Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
72. Perasaan Yang Tertahan


__ADS_3

Melihat Airin menghindarinya bahkan tak mau menatap wajahnya, tentu disadari dengan jelas oleh Darren yang sedari tadi hanya diam menyaksikannya tengah mengobrol dengan Arka. Dari arah yang sama, namun ia terpisah jarak oleh mereka, dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengamati obrolan keduanya.


"Mama bilang, ayo kita pulang." Ucap Airin sekali lagi pada Arka yang masih enggan untuk pulang.


Dengan wajah murung dan terkesan enggan, bahkan terus melirik ke arah Darren berada, Arka begitu berat untuk mengikuti perintah mamanya yang mengajaknya untuk pulang.


"Arka tidak mau pulang?" Kali ini, Airin mencoba mengajak anaknya berbicara dan bertanya padanya.


Namun, Arka terlihat ragu untuk menjawabnya, dan masih terus berusaha melihat ke arah Darren, dan sikapnya itu tentu saja tak lepas dari pengamatan Airin yang melihat langsung tingkah anaknya. Meski ia tau sikap anaknya, tak banyak yang bisa Airin lakukan karena baginya sekarang, hanyalah ingin pergi secepatnya dari hadapan Darren. Melihat Darren di depanya saat ini membuat perasaanya campur aduk tak karuan.


Tunggu...


Saat berusaha membujuk Arka untuk pulang, ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu dan seketika melihat ke arah Darren yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya dalam diam.


Dia tau soal Arka?


Ekspresi wajahnya terkejut dan sedikit menggigit bibirnya karena fakta yang baru saja ia tahu itu.


"Bukankah harusnya aku senang mendengarnya?"


Airin tak tau harus berekspresi seperti apa sekarang setelah mengetahui Darren telah mengetahui identitas anaknya. Seharusnya ia merasa senang, namun disatu sisi ia juga marah karena sikap Darren yang sebelumnya.


Sedangkan Darren yang ia maksud, hanya diam mengamatinya dari jarak berbeda denganya. Sorot tatapanya terlihat hanya tertuju padanya dan Arka yang tengah mengobrol bersama. Dan, Airin tau betul akan hal itu.


Apa itu artinya dia sudah ingat soal aku?"


Menahan rasa pedihnya, Airin tak kuasa menahan rasa rindu yang amat berat ia rasakan pada seorang Darren, namun ia tak bisa dengan mudah menghampiri Darren yang saat ini ada di depannya, mengingat sikap Darren tampak berubah dengan yang dulu ia kenal.


Darren yang sedari tadi hanya jadi penonton, memiliki keinginan yang sama untuk menghampiri Airin dan Arka, namun langkahnya tertahan ketika melihat ekspresi wajah dari Airin yang tak menyambutnya, dan terkesan acuh padanya. Katika melihat itu entah mengapa membuat sudut hatinya terasa sakit.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan, ini bukan seperti diriku." Darren seakan mentertawakan dirinya sendiri yang saat ini sedang berusaha mengerem keinginanya, berbanding terbalik dengan sikapnya yang selalu ingin tau dan terkadang sedikit memaksa pada apa yang membuatnya penasaran.


Ia tak menghampiri Airin, meskipun dia ingin melakukannya, ia memilih untuk menjaga perasaan Airin yang tampak tak ingin bertemu denganya. Ia tersenyum, namun senyum yang terlihat menyedihkan bagi perasaanya.


"Tapi mengapa tubuhku seolah ingin menghampirinya." Ucapnya yang merasa tubuhnya memberikan reaksi untuk segera menghampiri Airin dan Arka.


Baru satu langkah saat ia memutuskan untuk menghampiri Airin dan Arka, suara dering ponsel dari arah saku jasnya menghentikan langkah kakinya.


Ada nama Lucas yang tertera di dalam layar ponsel yang sudah ia ambil dari arah saku jasnya dan hendak ia angkat. Namun, Darren jadi semakin dibuat berat ketika ada panggilan dari Lucas, karena itu membuatnya tersadar kalau sudah terlalu lama meninggalkan kantor.


