Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
83. Kecemasan


__ADS_3

Airin pergi meninggalkan Darren begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasan lebih yang hendak Darren katakan padanya. Kesalahfahamanya tentang Darren yang berniat membawa anaknya, terus terngiang dikepalanya hingga membuatnya merasakan kecemasan.


"Aku tau akan begini." Sambil terus mondar mandir dengan ekspresi cemas yang begitu terlihat jelas diwajahnya, Airin tak satupun merasa tenang setelah pertemuan terakhirnya bersama Darren.


"Karena inilah kenapa beberapa hari yang lalu perasaanku terus merasa tidak enak." Gumamnya yang terus memikirkan kecemasan yang ia rasakan tanpa sebab beberapa hari yang lalu.


"Tidak boleh, Arka itu anakku, aku yang sudah membesarkan anakku seorang diri selama ini, jadi dia tidak boleh mengambilnya dariku."


Tampaknya Airin terus berusaha menghalangi niat Darren yang ingin mengambil anaknya. Mengingat Darren yang ia tahu hendak menikah dengan seseorang, karena itu ia beranggapan bahwa Darren ingin memasukan anaknya pada keluarga barunya. Saat mengingat kenyataan itu, entah mengapa sudut hatinya tiba-tiba terasa nyeri.


"Hatiku kenapa jadi sakit begini, ya?" Ucapnya sembari memegangi hatinya yang tiba-tiba terasa nyeri karena teringat Darren yang hendak menikah.


Membayangkan jika Darren akan menikah dengan perempuan lain, tampaknya Airin masih belum bisa menerima kenyataan itu. Membayangkan saja ia tak sanggup untuk melakukanya. Meski ia cukup marah dengan Darren yang meninggalkanya dan bahkan tak mengingat dirinya, namun tak menampik kalau hati dan perasaanya masih terus mengharapkanya kembali.


"Benarkah aku masih mengharapkanya kembali?" Airin tampak tak yakin pada hal yang sebenarnya ia inginkan saat ini, terlebih pada hal yang harus ia lakukan untuk Darren kedepanya.


Tak mungkin baginya untuk terus memisahkan anaknya dengan ayah kandungnya, namun disatu sisi ia juga tak ingin melihat Darren mengambil Arka darinya. Anak yang sudah ia rawat dan besarkan sedari kecil itu sudah seperti harta berharga baginya.


"Tapi, bagaimana kalau Arka lebih memilihnya dan pergi meninggalkanku?" Ketakutanya semakin menjadi, hingga tak bisa berfikir jernih dan rasional lagi.


Meski Darren adalah ayah dari anaknya, namun situasi dan kondisi yang telah berubah diantara keduanya saat ini membuat hubungan yang semula hangat, kini berubah menjadi dingin dan bahkan terasa sulit untuk sekedar saling bicara satu sama lain. Terlebih tak mudah memperbaiki hubungan yang telah retak, ataupun memaafkan seseorang yang telah memberikan sebuah luka dihati.

__ADS_1


.....


Tak berbeda dengan Airin yang terus merasa cemas, Darren yang saat ini sedang dalam perjalanan dinas keluar negeri, terus memikirkan pertemuan terakhirnya bersama Airin. Obrolan keduanya yang menggantung dan tak ada kemajuan membuat hatinya terus mengganjal. Ia yang saat ini telah mengetahui bagaimana perasaanya terhadap Airin, tak bisa memalingkan pikiranya pada sosoknya yang telah mencuri perhatian dan juga hatinya.


"Aku tidak akan melepaskannya begitu saja." Ucapnya yang tak ingin melepaskan Airin.


"Aku harus membuatnya ada disisiku lagi." Ujarnya penuh tekad.


Ia bertekad untuk membuat Airin kembali kesisinya kembali, meski ia tau itu tak akan mudah unruknya, namun Darren tak mau menyerah begitu saja. Setelah tau bagaimana arti dari perasaan yang ia rasakan pada Airin yang terus menerus ia pikirkan, kini ia semakin yakin bahwa itu bukanlah hanya sekedar rasa penasarannya, melainkan memang datangnya dari hatinya yang begitu merindukan sosoknya.


