Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
71. Kumpul Bertiga?


__ADS_3

Mendengar jawaban sang anak, sejenak membuat Darren terdiam dan iri pada sikap anaknya yang begitu menyayangi Airin yang telah bersamanya sejak kecil, berbanding denganya yang justru tak mengetahui keberadaan anaknya sendiri.


"Kalau papa gimana? Apa Arka juga akan marah kalau papa dihina sama mereka?"


Meski ia tau bahwa hal itu mustahil, mengingat dirinya tak tinggal ataupun bersama Arka sejak kecil, namun Darren sepertinya ingin melihat respon anaknya tentang dirinya yang merupan ayah kandungnya.


"Iya, Arka juga akan marah, karena Arka tidak suka orang tua Arka dihina."


Darren tersenyum mendengarnya, sedikit merasa bahagia dan lega. Mengelus lembut puncak kepala sang anak, Darren memasang ekspresi wajah yang menahan rasa sedihnya ketika melihat wajah anaknya yang baru ia temui untuk pertama kalinya.


"Apa saat ditaman Arka sudah mengetahui kalau itu papa?" Ucap Darren bertanya pada pertemuan pertama mereka ditaman.


Arka diam dan sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Iya." Jawabnya pelan sedikit menunduk.


"Oh ya? Tapi, bagaimana Arka bisa tau kalau itu papa? Soalnya kan.." Darren tampak berat untuk melanjutkan kalimatnya. "Papa lama tidak bertemu Arka." Lanjutnya.


Arka yang duduk disampingnya terdiam memikirkan jawaban yang hendak ia keluarkan.


"Karena Arka melihat papa ada di foto mama." Jawab Arka kemudian menoleh ke arahnya.


"Papa ada di foto mama?" Ucapnya sedikit terkejut.


"Iya." Jawab Arka sembari mengangguk kecil.


Darren menatap takjub dan sedikit terkejut ketika mendengar alasan Arka bisa mengetahui dirinya hanya dalam sebuah foto, terlebih foto itu milik Airin.


Jadi dia menyimpan fotoku?


Darren tentu menjadi kepikiran soal itu, hingga membuatnya memikirkan soal Airin yang masih menyimpan foto dirinya.


Apa itu artinya dia menungguku selama ini?


Hati Darren semakin terasa sakit ketika memikirkanya, perasaan bersalahnya pada Airin semakin besar hingga membuatnya malu jika harus bertatap mata dengannya.


Apa yang harus aku lakukan saat aku bertemu denganya nanti?


Perasaanya semakin dibuat bimbang dan gelisah, hingga rasa nyeri dalam sudut hatinya begitu mengusik dirinya.

__ADS_1


"Papa, apa papa nanti akan pergi lagi?"


Panggilan Arka menyadarkan dirinya yang sedikit melamunkan Airin.


"Enggak, papa tidak akan pergi lagi, jadi Arka tidak perlu khawatir soal itu." Ujarnya sembari mengelus pipi sang anak.


Dalam pangkuanya, Arka terlihat anteng dan terlihat nyaman bersamanya.


"Arka tidak mau melihat papa pergi, ya?" Ujarnya lagi pada Arka yang kini sudah berada dalam pangkuanya.


"Iya", Arka mengangguk membenarkan.


"Papa tidak akan pergi meninggalkan Arka, tapi papa nanti harus pergi untuk bekerja, soalnya kalau papa nggak balik sekarang, papa bisa dimarahin sama mereka."


"Begitu ya." Ekspresi wajah Arak berubah murung mendengar jawaban dari Darren.


"Nanti papa kan bisa menemui Arka lagi, karena papa pergi hanya untuk bekerja bukan meninggalkan Arka." Ujar Darren mencoba menjelaskan pada Arka yang tampak murung dan tak mau ia pergi.


Melihat anaknya yang begitu enggan untuk ia pergi, membuat perasaanya sedikit bahagia karenanya. Sebuah rasa yang tak bisa ia jelaskan lewat kata-kata karena terlalu bahagianya. Padahal ini pertama kalinya keduanya bertemu secara resmi, namun Arka sudah menyambutnya dengan perasaan terbuka padanya.


....


"Papa tidak melihat mama Arka, apa mama tidak mengantar Arka hari ini?" Tanya Darren yang tak melihat keberadaan Airin dan hanya melihat Arka seorang diri disekolah.


