Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
91. Bertemu


__ADS_3

Hiiks.. Hiiks..


Suara tangisan yang semakin kencang dari Airin terus terdengar, suara yang memperlihatkan rasa kepedihanya yang begitu meluap hingga terlihat begitu emosional.


Suara ombak yang terus bersuara, angin laut yang bertiup kencang dan semakin dingin bersamaan dengan perasaanya yang semakin kacau karena permasalahnya yang begitu rumit, semakin menambah penderitaanya.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Tampak frustasi dengan apa yang terrjadi, ia seolah kehilangan arah tujuannya sekarang. Dengan pergi tanpa pamit pada keluarga dan anaknya, bersama perasaan yang menggebu karena terlalu terkejut mendengar penjelasan Darren, membuatnya kini kehilangan rasionalitasnya.


Ia pergi begitu saja setelah mendengar Darren menceritakan semuanya, tentang bagaimana ia bisa lupa ingatan yang hingga akhirnya membuatnya sampai meninggalkan dirinya seperti ini. Karena terlalu terkejut mendengar penjelasan itu, Airin yang dipenuhi rasa amarah yang menumpuk pergi tanpa menoleh kebelakang, seolah tak bisa menerima penjelasan darinya.


"Apa sekarang aku terlihat egois?"


Meratapi apa yang ia rasakan saat ini, Airin mulai mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya itu. Menatap lurus pada pemandangan di depan yang hanya ada laut dan suara ombak yang menyambutnya.


Terdiam meratapi kesedihan yang menumpuk dipikiranya, ia seolah terhanyut dengan pemandangan yang ada di depannya. Duduk termenung diatas gubuk sederhana milik kerabatnya itu, dengan tatapan lurus tanpa eksresi ia sedang merenungkan kemabali persoalan-persoalan yang sedang menimpa hidupnya saat ini.


"Haruskah aku pulang?" Ucapnya setengah tak bersemangat.


Melihat hari telah gelap gulita dan semakin larut, ia menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat, dan begitu ia melihat jam pada ponsel miliknya yang sempat mati namun ia hidupkan kembali, disana tertera waktu yang telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dan ia pun baru menyadari telah pergi meninggalkan anaknya terlalu lama.

__ADS_1


Melihat kembali ponsel miliknya yang dipenuhi berbagai penggilan dan pesan dari bibi dan pamanya. Pangilan-pangilan yang tertera diponsel miliknya datang dari keluarga yang menghawatirkan keadaanya, namun juga ada nomor yang tak ia kenal disalah satu daftar panggilan untuknya, saat ia berusaha mencoba menatap nomor asing itu dan juga mencoba membuka pesan dari bibinya, ponsel miliknya kembali mati karena kehabisan batrai.


Airin yang tak membawa charger dan juga power bank, akhirnya memilih pasrah dengan keadaan dan tak lagi perduli pada ponselnya yang mati. Ia hanya termenung dengan kondisinya saat ini, dan tak bisa menyalahkan apapun pada keadaan yang sedang menimpa dirinya. Karena ia pergi tanpa persiapan diri dan terkesan terburu-buru, juga sedikit gegabah. Helaan nafas panjangnya mengakhiri kecerobohanya sendiri.


.....


Pergi tanpa tujuan, dan akhirnya harus berakhir ditempat yang tanpa terduga ia datangi saat ini. Rumah sederhana yang berada dipesisir pantai milik salah satu kerabat yang ia kenal.


Meski terlihat tua dan tak ada penghuninya, namun bangunan yang terbuat dari kayu itu masih terlihat kokoh dan rapi, juga masih layak untuk ditempati, walaupun sudah tidak ada lagi cahaya di dalamnya. Namun, karena cahaya dari rumah tetangga sebelahnya sedikit membuatnya bernafas lega karena masih bisa melihat cahaya walau samar-samar karena jaraknya yang tak terlalu dekat, namu setelah ia menemukan sebuah senter kecil di dalam mobilnya, ia pun akhirnya bisa menerangi rumah yang tampak gelap gulita.


Karena tak terkunci rapat, ia juga masih bisa masuk kedalam rumah, walau di dalamnya sudah penuh dengan debu dan sarang laba-laba yang sudah bertebaran dilangit-langit atap rumahnya.


