
Pukul 08.00 pagi waktu melbourne. Darren bersama Lucas bergegas mengunjungi apartemen lama miliknya yang dulu pernah ia tinggali sewaktu tinggal di melbourne. Sempat merasa kesulitan karena lupa akan kata sandinya, Darren bersama Lucas pun akhirnya berhasil masuk kedalam apartemen setelah meminta bantuan.
"Wah, luas juga apartemen milikmu." Kata Lucas begitu masuk kedalam apartemen. Namun Darren tak menanggapi ucapannya itu dan memilih masuk kedalam kamar miliknya.
Meski barang dan tempat yang ia tinggalkan masih terlihat rapi dan tak berantakan, namun karena tak pernah ia kunjungi maupun bersihkan, apartemen yang dulunya pernah ia tinggali itu kini berubah berdebu dan sedikit lembab.
"Agak berdebu ya.." Lucas yang sedang berkeliling apartemen milik Darren merasa sedikit terganggu dengan debu-debu yang ada disekelilingnya.
"Jadi selama ini lu tinggal disini sendirian? Tapi, gimana lu bisa mendapatkan apartemen ini? Bukanya waktu itu lu lagi melarikan diri, ya?" Ujarnya lagi pada Darren yang ada dikamar.
"Uangku banyak, meski aku melarikan diri aku masih punya tabungan, termasuk dengan tinggal dan beli apartemen ini." Dari dalam kamar, Darren menjawab pertanyaan Lucas.
"Ck, kepercayaan diri macam apa itu?" Decak Lucas tak percaya pada sikap Darren yang menjawab dengan entengnya. Meski ia sendiri tak menampik perihal latar belakang Darren yang cukup berada.
Lucas masih di area ruangan depan, sedangkan Darren yang sudah masuk kedalam kamar, saat ini tengah melihat-lihat kembali kamar miliknya yang pernah ia tempati 6 tahun lalu.
"Samar-samar aku mengingat kenangan saat aku tidur dan tinggal disini." Kata Darren, saat teringat kembali pada momen dirinya yang pernah tinggal di apartemen ini.
Tak ada yang istimewa, semua terlihat sama seperti halnya dengan kamar-kamar lainnya. Di dalamnya hanya berisi sebuah ranjang dan kasur untuk tidur, dan dekorasi kecil dari sang pemilik kamar yaitu dirinya sendiri.
"Aku nggak menemukan apapun disini." Ujarnya merasa zonk setelah menatap dan melihat dengan seksama kamar yang pernah ia tempati itu.
"Ku kira ketika masuk kesini, aku bakal dapat gambaran tentang ingatanku yang hilang itu. Apa disini tidak ada memori yang pernah aku tinggalkan?"
Namun, setelah ia mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba sebuah ingatan muncul dikepalanya. Memori yang terlihat manis, hangat, dan penuh kebahagiaan tiba-tiba muncul di depan matanya, seolah ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
"Bayangan apa yang kulihat di depanku saat ini? Dan ingatan apa ini?"
__ADS_1
Darren cukup tertegun ketika melihat dirinya yang tersenyum dengan lebar bersama seseorang, namun wajah seseorang yang ada disampingnya tak bisa ia lihat dengan jelas.
"Itu aku? Benarkah itu aku? Lalu, siapa yang sedang bersamaku itu? Bukankah yang disampingku itu seorang perempuan?"
Kepalanya tiba-tiba merasa sakit ketika bayangan itu muncul dihadapanya. Tubuhnya oleng karena memikirkannya.
"Woi, gimana sudah menemukan sesuatu belum?" Ucap Lucas masuk kedalam kamar menyusul Darren.
Darren yang tengah menahan rasa sakit karena bayangan yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya tak menjawab pertanyaan Lucas.
Lucas yang sudah masuk kedalam kamar setelah melihat-lihat bagian luar kamar merasa terkejut ketika melihat Darren yang tengah memegang kepalanya, seolah tengah menahan rasa sakit.
"Kenapa? Apa kamu ingat sesuatu?" Lucas pun bergegas menghampiri Darren untuk menanyakan kondisinya.