Darren hanya diam mendengar penjelasan dari Arka, namun ekspresinya seperti mengerti pada kesibukan Airin sebagai orang tua tunggal.


"Pasti tidak mudah mengurus anak sendirian." Gumamnya merasa sedikit bersalah.


Meski anaknya menerimanya dengan tangan terbuka dan menyambutnya dengan baik, namun Darren sedikit kepikiran soal Airin. Karena tak akan mudah baginya untuk mengahadapi Airin. Terlebih, kesalahannya terlalu fatal untuk dengan mudahnya memafkan dirinya.


Sebenarnya ia sudah memikirkan hal itu, dan sudah mempersiapkan hati dan perasaanya jikalau hal itu benar terjadi. Saat Airin tak mau memaafkanya ataupun tak mau lagi bertemu denganya karena marah padanya yang baru muncul, saat itu mungkin yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah dan menerimanya.


"Apa Arka tidak marah atau benci sama papa?"


"Arka marah, karena papa sudah membuat mama menangis setiap malam." Jawab Arka dengan jujur dan muka polosnya.


Jawaban jujur dari sang anak, membuat sudut hatinya terenyuh dan merasa tersentil karenanya.


"Mama menangis setiap malam karena papa?" Tanyanya pada Arka.

__ADS_1


"Iya, mama selalu menangis setiap kali melihat foto papa." Jujur Arka menceritakabya pada Darren.


Airin menangis saat melihat fotoku?


Darren semakin dibuat bersalah pada Airin. Kepalanya tiba-tiba terasa nyeri karena ingatan masa lalunya muncul kembali.


"Papa kenapa? Apa papa sakit?" Tanya Arka sedikit khawatir saat melihat Darren mengerang sakit pada kepalanya.


"Papa gapapa kok, papa hanya..."


Kalimatnya terhenti ketika seseorang datang dan mencoba memanggil nama Arka. Suara yang tak terasa asing ditelinganya.


"Arka."


Suara seseorang yang memanggil nama Arka, membuat Darren mengangkat wajahnya untuk menatap ke arahnya yang saat ini sama terkejutnya dengannya.


Airin yang baru saja datang, menatap terkejut melihat anaknya bersama Darren, terlebih begitu dekat hingga saling berpangku.


"Mama." Arka yang tak mengerti perasaan orang tuanya, memanggil Airin dengan riangnya dan bergegas berlari ke arahnya yang saat ini membatu karena terkejut.


"Arka kenapa bisa ada disini, apa.." Airin melirik sejenak ke arah Darren yang saat ini sudah berdiri mengahadap ke arah yang sama denganya. "Apa acaranya sudah selesai?" Ucapnya lagi yang kini beralih menatap ke arah sang anak.


"Sudah kok, ma. Tadi Arka sama papa sudah naik ke atas panggung bersama." Jawab Arka dengan jujur dan wajah yang sumringah.


Airin terbelalak tak percaya, tangannya seketika menutup mulutnya yang begitu terkejut mendengar perkataan anaknya. Tubuhnya bergetar seolah merespon rasa keterkejutanya pada Arka yang akhirnya tau soal papa kandungnya.


"Siapa yang Arka maksud dengan papa?" Dengan sedikit bergetar dan ekspresi tak percaya, Airin seakan sedang meminta penjelasan dari anaknya.


Arka melihat ekspresi mamanya yang justru tampak tak senang ketika bertanya padanya, membuatnya seketika terdiam dan melirik ke arah papanya ragu.


"Arka..."


"Aku yang memberitahu soal ini pada Arka." Darren yang sedari tadi hanya diam menyaksikan Airin bersama Arka, kini ikut membuka suaranya.


Namun, Airin tak merespon perkataanya itu, dan memilih mengacuhkanya dengan beralih menatap wajah anaknya.


"Arka sudah selesai, kan acaranya?" Tanyaya pada Arka dan mendapat anggukan darinya.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Ujarnya lagi mengajak sang anak pulang.

__ADS_1


"Tapi,.." Arka tampak enggan untuk pulang dengan sedikit melirik ke arah Darren.


"Pulang Arka." Ucap Airin sedikit memaksa anaknya.


__ADS_2