Meski berat dan sedikit menyesal pada Lucas yang menelfonya, Darren yang sekali lagi ingin mengabaikan panggilan Lucas seketika dibuat panik ketika pandanganya yang kembali menatap ke arah Airin dan Arka, namun tak bisa ia ketemukan keberadaan keduanya. Dua bola matanya mencari keberadaan Airin dan Arka yang tiba-tiba menghilang.


"Kemana mereka?" Ucapnya mencari keberadaan Airin dan Arka.


Karena hal itu dering telfon dari Lucas langsung ia matikan begitu saja dan bergegas mencari keberadaan keduanya yang tak lagi terlihat oleh matanya.


"Padahal aku baru mau menghampiri mereka" Ucapnya yang tak bisa lagi melihat keberadaan Airin dan Arka.


"Tidak apa, aku masih bisa menemui mereka lagi nanti." Ucapnya yang akhirnya memilih membiarkan kepergian Airin dan Arka.


Perlahan, ia pun bergegas keluar dari sekolah anaknya, kepergianya tak lepas dari pandangan wali murid dan guru Arka.


"Tadi, bukanya ada Airin disini? Ku kira mereka bakal pulang bersama lho, ternyata malah pulang sendiri-sendiri." Ujar seseorang memberikan komentarnya.


"Iya juga, tadi Airin mrmilih pergi berdua sama Arka. Eh, apa mungkin mereka sebenarnya sudah bercerai, ya?" Sambung lainya yang terlihat kepo.


"Masa sih bercerai? Orang pihak Darren saja tidak pernah mengakui pernah menikah, bisa saja ini hubungan terlarang di antara mereka?" Timpal lainya.


Karena ucapan itu seketika membuat mereka saling berbisik dan memandang ke arah Darren yang pergi bersama asisten pribadinya.

__ADS_1


....


Di lain sisi, Airin yang akhirnya pulang bersama Arka, terus diliputi perasaan tentang Darren yang datang kesekolah anaknya. Ada berbagai pertanyaan dalam pikiranya, dan juga rasa yang sulit ia ekpresikan saat ini.


"Apa Arka marah sama mama karena harus pulang lebih cepat?" Tanyanya pada sang anak yang terus murung sejak kepulanganya dari sekolah.


"Pantes kak Airin menjemput Arka, tadi Dava habis dari sekolahnya Arka lho dan dia malah nggak ada." Ujar Dava yang tak sengaja bertemu Airin dan Arka dijalan. Dan karena kedatanganya itu membuat arah pandang Airin dan Arka berubah padanya.


"Kamu habis dari mana saja baru mau jemput Arka?" Tanya Airin balik.


"Duh, maaf deh, tadi tuh masih ada urusan, anak-anak pada nahan gak boleh pergi, jadinya terlambat begini." Jawab Dava.


"Yasudahlah, toh Arka sudah kujemput." Ujar Airin yang tak ingin memperbesarnya lagi.


"Tapi, bukanya acaranya masih belum selesai, ya? Tadi, aku lihat masih ada acaranya tuh?" Ucap Dava.


Airin terpaku mendengarnya, mengingat ada alasan kenapa ia membawa Arka pulang lebih cepat, namun iantak.bisa menjelaskannya pada Dava.


"Karena kamu terlambat jemput Arka, jadinya Arka ku bawa pulang lebih cepat, kakak lagi banyak pesanan bunga, jadi tidak bisa menjaga Arka lebih lama dan membiarkan Arka disekolahnya sendirian, karena takut kejadian kemarin terulang lagi." Jelas Airin.


"Ya sorry deh, tapi emangnya gapapa pulang lebih cepat begini? Acaranya kan belum selesai? Apa Dava ajak Arka balik kesana lagi aja?" Ujar Dava tiba-tiba semangat.


"Gapapa, kakak tadi udah izin sama wali kelasnya, lagi pula mau apa kamu kesana lagi?"


"Aku kan sudah janji sama Arka untuk tampil bareng di acaranya, jadi Dava pengen menepati janji itu."


"Sudahlah lupakan, mending kita pulang saja."


"Yah, gak jadi nih, padahal aku sudah berlatih lho buat tampil di acaranya Arka." Ujar dava yang sedikit menyayangkan.

__ADS_1


Airin jadi teringat pada Darren yang tadi datang kesekolah Arka dan tampil bersama di acara anaknya.


"Apa yang mereka tampilkan, ya?" - Batinya yang sedikit penasaran.


__ADS_2