"Ah, sial." Umpat Darren menahan denyutan kepalanya yangs sakit. " Tadi aku melihat diriku dimasa lalu tepat ada di depan mataku." Ujarnya lagi masih menahan rasa sakitnya.
"Semacam itulah."
..."Terus apa yang lu lihat saat itu? Apa ini ada kaitanya dengan ingatanmu yang hilang itu?"...
"...."
Darren terdiam.
"Aku harus memastikannya lagi." Darren mencoba mencari sesuatu, kali ini ia beralih keluar kamar.
"Woi, jangan terlalu Memaksakan diri, kalau terlalu memaksakan diri untuk mengingatnya, lu tau resikonya kan? Lu bakal pingsan seperti waktu itu." Lucas menyusul Darren yang keluar dari kamar dengan sedikit mengingatkan Darren soal kondisinya.
__ADS_1
"Aku tau soal itu, tapi aku tidak mau membuang waktu lagi untuk mencari tau rasa penasaranku ini. Aku sudah capek terus dibayangi ingatan gila ini" Jawab Darren yang bertekad untuk mengakhiri rasa penasarannya dan mencari kebenaran dari bayangan ingatan masa lalunya yanh selamaini terus menggangu tidur dan kehidupannya.
Melihat Darren yang begitu kekeh dan sedikit keras kepala, membuat Lucas tak bisa membantah dan menuruti keinginan Darren.
"Saat ini, memangnya apa yang sedang kamu cari?" Tanya Lucas pada Darren yang tengah mencari sesuatu.
"Aku tidak tau barang apa yang hilang disini, atau barang apa yang penting disini, sekarang aku hanya ingin mencari tau apapun yang aku lihat di apartemen ini." Jelas Darren yang dirinys sendiri tidak tau harus melakukan apa di dalam apartemen lamanya.
....
Di tempat yang berbeda, Airin yang sedari kemarin merasa cemas pada perilaku anaknya yang tak biasa, sedikit lebih tenang setelah mempercayakan soal Arka pada Dava. Meski dalam hatinya tetap merasa cemas terjadi sesuatu pada anaknya.
"Kami kenapa Rin? dari tadi bibi lihat kamu terus merasa gelisah? Ada apa, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya bi Rahma lagi pada Airin yang masih terlihat gelisah dimatanya.
Airin tampak ragu untuk mengatakan pada bibinya, namun karena merasa tak enak karena terus mengelak dan berbohong pada bibinya, membuat Airin akhirnya menceritakan hal yang membuatnya merasa cemas itu.
"Pantesan kamu terlihat gelisah begitu, bibi juga mengerti kamu khawatir sama anak kamu. Tapi, jangan terlalu dipikirkan dalam-dalam, ingat kamu ini barus saja keluar dari rumah sakit lho! Kamu juga harus pikirkan kondisi kamu yang masih belum sehat ini." Ujar bi Rahma mengingatkan Airin.
"Iya bi, Airin tau soal itu, tapi perasaan cemas itu entah kenapa tidak mau hilang dari pikiran Airin." Ujar Airin yang juga merasa frustrasi.
"Bibi tau, karena bibi juga pernah merasakanya sama Dava, tapi kalau terlalu cemas nanti kita malah sakit sendiri, mending kamu coba percaya sama anak kamu, kalau ada apa-apa pasti guru Arka sudah melaporkannya padamu, kan?" Ujar bi Rahma mencoba menenangkan Airin.
Mendengar penjelasan dari bibinya, Airin jadi merasa lebih tenang dan tak lagi merasa cemas yang berlebihan.
"Bibi benar, mungkin karena ini pertama kalinya Arka bersikap begini, karena itu membuat Airin menjadi lebih khawatir dan mencemaskannya."
"Tenanglah, kalau kamu terus-terusan cemas seperti ini, yang ada kamu jadi nggak bisa berfikir jernih dan malah membuat anakmu tidak nyaman. Kalaupun Arka tidak mau menjelaskannya padamu, yasudah tunggu saja sebentar sampai anaknya yang mejelaskanya sendiri."
__ADS_1
"Iya, bi."