Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
33. Perasaan Yang Aneh Ketika Melihatnya


__ADS_3

Suara yang berbunyi nyaring dan cukup keras itu begitu menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Sebuah benda yang tiba-tiba jatuh ke lantai dengan keras telah menimbulkan kegaduhan tersendiri bagi para pengunjung supermarket. Namun, disatu sisi ada rasa keterkejutan dan ketakutan bagi yang menimbulkan kegaduhan tersebut, ia adalah seorang anak perempuan yang terlihat berusia 3 tahun dan tak sengaja menjatuhkan benda yang sedang ia pegang.


"Arka kamu gapapa, sayang?" Tanya Airi menanyakan keadaan sang anak ketika melihat Arka berada dekat dengan kejadian itu.


"Iya, Arka tidak apa-apa, tapi gadis itu kakinya terluka, ma." Tunjuk Arka pada seorang gadis kecil yang sedang menangis karena kekacauan yang telah ia buat.


Airin beralih menoleh ke arah gadis kecil yang sedang menangis dan tengah berdiri seorang diri ditengah kerumunan orang yang tengah melihat suara bising itu.


"Kamu gapapa? Sini, gapapa, biar tante yang bereskan pecahannya." Airin menghampiri gadis kecil yang sedang menagis itu, dan mencoba menenangkannya yang terluhat ketakutan ditengah keramaian orang.


"Mama kamu kemana? Apa kamu datang sama mama kamu kesini?" Tanya Airin mencoba mencari keberadaan orang tua gadis itu, namun gadis kecil itu hanya menggeleng tidak tau.


Airin yang kebingungan karena tidak tau keberadaan orang tua gadis kecil itu, hanya bisa menenangkan gadis kecil itu dengan menepuk-nepuk pelan tubuhnya.


"Tidak apa, nanti kita cari sama-sama ya mama dan papa kamu. Sekarang tante mau bersihkan pecahannya dulu, kamu sama kak Arka ya disini." Ucapnya mencoba untuk bersikap tenang dalam situasi yang sedikit menyulitkanya itu. Airin lalu meminta pada Arka untuk menggandeng tangan gadis kecil itu selagi ia membersihkan serpihan dari pecahan kaca yang tengah berserakan dilantai.


Meski bukan orang tua dari gadis kecil itu, Airin mencoba meminta maaf pada kerumunan orang-orang yang tengah melihat kegaduhan yang dilakukan oleh gadis kecil itu, karena ia hanya ingin semua orang membubarkan diri, mengingat gadis kecil itu sedikit ketakutan ketika melihat kerumunan orang-orang yang melihatnya. Ia pun beralih membersihkan pecahan yang di akibatkan oleh ketidaksengajaan gadis kecil itu.


"Cup.. Cup.., tidak udah menangis lagi, pecahanya sedang dibersihkan sama mamaku." Ucap Arka mencoba menenangkan gadis kecil yang sedang bersamanya itu.


"Aku takut." Gadis kecil itu mulai berbicara.


"Kenapa? kan kamu tidak sengaja melakukanya?." Dengan dewasanya Arka mencoba menghibur seorang gadis kecil yang sedang ketakutan itu. Meski sebelumnya ia melakukan kecerobohan yang sama, namun Arka yang sekarang seolah sedang mencoba menjadi kakak yang bisa di andalkan dihadapan seorang gadis kecil yang baru ia temui itu dan sejenak melupakan kesalahan yang ia lakukan sebelumnya.


...

__ADS_1


Di saat kerumunan orang-orang yang berkumpul telah membubarkan diri ketika Airin menggantikan gadis kecil itu untuk meminta maaf. Dua laki-laki yang berdiri tak jauh dari arah suara, terlihat masih berdiri menatap Airin yang tengah membersihkan serpihan botol kaca yang terjatuh.


"Dia perempuan yang kita temui tadi, kan ya?" Ucap Lucas ketika merasa teringat dengan wajah Airin yang ia lihatnya tadi bersama Laura.


Namun Darren yang ia ajak bicara, tiba-tiba saja menjadi terpaku ketika melihat wajah yang ia lihatnya lagi itu. Ingatnya akan ekspresi Airin yang menatapnya dingin sebelum pergi telah muncul kembali dalam fikirannya.


"Kenapa malah diam? Lu sakit?" Tanya Lucas ketika melihat Darren tak memberikan responnya.


