
Darren masih berada di dalam apartemen lamanya, bersama Lucas dia mencari barang berharga miliknya yang mungkin masih tersisa di dalam apartemennya. Mencoba mencari sisa-sisa barang berharga yang mungkin bisa memberikan clue bagi dirinya untuk mengingat kembali tentang ingatan masa lalunya.
Setelah kecelakaan 6 tahun lalu, apartemen ini telah kosong karena ditinggal oleh pemiliknya yang lagi sakit, yang pemiliknya adalah Darren itu sendiri. Selama masa pemulihan pasca kecelakaan, Darren tak lagi memperdulikan apartemennya dan hanya fokus pada kesehatannya yang saat itu masih belum pulih sepenuhnya.
"Saat itu, apa lu benar-benar tidak mengurus apartemen ini? Sayang banget deh saat melihatnya jadi kotor, berdebu dan lembab begini." Ujar Lucas melihat apartemen milik Darren yang sudah seperti ruangan terbengkalai.
"Enggak, aku lupa." Balas Bian.
"Segitu banyak uangmu kah sampai melupakan apartemenmu sendiri?" Sindir Lucas.
"Ingatanku saat itu kan belum terlalu jelas dan pulih 100 persen, gimana aku bisa ingat soal ini, terlebih soal apartemen ini? Dan juga, sebenarnya aku tidak ada niatan untuk membiarkan apartemen ini begitu saja, apalagi karena apartemen ini sedikit berharga buatku. " Jelas Darren ketika mengingat awal pertama kali membeli apartemen ini.
"Terus sekarang gimana? Mau lu apakan apartemen ini? Uhuk..uhuk.. sudah berdebu begini?" Lucas merasa yak nyaman dengan debu-debu yang bertebaran disekitar wajahnya.
"Aku berencana untuk membersihkan dan merapikannya, mungkin kalau sudah rapi akan lebih nyaman untuk datang kesini lagi." Ujar Darren setelah berkeliling sebentar pada apartemennya yang telah lama ia tinggal itu.
"Maksudmu nanti bakal datang kesini lagi, gitu?" Ucap Lucas mencoba mengulang kalimat yang ia dengar dari Darren.
"Iya." Jawab Darren dengan singkat.
"Apanih maksudnya? Apa kamu ada rencana buat tinggal lagi disini?" Selidik Lucas setengah tak percaya.
"Kalau dimungkinkan." Balas Darren menoleh ke arah Lucas.
"Jangan bercanda deh, terus nanti gimana soal perusahaan kalau lu pindah kesini?"
"Iya, ya, gimana tuh!, Haruskah aku melarikan diri lagi? Sepertinya nanti bakal seru deh, seperti waktu itu." Canda Darren tersenyum licik pada Lucas.
"Ini anak benar-benar ya.." Gerutu Lucas kesal pada candaan Darren yang nggak lucu itu.
Melihat kekesalan Lucas tentu saja Darren hanya bisa tersenyum puas, terlebih ia begitu menyukai ekspresi Lucas yang terus memberikan gesture protes dan marah padanya.
__ADS_1
....
Setelah hampir satu jam lamanya bagi dirinya untuk berada di dalam apartemen, selain siluet bayangan akan dirinya di masa lalu bersama seorang wanita di dalam apartemen muncul sebentar dalam pikirannya, Darren belum menemukan petunjuk lagi dalam membantunya mengingat soal ingatanya yang hilang.
Apa kedatanganku kesini akhirnya sia-sia?
Darren yang belum menemukan apa yang ia harapkan, terlihat sedikit kecewa akan hal itu, terlebih karena ia sudah datang jauh-jauh ke melbourne untuk mendapatkan kembali ingatanya yang telah hilang.
"Apa ada yang kamu ingat tentang barang atau hal yang kamu tinggalkan disini?" Tanya Lucas pada Darren yang sedang melamunkan sesuatu.
"Nggak tau, aku juga lupa, setelah sadar dari koma pun aku lupa kalau punya apartemen disini, makanya aku tidak terlalu ingat apapun soal apartemen ini, terlebih barang berharga yang kutinggalkan disini. Tapi... ada sekelibatan ingatan yang terlintas dikepalaku setelah datang kesini lagi setelah sekian lama kutinggalkan." Balas Darren.
