yang tak dimengertinya, agaknya membuat Arka begitu tak nyaman dalam suasana tersebut dan meminta untuk segera pulang dari tempat itu. Saat rengekannya pada Airin untuk meminta pulang, tanpa di duga mendapat perhatian dari Darren dan Lucas yang berada dalam tempat yang sama denganya.


Darren menatap diam pada anak di depanya dengan perasaan yang seolah terikat, namun juga merasa asing. Lain halnya dengan Lucas yang terlihat tertarik ketika melihat wajah anak di depannya yang merasa begitu familiar.


"Wajahnya kenapa aku berasa kenal, ya?" Gumam Lucas begitu melihat wajah Arka. Ia mengernyit mencoba mengingatnya.


Di samping itu, Airin yang mendengar rengekan anaknya yang meminta untuk pulang langsung menatap wajah anaknya dengan perasaan bersalah. Ia mendekap tubuh anaknya dengan erat dalam pelukanya, untuk menenangkan sang anak dan dirinya sendiri yang kini juga berada dalam keadaan sulit.


Sedangkan Darren merasa cukup bingung terhadap perempuan di depanya yang tak menjawab pertanyaan darinya yang menghawatirkan kondisinya. Meski raut wajahnya cukup terkejut melihat wajahnya yang terasa familiar itu.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya, ya?" Tanya Bian kemudian, dengan raut wajahnya yang penuh rasa penasaran.


Airin terdiam, entah mengapa hatinya semakin sakit mendengarnya. Ia menatap wajah laki-laki yang sangat ingin ia temui itu dengan ekspresinya yang dingin.


"Maaf, saya harus pergi." Ucapnya kemudian dan pergi dari tempat tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari Darren.Meninggalkan Darren, Lucas dan juga Laura yang masih berada dalam kerumunan. Entah mengapa ekspresi Airin berubah menjadi marah ketika membalikkan badannya dari orang yang dia cintai itu.


"Lu kenal sama dia?" Tanya Lucas begitu Airin menjauh dari hadapan mereka. Namun Darren masih diam tak menjawabnya, karena ekspresinya kini tertuju pada perempuan yang memberikan tatapan dingin padanya sebelum pergi meninggalkanya.


"Darren, kamu datang kesini bukan untuk memandanginya, kan?" Ucap Laura yang terlihat tak suka ketika melihat Darren yang terdiam memandangi Airin yang telah pergi bersama anaknya.


Darren menoleh ke arah Laura dengan memasang ekspresi dingin. "Kamu benar-benar selalu membuat masalah, ya!" Ucap Darren yang langsung pergi meninggalkan Laura sendirian dengan moodnya yang terlihat kacau.

__ADS_1


"Darren, kok kamu pergi sih? Bukanya kita mau makan hari ini?" Cegat Laura yang tak ingin Darren pergi.


"Kamu makan saja sendirian, aku sudah tidak berselera." Ketus Darren kembali melanjutkan jalanbya dengan di ikuti oleh Lucas disampingnya.


Tentu saja Laura merasa marah dan cukup kesal akan itu, karena dirinya yang sudah terlanjur datang dan berdandan dengan rapi untuk acara makan mereka, terlebih dirinya yang harus menunggu lebih dari 30 menit untuk menunggu kedatang Darren. Karena hal inilah yang membuat moodnya jadi buruk dan melampiaskan begitus saja pada Airin dan anaknya.


"Darren, kalau kamu pergi dari sini, aku akan menyebarkan berita tentang pernikahan kita lagi." Teriak Laura dengan amarahnya yang memuncak, hingga membuat Darren dan Lucas menghentikan langkahnya.


Bisik-bisik orang disekitarnya, dengan pandangan orang-orang disekitarnya kini telah tertuju pada Laura dan juga Darren.


"Wah, dia benar-benar tidak tau malu banget, ya!" Ucap Lucas merasa tak habis fikir dengan kelakuan Laura yang begitu berani bertingkah di depan umum.