Ia yang dulu pernah datang bersama almarhum orang tuanya sebanyak dua kali, mengingat kembali momen yang dulu pernah ia lakukan saat berkunjung kerumah kerabat dari ayahnya itu. Walaupun kini, rumahnya sudah tak lagi digunakan, karena pemiliknya yang memilih pindah, namun Airin tampaknya senang saat mengingat dulu pernah datang kesini saat kecil dulu bersama kedua orang tuanya.


Wajahnya tiba-tiba sedih saat teringat kembali pada mendiang orang tuanya, membuatnya jadi merasa bersalah pada mereka yang sudah dulu pernah melahirkan dan juga membesarkanya hingga usianya 15 tahun.


"Ibu sama ayah pasti akan sedih kalau melihat kehidupanku jadi seperti ini." Ujarnya yang jadi merasa bersalah oada orang tuanya.


"Maafkan Airin, karena Airin tidak bisa hidup bahagia seperti apa yang kalian harapkan selama ini." Ujarnya kembali sakit saat teringat kembali pada momen terakhirnya ketika masih bersama kedua orang tuanya.


Menyusuri kembali rumah yang menyimpan memori masa kecilnya bersama orang tuanya dulu, saat ia masuk kedalam ia seperti melihat dirinya dulu ketika datang kerumah ini bersama orang tuanya. Seolah ia bisa melihat dirinya dimasa lalu yang sedang tersenyum bahagia bersama kedua orang tuanya juga kerabat ayahnya yang merupakan pemilik rumah ini.

__ADS_1


"Apa dulu aku memang sebahagia itu, ya?"


Ilusi yang ia lihat membuatnya terdiam, karena tiba-tiba saja ia jadi teringat kembali dengan kenanganya dulu saat bersama Darren, saat itu ia juga tersenyum bahagia seperti masa kecilnya dulu. Saat mengingat itu, membuat perasaanya kembali sakit dan tanpa sadar membuat matanya kembali menggenang.


.....


Orang yang membuatnya sedih itu, kini dengan kecepatan yang tinggi mengendarai mobilnya seorang diri dengan kondisi yang tak lagi memperdulikan dirinya sendiri yang terlihat begitu lelah, bersama waktu yang semakin larut dan bahkan menjelang pagi, karena ingin segera bertemu dengan Airin yang sedari tadi terus ia cari-cari keberadaanya.


"Semoga dia masih ada disana." Ujar Darren yang sedari tadi mengendarai mobilnya tanpa berhenti.


Terus berjalan tanpa memperdulikan perutnya yang kosong karena belum sempat makan, dengan kondisi tubuh yang terlihat kelelahan, bersama ekspresi wajah yang menampakkan raut wajah pucat.


Seolah tengah dikejar oleh waktu, Darren tak memperdulikan dirinya sendiri dan hanya fokus untuk mencari Airin dan membawanya pulang kembali. Waktu yang harusnya ia tempuh bisa sampai dua jam lebih, kini ia sudah sampai ditempat Airin berada dengan waktu yang ia habiskan kurang dari 2 jam. Betapa ngebutnya ia untuk sekedar berjumpa dengan Airin, sampai ia lupa pada keselamatanya sendiri. Namun, beruntungnya ia masih bisa tiba ditempat tujuan dengan selamat dan tanpa kendala apapun.


"Akhirnya aku menemukanmu." Ucapnya begitu melihat mobil milik Airin yang tengah terparkir.


Ia turun dari mobil miliknya, dan langsung menghampiri mobil milik Airin, namun ia tak menemukan keberadaanya yang ada di dalam, membuatnya mencari keberbagai sisi, hingga ia sadar melihat ada bangunan rumah kosong yang tak jauh dari mobil milik Airin terparkir.


"Rumahnya terlihat gelap dan kosong, apa benar dia ada disini?"


Melihat bangunan rumah yang tampak kosong dengan kondisinya yang seperti tak berpenghuni, sempat membuat ragu Darren, namun karena melihat ada mobil miliknya yang terparkir menandakan bahwa ia memang ada disekitar sini. Perlahan, ia pun mencoba menghampiri rumah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2