Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
36. Ketika Hati Telah Terikat Oleh Perasaan


__ADS_3

Katanya, saat hati sudah saling terikat satu sama lain, maka akan lebih mudah untuk terhubung, meskipun itu berada dalam jarak yang cukup jauh sekalipun. Tapi, apa iya bisa seperti itu?


Pertanyaan yang sama juga ingin Airin tanyakan pada dirinya sendiri dan juga pada perasaan dirinya yang saat ini begitu terluka terhadap orang yang ia suka. Ia terlihat masih berharap, dengan harapan yang sangat besar, agar adanya keajabian untuk dirinya bisa bertemu kembali dengan orang yang telah lama ia tunggu. Namun, hatinya kini justru kembali tersakiti oleh orang yang sama. Hingga harapan untuk bisa kembali bersama dengan orang yang ia cinta, terlihat sulit adanya.


"Mama, Arka senang banget deh dengan sepatu barunya." Seru Arka yang terlihat bahagia mendapatkan sepatu baru.


"Oh ya? Kalau begitu, mama juga ikut senang mendengarnya."


Airin mengelus lembut puncak kepala sang anak yang tengah memeluk erat kedua sepatu barunya. Ia tiba-tiba terdiam ketika melihat wajah sang anak yang tengah gembira.Ekspresinya menunjukkan rasa sedih sekaligus rasa bersalahnya pada sang anak.


"Arka, kalau..." Airin tiba-tiba saja menghentikan kalimatnya, seolah tak sanggup untuk melanjutkan kata yang hendak ia ucapkan pada sang anak seputar papa kandungnya.


"Kalau..." Arka terlihat menunggu kelanjutan dari kalimat Airin.


"Bukan apa-apa, kok. Mama cuma mau bilang kalau Arka mau sesuatu tinggal bilang saja sama mama." Airin pun mengurungkan niatnya yang hendak membicarakan seputar papa kandungnya.


"Ok, Arka akan bilang sama mama nanti." Senyum Arka membalas ucapan mamanya.


Ma'afin mama Arka, mama sepertinya belum bisa memberitahukanmu soal papa kandungmu.


Perasaan Airin jadi lebih berkecamuk dan mendapatkan pergolakan batin yang cukup kuat pada masalah yang sedang ia alami saat ini. Ia pun masih terlihat bingung harus bagaimana untuk mengatasi situasinya sekarang, terlebih perasaanya sendiri saat ini sedang terluka, hingga tidak tau harus memulai dari mana jika ingin bercerita. Mengingat selama hampir 5 tahun lebih dirinya tak melihat sosok yang telah lama ia tunggu kehadirannya, hingga harapan besar untuk bertemu denganya selalu ada padanya.


Namun, harapan itu seolah musnah, karena ia yang harus menghadapi kenyataan pahit tentang laki-laki yang sudah begitu lama ia tunggu kehadiranya, justru tidak mengenali dirinya. Ia menjadi marah, kesal dan memendam perasaan yang jauh lebih terluka dibanding pada pertemuan pertama mereka setelah sekian lama berpisah.


Saat itu, aku pikir mungkin dia hanya tidak mengenaliku? Namun, ternyata dia benar-benar tidak mengenal aku.


Karena kondisi yang tak memungkinkan saat pertemuan keduanya bersama Darren, membuat Airin tak bisa bertanya lebih lanjut atau sekedar mencoba mengajaknya bicara untuk mengetahui alasan dari Darren yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya.


"Lagi-lagi aku tidak bisa mengajaknya bicara." Ucapnya yang sedikit merasa menyesal.


Perasaan Airin saat itu cukup terkejut ketika bisa melihat wajah Darren untuk kedua kalinya setelah sekian lama. Sempat membuatnya terpaku sejenak, hingga akhirnya memberikan ekspresi marah begitu mendengar Darren yang ternyata benar-benar tidak mengenali dirinya. Hingga yang terpikirkan olehnya saat itu adalah menjauh dari pandanganya.

__ADS_1


Airin yang kini tengah merenung sepulangnya dari mengantar pesanan bunga dan membelikan sepatu buat Arka, kembali menatap wajah anaknya yang sedang bermain dengan mainan miliknya. Merasakan pergolakan batin yang cukup besar terhadap sang anak, karena belum bisa menceritakan kebenaran akan papa kandungnya.