"Oh ya? Apa itu ingatan yang kamu ketahui?" Lucas tampak tertarik akan cerita itu.
"Tidak, sayangnya aku juga masih tidak mengerti soal itu." Jawab Darren dengan wajah sedikit murung.
"Hemm... susah juga ya kalau begitu. Tapi apa kamu benar-benar tidak mengingat sesuatu setelah datang kesini?" Ujar Lucas sedikit penasaran.
Darren terdiam, ia yang sedang berdiri menatap jendela apartemennya, dibuat memikirkan hal yang dikatakan oleh Lucas padanya.
Benar juga, aku datang kesini karena siapa tau ingatanku yang hilang itu bisa muncul kembali, tapi kan..
Setelah siluet bayangan yang muncul saat dirinya tengah berada dikamar, ingatan ataupun bayangan yang sama tak lagi muncul difikirannya. Membuat Darren semakin bertanya-tanya dan semakin membuatnya dipenuhi rasa penasaran.
"Apa dulu aku punya pacar ya disini?" Ucapnya kemudian.
"Hah, apa? Pacar? Kenapa jadi bahas itu, coba? Kan yang gue tanyakan bukan soal itu?" Ungkap Lucas menatap bingung Darren yang tiba-tiba membahas hal lainnya.
"Karena.. aku seperti melihat diriku sendiri yang lagi tertawa bahagia bersama seorang perempuan disini." Ucapanya yang masih menatap ke arah jendela dan membelakangi Lucas.
"Ha, maksudnya gimana? Apa ini artinya kamu sudah mengingat sesuatu?" Lucas begitu antusias mendengar cerita Darren dan berharap akan kejelasannya.
__ADS_1
"Belum, hanya wajahku yang terlihat saat itu, sedangkan wajah yang disampingku tak bisa aku lihat dengan jelas." Kata Darren saat menggambarkan apa yang ia lihat dan ingat tadi.
"Tunggu.." Lucas tampak sedang mencerna kalimat yang dikatakan oleh Darren, karena terasa membingungkan bagi dirinya untuk menangkap maksud Darren.
"Tunggu, maksud dari perkataanmu tadi itu soal apa? Apa ini tentang ingatanmu?" Tanya Lucas akhirnya.
Darren beralih menatap ke arah Lucas yang ada dibelakang punggungnya. "Di tempat ini, aku mengingat diriku sedang tertawa bersama seorang perempuan." Ucapnya kemudian saat berhadapan dan bertatap mata dengan Lucas.
"...."
Lucas sedikit terpaku mendengar penjelasan Darren.
"Ah, sudahlah, hal ini kamu nggak bakal faham, soalnya kan kamu nggak pernah pacaran." Kata Darren, yang memilih pergi setelah melihat respon dan reaski Lucas.
"Tu-tunggu deh, ok aku faham, tapi ralat dulu ya... aku tuh pernah pacaran tau, cuma ya.. du..lu... Tapi tetap aja aku pernah pacaran.Apa'an bilang orang nggak pernah pacaran." Lucas mencegat Darren yang hendak pergi dan mencoba untuk protes pada Darren. Namun, Darren hanya menatapnya dingin seolah tak perduli pada penjelasanya.
"Ok-ok, itu nggak penting sekarang, yang kumaksud saat ini adalah, apa benar yang kamu katakan tadi? Soal kamu yang sedang bersama seorang perempuan disini?" Ucapnya lagi.
"Begitulah yang ku ingat." Balas Darren singkat
"Terus gimana? Maksudku lanjutanya gimana?" Tanya Lucas penasaran dan sedikit semangat.
"Tidak ada."
"Hah, jadi gitu doang?" Lucas jadi merasa kecewa mendengar jawaban Darren.
"Kenapa jadi lu yang kecewa? Harusnya kan aku?" Darren menatap Lucas tak percaya.
"Tentu dong, padahal kan aku sedikit penasaran kelanjutan ceritanya." Balas Luca yang kembali memasang wajah penasaran.
"Kamu pikir ini cerita film atau drama? Ini tentang ingatanku tau." Ucap Darren menatap dingin Lucas.
__ADS_1
"Iya-iya aku mengerti, yang buat aku penasaran itu soal perempuan yang ada bersamamu itu, mungkinkah dia memang kekasihmu dulu?"