Darren merasa malu akan itu dan hanya bisa menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya yang kini merasa kesal.


"Dasar perempuan keras kepala, sudah dikasih kesempatan masih saja tidak di dengar dengan baik." Ujar Lucas begitu melihat ekspresi kemarahan Darren yang tengah menghampiri Laura. Ia hanya menatap dari jauh obrolan keduanya sambil mencoba membubarkan orang-orang yang mulai kepo pada perdebatan keduanya.


"Hal seperti ini memang harus diselesaikan sekarang juga, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi." Sambung Lucas yang merasa masalah Darren dan Laura harus segera berakhir.


...


Berada ditempat yang berbeda, Airin dan anaknya sudah berada dalam mobil. Keduanya hendak menjauh dari tempat sebelumnya yang sempat membuat keduanya tertahan cukup lama dan menyita waktu keduanya.


"Mama marah ya sama Arka?" Ucap Arka yang melihat Airin hanya diam setelah pergi dari tempat tadi.


"Tidak kok, mama tidak marah sama Arka, hanya saja mama merasa Arka bersalah hari ini. Arka mengakui tidak, kalau Arka sudah membuat mama khawatir hari ini?." Jawab Airin menoleh ke arah anaknya yang duduk disampingnya.


"Arka minta maaf, Arka mengaku salah." Balas Arka yang tak mengelak dari kesalahan yang ia perbuat.


Airin mengelus lembut puncak kepala sang anak dan menatapnya penuh dengan kehangatan.

__ADS_1


"Baiklah, mama maafkan. Tapi, lain kali tidak boleh dilakukan lagi, ya? Arka tidak mau melihat mama sedih, kan?"


Arka mengangguk mengerti dan tak ingin melihat Airin bersedih.


"Tadi, kenapa Arka tiba-tiba menghilang?" Tanya Airin kemudian.


"Arka melihat robot yang berjalan." Jawab Arka dengan jujur dan wajah polosnya.


"Robot yang berjalan?" Airin terlihat tak faham dengan maksud sang anak, hingga mengernyitkan keningnya karena merasa bingung.


"Lain kali kalau mau pergi harus bilang dulu ya sama mama, atau bisa minta antar sama mama, ok!" Ucap Airin yang mengalihkan kebingunganya pada hal lainya.


"Iya." Jawab Arka dengan anggukan kecilnya.


"Yasudah, kalau begitu kita beli sepatu baru buat Arka."


"Arka tidak mau beli sepatu baru." Ucap Arka menolak.


"Eh, kok gak mau? Katanya Arka minta sepatu baru?" Bingung Airin menatap wajah anaknya yang tiba-tiba berubah murung.


"Mama harus diobati, kepala mama kan sakit." Ucap Arka dengan wajah penuh khawatir pada Airin.


Airin menatap haru pada anaknya yang menghawatirkan kondisinya yang tadi sempat mendapat kekerasan.


"Arka khawatir ya sama mama." Elus Airin pada pipi anaknya yang tengah menghawatirkan kondisinya.


"Mama sakit karena Arka, jadi Arka gak mau beli sepatu baru." Ujar Arka yang kini mulai menangis, karena merasa bersalah pada Airin.


"Cup, cup.., mama gapapa kok, dan ini bukan karena salah Arka. Lihat deh, mama gapapa, kan?" Ujar Airin yang mencoba menenangkan Arka dengan memangkunya dan mencoba menunjukkan kondisinya yang baik-baik saja.

__ADS_1


Ia menepuk lembut tubuh anaknya yang sedang menangis sesegukan di dalam pangkuanya.


"Bukan kamu yang harusnya meminta maaf, nak, tapi mamalah yang harus meminta maaf padamu, karena belum bisa mempertemukanmu dengan papa kandungmu." Batin Airin yang kini memeluk anaknya.


__ADS_2