"Aku bukanya tak mengingatnya, hanya saja aku merasa malu dan juga merasa bersalah untuk sekedar menatap atau menemuinya." Ucapnya yang sebenarnya sudah setengah jalan mengingat tentang kenangannya dulu bersama Airin.


Ia terus berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya selama ini. Darren tampak terus berusaha mencoba mengingat ingatan tentang masa lalunya bersama Airin, meski yang ia lakukan itu akan membuat dirinya kembali membuka lukanya. Luka tentang kecelakaanya dulu yang juga tak bisa ia ingat dengan jelas setelah terbangun dari koma panjangnya.


......................


Sudah seminggu sejak pertemuan keduanya, meski berjalan seperti kehidupan biasanya yang mereka lakukan, namun tak menampik bahwa keduanya saling memikirkan satu sama lain. Meski jarak keduanya yang terpisah, namun hati yang terikat masih mengikat perasaan keduanya. Baik, Airin dan Darren, keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Meskipun belum mengingat ingatan penting pada hubunganya bersama Airin, namun Darren mengingat jelas bagaimana kenanganya dulu bersama Airin, hingga membuatnya tak ingin melepaskan Airin dari sisinya, dan bertekad untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Sama seperti sebelum ia pergi meninggalkanya dan juga hilangnya ingatan tentangnya.


"Bisakah aku mewujudkan semuanya?" Ujar Darren yang merasa perjalanannya masih terlalu jauh untuk sekedar menginginkanya.

__ADS_1


Walaupun Airin tampak begitu marah padanya yang meninggalkanya begitu saja tanpa penjelasan, hingga membuatnya membesarkan anaknya seorang diri, membuat perasaanya diliputi rasa bersalah yang besar hingga tak tau harus memulai semuanya dari mana. Darren yang tak pernah merasa galau, kini merasakan betapa frustrasinya ia menghadapi masalahnya.


....


"Aku merindukanya, tapi aku juga marah padanya." Ucap Airin ketika setiap kali mengingat sosok Darren.


Ada kebimbangan tentang perasaanya sendiri ketika bertemu orang yang sejatinya sangat ia rindukan dan nantikan kehadiranya, namun rasa marah yang tak terbendung karena keslahanya membuatnya begitu sulit untuk menerima kehadiranya kembali.


Rasa takut dan cemas juga masih menghantui Airin saat ini. Karena saat bertemu dengan Darren beberapa hari lalu, ada begitu banyak hal yang menggangunya hingga meninggalkan kecemasan untuknya.


Meski tak bertemu dengan Darren lagi setelah hari itu, namun Darren masih meninggalkan jejaknya pada sang anak. Darren tampak menemui Arka yang sedang bermain bersama Dava saat itu ditaman sepulangnya ia saat itu dari apartemen miliknya, bahkan ia memberikan Arka sebuah hadiah.


"Arka habis beli mainan, ya? Mama kan tidak memberikan uang sama Arka? Apa om Dava yang membelikan untuk Arka?"


Melihat sang anak pulang dengan sebuah mainan, Airin yang tak merasa memberikan uang pada Arka langsung bertanya pada sang anak. Namun, Arka langsung menyangkalnya dengan menggelengkan kepalanya, ia menyangkal kalau Dava yang membelikannya mainan.


"Terus mainannya dari mana dong?" Tanya Airin.


"Ini hadiah dari papa." Jawab Arka tersenyum bahagia memeluk hadiah dari Darren.


Seketika Airin langsung membeku. Ia pun jadi semakin dibuat tak tenang dengan sikap Darren. Ketakutanya semakin tinggi pada sikap Darren yang semakin dekat dengan anaknya.

__ADS_1


Rasa cemas yang berlebihan dan rasa takut yang terus menggerogoti perasaanya, membuatnya tak lagi bisa perpikir jernih. Airin terlihat begitu ketakutan kalau Darren akan mengambil anaknya, walaupun Darren sendiri adalah ayah dari anaknya.


"Tidak bisa begini, aku terus merasa cemas tanpa sebab. Apa sebaiknya aku pindah saja,ya?"


__ADS_2