Padahal mereka sudah sedekat itu tadi, tapi..


Airin kembali teringat akan pertemuan dirinya bersama Darren tadi. Meski sudah berada dalam satu lokasi yang sama dan jarak yang cukup dekat, namun tetap terasa cukup jauh bagi dirinya dan juga sang anak. Ketika mengingat hal itu kembali, entah mengapa membuat perasaannya jadi sedih.


Apa aku harus bilang soal ini pada bibi dan paman, ya?


Ia beralih pada bibi dan pamanya yang belum ia beritahu soal kabar pertemuan dirinya dengan Darren. Sejak pertemuan pertamanya lalu, ia belum berani menceritakanya pada bibi dan pamanya, tapi sekarang ia mencoba menimbang berbicara jujur pada bibi dan pamanya soal pertemuanya dengan Darren.


Helaan nafas panjangnya, seolah menenangkan rasa frustrasinya.


......................


...Jika hati memang telah terikat oleh perasaan, semoga perasaan itu bisa tersampaikan dengan baik pada sang pemilik hati, yang kini telah berada jauh dari pandangan....


...


"Kenapa?" Lucas yang datang keruangan Darren menangkap ekspresi Darren yang terlihat kebingungan dengan memegang-megang telinganya.


"Gak tau, seperti ada yang sedang membicarakanku." Balas Darren yang juga merasa bingung sendiri.


Lucas sedikit mengernyitkan dahinya, karena merasa aneh.


"Oh iya, nanti malam kamu akan ada pertemuan dengan klien. Dia klien yang cukup penting, jadi anda harus datang, ok." Ucap Lucas kemudian, mencoba memberitahu maksud tujuanya datang keruangan Darren.


"Jam berapa?"


"Dia bilang ingin ketemuan jam 8 malam ini."


"Yasudah, tinggal atur aja."

__ADS_1


"Ok, siap."


Lucas yang sudah mengatakan tujuannya, hendak kembali ke ruanganya, namun tiba-tiba saja ia jadi teringat sesuatu dan menghentikan langkahnya, yang kemudian membuatnya membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke arah Darren.


"Eh, hari ini aku tidur di apartment milikmu, ya?"


"Hah! Ngapain? Memangnya ada apa dengan apartmen milikmu?" Darren mendongak ke arah Lucas yang berdiri di depanya dengan membuat ekspresi wajah terkejut.


"Tiba-tiba saja ada masalah sama saluran airnya, jadi ada renovasi sedikit."


"Jadi, maksudmu itu, lu bakal tinggal di apartmenku gitu?" Kernyit Darren yang mulai faham arah pembicaraan Lucas.


"Tepat sekali. Boleh ya, soalnya males banget kalau harus tinggal dihotel. Cuma beberapa hari, kok." Pinta Lucas pada Darren.


"Ogah, tinggal sono dihotel, lagian kamarku cuma satu."


"Sialan lu, awas aja kalau lu butuh sesuatu sama gue." Gerutu Lucas menatap kesal pada Darren. Ia jadi lupa berbicara formal pada Darren yang merupakan atasannya sendiri.


"Satu hari, akan kuberikan keringanan buatmu tinggal di apartmen milikku." Ujar Darren yang akhirnya memberikan kelonggaran bagi temannya itu.


"Satu hari doang! yasudahlah, dari pada tidur di jalan." Meski sempat protes, Lucas akhirnya bersikap pasrah dan menerima tawaran dari Darren, mengingat dirinya juga belum mencari tempat tinggal untuk tidurnya malam ini.


"Bagus kalau sudah faham." Tinmpal Darren dengan sikap tenangnya.


"Untung lu temanku, ya." Lucas memberikan senyum gemesnya pada teman karibnya itu.


"Yasudah sana pergi, kembali ke tempatmu semula sana." Usir Darren.


"Ok, ok, ini juga mau pergi, nih." Sambil memaksakan senyumannya, Lucas pun pergi dari ruangan Darren setelah mengatakan soal laporan meetingnya nanti dan tujuannya yang ingin menginap dirumah Darren.


Begitu Lucas keluar dari ruangnya, suasana ruangan miliknya kembali menjadi hening. Darren tiba-tiba menghentikan sejenak pekerjaanya, dan terlihat merenungkan sesuatu dengan ekspresi seriusnya.

__ADS_1


__ADS_2