Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
39. Susunan Pazzle


__ADS_3

"Sekarang gue ingat, anak kecil yang kita lihat waktu di supermarket tadi. Dia anak kecil yang begitu menarik perhatianku tadi, ingat kan sama dia?" Ujar Lucas ketika sudah mengingat pertemuannya dengan anak kecil yang ia lihat tadi pagi.


"Nggak ingat, jadi keluar sana." Acuh Darren yang tak ingin mendengar omong kosong dari Lucas. Ia lalu membuat gesture mengusir pada Lucas yang masih berada dalam kamarnya.


"Eh, tunggu dulu. Ingat soal anak kecil yang kita lihat di supermarket itu, kan? Bukankah dia mirip denganmu?" Lucas tetap kekeh dengan pandanganya meski terus di dorong keluar oleh Darren yang menginginkan dirinya untuk keluar dari kamar.


Disamping itu, mendengar perkataan Lucas, tubuh Darren tiba-tiba jadi membeku dengan ekspresinya yang cukup tertegun.


"Apa maksudmu dengan mirip denganku?" Darren menatap tajam Lucas.


"Lu nggak lihat dia tadi?, kalau lu lihat anak itu, lu pasti merasa kalau kalian itu punya kemiripan, terutama kalau lu bandingin sama foto masa kecilmu itu." Kata Lucas yang merasa yakin.


Mendengar hal itu, Darren menjadi diam. Ia jadi kepikiran dengan perkataan Lucas, namun ketika mencoba memikirkanya kembali, ia justru tersenyum konyol. Mengingat perkataan Lucas terlihat tak masuk akal.


"Aku mau tidur, jadi berhenti bicara omong kosong." Darren menutup pintunya begitu selesai membawa Lucas keluar dari kamarnya.


"Dasar, orang yang kubilang ini beneran." Protes Lucas begitu di usir oleh Darren dari kamarnya.


Masih berdiri di depan kamar Darren, Lucas mencoba mengingat-ingat kembali pertemuanya dengan anak laki-laki yang ia jumpai di supermarket tadi pagi.

__ADS_1


"Gue yakin banget sama wajah anak kecil yang ku lihat tadi." Lucas masih mencoba mengingat-ingat wajah dari anak laki-laki yang ia lihat itu. Karena entah mengapa begitu familiar dan terkesan mirip dengan Darren waktu kecil.


"Ah, yaudahlah, mending tidur aja." Namun, setelah berdebat dengan pikiranya sendiri, ia justru memilih menyerah dan berakhir meninggalkan kamar Darren.


...


Anak laki-laki yang Lucas lihat saat di supermarket, adalah Arka. Saat itu, Lucas melihatnya bersama dengan Airin. Namun, anehnya Lucas justru lebih tertarik dengan Arka dibandingkan dengan Airin, yang merupakan perempuan yang pernah ia temui pertama kali bersama Darren dalam acara pernikahan Silvia beberapa hari lalu. Tidak seperti Darren yang lebih menaruh perhatianya pada Airin, Lucas justru berfikir sebaliknya ketika melihat Arka, hingga menaruh perhatinya pada anak laki-laki yang sejatinya baru ia lihat tadi. Rasa familiarnya ketika melihat Arka, membuatnya jadi kepikiran, hingga menaruh perhatian lebih pada seorang anak kecil yang memiliki perawakan sama dengan orang kenalannya.


Sekarang, baik Lucas maupun Darren, telah memilik rasa kertarikan pada hal yang berbeda dengan alasan yang berbeda pula. Darren yang merasa terganggu dengan ekspresi yang Airin tujukan padanya, dan Lucas yang merasa tertarik dengan wajah anak laki-laki yang terasa familiar baginya.


"Entah mengapa wajah mereka mirip." Di tengah kesunyian dan posisi dirinya yang tengah berbaring, Lucas ternyata masih memikirkan anak yang ia lihat tadi.


"Apanih? Mereka tidak ada ikatan darah, kan?" Ujarnya lagi, yang merasa keduanya punya kemiripan.