"Apa kita pernah ketemu perempuan itu sebelumnya, ya? Entah kenapa aku merasa familiar begitu melihatnya?" Ucap Bian sedikit mengingatnya.


Agaknya Darren sedikit merasa kepikiran dengan perempuan yang ia lihat, entah mengapa ia merasa kenal dan pernah bertemu sebelumnya, terlebih ada perasaan yang terasa aneh pada dirinya pada perempuan itu ketika melihatnya. Terasa aneh, hingga terus mengganggu dirinya.


"Lha, kan kita emang ketemu sama dia,


tadi!" Balas Lucas yang merasa agak bingung dengan ucapan Darren.


"Sama gue juga? Mungkin cuma lu kali, yang pernah ketemu sama dia." Ujar Lucas yang tak merasa bertemu sebelumnya.


"Enggak, gue yakin banget waktu itu ada lu juga disitu." Yakin Darren pada ingatannya.


"Hah! Masa sih?" Teleng Lucas mencoba mengingat sesuatu dengan melihat ke arah perempuan di depanya, yang tak lain adalah Airin. Namun, tiba-tiba saja ekspresinya jadi berubah begitu melihat Arka.


"Ah, benar, anak laki-laki itu." Gumamnya yang tiba-tiba jadi tertarik pada Arka.


"Entah mengapa ekspresi dia mengingatkanku pada..." Di samping itu, Darren yang mencoba mengingat-ingat kembali, tiba-tiba saja jadi tersadar akan sesuatu dan terlihat tak mendengar gumaman yang dilontarkan oleh Lucas.

__ADS_1


"Benar, perempuan itu." Ucap Bian dengan ekspresi yakin ketika mulai ingat kembali akan perempuan yang ia lihat.


"Siapa dia? Apa gue juga kenal sama dia?" Tanya Lucas penasaran dengan menoleh ke arah Darren ketika sempat memberikan perhatianya pada Arka.


"Enggak, lu gak kenal sama dia, dan aku juga sebenarnya gak kenal sama dia." Balas Darren.


"Lha terus?" Ucap Lucas dengan ekspresi bingungnya pada perkataan Darren yamg sedikit membingungkannya itu. Ekspresinya seolah meminta penjelasan yang lebih jelas lagi pada Darren.


"Aku hanya pernah melihatnya sekali waktu di pesta pernikahan."Jawab Darren ketika mengingat sosok Airin yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Ah.., si perempuan yang katanya menanangis saat melihatmu itu." Ingat Lucas kemudian yang sekarang mengerti maksud dari Darren.


"Benar, perempuan yang menangis ketika melihat wajahku dan sekarang dia juga menunjukkan ekspresi dinginnya padaku, seolah lagi marah padaku."


Darren cukup terganggu dengan dua ekspresi berbeda yang dilakukan oleh Airin padanya. Perasaanya menjadi aneh dan terlihat terganggu akan itu, seolah merasa sedang dipermainkan.


"Aku sempat melupakanya, karena aku fikir kita tidak akan bertemu kembali, dan sekarang aku merasa terganggu lagi dengan ekspresi yang dia lakukan padaku." Ucap Darren menatap lurus pada Airin yang kini tengah berbincang pada kedua orang tua gadis kecil itu.


"Halah, itu pasti perasaanmu doang kali! Lagipula lu kan tidak begitu mengenalnya?" Kata Lucas ikut memberikan pendapatnya.


"Justru karena itu, karena kita tidak mengenalnya..."


Tiba-tiba saja dada Darren merasakan sakit yang cukup nyeri, ingatan yang selalu berputar dalam kepalanya pun anehnya ikut muncul kembali hingga membuatnya merasakan sakit pada kepalanya.


"Ren, lu kenapa?" Tanya Lucas dengan panik ketika melihat kondisi sahabatnya yang terlihat tak baik-baik saja.

__ADS_1


"Kepala dan dadaku tiba-tiba sakit. Suara itu.., suara dan bayangan itu muncul lagi." Dengan sekuat tenaga dan keringat dingin yang kini menyelimuti wajahnya, Darren mencoba menahan rasa sakitnya.


"Kita pergi dari sini dulu." Ucap Lucas mencoba tetap tenang dan membawa Darren keluar dari supermarket untuk menuju ke rumah sakit.


__ADS_2