Lucas tiba-tiba bangun dari tidurnya setelah mengatakan itu, dan segera menatap ke arah kamar Darren yang tertutup dengan ekspresi yang sedikit terkejut.


"Eeiiyy, ya nggak mungkin lha." Sangkalnya kemudian dan kembali membaringkan tubuhnya, karena merasa itu tidak mungkin. Ia memejamkan matanya segera begitu selesai mengakhiri rasa penasaranya.


...

__ADS_1


Foto yang sudah berusia lama, namun gambarnya masih bisa dilihat dengan jelas, karena tersimpan dengan baik. Di dalam foto tersebut ada seorang anak laki-laki yang terlihat masih berusia 5 tahun dan tengah duduk bersama mamanya. Keduanya sama-sama memasang wajah ceria ketika menghadap ke arah kamera. Ekspresi keduanya terlihat bahagia ketika melihat ke arah kamera, dan memperlihatkan hubungan yang manis di antara ibu dan anak.


Pandangan Lucas yang baru saja melihat foto masa kecil milik Darren, entah mengapa membuatnya teringat akan hal yang ia lupakan, karena foto masa kecil milik Darren terlihat memiliki kemiripan dengan Arka, seorang anak kecil yang sebenarnya baru pertama kali ia lihat tadi. Dari gaya rambut yang terlihat sama, bentuk wajah yang terlihat memiliki kemiripan dan pipi chubi yang sama-sama keduanya miliki waktu kecil menambah keyakinan tersendiri bagi dirinya yang melihatnya secara langsung. Meski sejatinya masih samar-samar, namun karena foto milik Darren, membuat Lucas terus kepikiran dan bersumsi sendiri jika memang keduanya mirip satu sama lain.


Meski saat melihat sosok Arka yang dilihatnya pertama kali, sempat membuat dirinya merasa bertanya-tanya dan sedikit terpaku, mengingat wajahnya yang terasa familiar bagi dirinya. Karena masih belum yakin dan ingat akan itu, membuat Lucas segara melupakanya begitu saja. Namun begitu melihat foto masa kecil milik Darren yang tak sengaja ia lihat di dalam kamar miliknya, membuatnya jadi teringat kembali pada sosok anak kecil yang tak sengaja ia lihat tadi pagi.


Karena melihat hal itu, tanpa sadar membuat Lucas berfikir keduanya memiliki ikatan darah. Meski langsung menyangkalnya, namun kepekaan Lucas ketika melihat hal itu begitu di luar dugaan, mengingat Darren sendiri tidak bisa merasakan perasaan yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Lucas sekarang.


Darren yang dimaksud agaknya terpikirkan dengan ocehan Lucas. Di dalam kamarnya saat ini, ia juga masih terjaga dan memikirkan kembali perkataan Lucas yang menyebut ada seorang anak laki-laki yang terlihat mirip denganya.


"Mirip katanya?" Darren tersenyum tak percaya ketika membayangkan hal yang dikatakan oleh Lucas.


"Anak kecil, ya?" Fikiranya jadi teralihkan dengan perempuan yang bersama anak kecil itu. Ingatan akan Airin kembali muncul dalam fikirannya.


"Apa itu anaknya?" Ucapnya mengarah pada Airin, perempuan yang cukup mengganggu perasaanya sejak pertemuanya dengan Laura tadi pagi.


"Ekspresinya cukup mengangguku, bahkan sampai sekarang pun aku masih ingat betul bagaimana dia menatapku tadi."


Darren yang sebelumnya berbaring dalam ranjangnya, tiba-tiba terbangun dan mencoba mengambil sesuatu. Ponsel miliknya adalah barang yang ia tuju. Begitu mendapatkan ponselnya, ia mencoba menghubungi seseorang dengan raut ekspresi yang cukup serius.

__ADS_1


"Mungkin dengan ini aku akan tau siapa dia sebenarnya." Tuturnya yang akhirnya menaruh kembali ponsel miliknya di atas meja setelah berbicara panjang dengan seseorang lewat sambungan telfonnya. Berjalan kembali ke arah ranjang miliknya, dan membaringkan segera tubuhnya di atasnya.


__ADS_2