Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
95. Airin Sadar


__ADS_3

Perasaan Darren terlihat tenang setelah berhasil meyakinkan sang anak, meski saat ini Airin masih belum sadar dan membuka matanya, namun Darren tampaknya merasakan lega karena bisa menyelesaikan satu masalahnya.


"Lebih baik sekarang aku membasuh tubuhku dulu." Ujarnya menaruh kembali ponselnya dan berjalan dengan lesu menuju kamar mandi, meninggalkan Airin yang masih tak sadar diri di atas ranjang tidurnya saat ini.


Bukan hari yang mudah untuk Darren, karena hampir seharian ia tidak tidur ataupun beristirahat karena terus mencari Airin yang tiba-tiba menghilang dan pergi. Dan saat ini, ia mencoba menyegarkan sejenak tubuhnya yang lelah karena terus bergerak tanpa henti, yang bahkan tanpa sadar telah memasuki masa limitnya.


Air yang mengalir dari atas kepalanya seolah menyegarkan tubuhnya yang kelelahan, walau perasaanya tak menampik masih memikirkan Airin yang masih belum sadarkan diri hingga sekarang.


"Bagaimana responnya nanti saat membuka mata dan orang yang pertama kali ia lihat adalah aku?"


Darren jadi kepikirkan dengan respon Airin nanti saat ia sudah membuka matanya kembali. Setelah termenung memikirkan kejadian yang belum terjadi, lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas panjang, seolah pasrah dengan respon Airin nanti. Tak lagi mau terhanyut pada hal yang belum terjadi, Darren pun mencoba mengalihkan sejenak hal yang sedang ia pikirkan itu dan melanjutkan kembali aktivitas mandinya.


.....


Setelah beberapa saat, ia pun keluar dari kamar mandi dan bergerak kembali menuju ke arah Airin berada. Air yang masih membasahi tubuhnya, dengan rambut yang juga masih berantakan karena belum ia rapihkan dengan benar, Darren yang ingin melihat kondisi Airin, saat ini berjalan perlahan menuju arah kamar tempat Airin berbaring saat ini.


Namun, betapa terkejutnya ia saat pertama kali membuka pintu kamar, kedua matanya seketika membelalak lebar ketika sosok yang ia cari tidak ada di dalam kamar.


"Airin." Ucapnya dengan panik ketika melihat Airin yang tidak ada diranjang tempat tidurnya begitu Ia sampai.


Mencoba masuk lebih dalam ke arah kamar dan langsung mencari keberadaan Airin yang tak terlihat oleh kedua matanya. Darren, dengan wajah paniknya terus berupaya mencari sosoknya itu, namun setelah berkeliling sosoknya itu tak kunjung ia lihat.


"Kemana dia?" Ujarnya dengan penuh kepanikan.

__ADS_1


Karena tak melihat bayangan ataupun keberadaan Airin di dalam kamar, Darren dengan segera keluar dari kamar dan mencoba mencari keberadaan Airin diruangan lainya. Ia tak lagi memperdulikan kondisi tubuhnya yang juga masih lelah, terlebih dengan penampilan yang masih berantakan karena selesai mandi. Dengan ekspresi panik ia terus berusaha mencari keberadaan Airin disekitar rumahnya.


"Harusnya Airin masih ada disini, tapi kemana dia pergi?" Ucapnya yang meyakini bahwa Airin tak akan jauh dari rumahnya, mengingat kondisi Airin yang belum stabil dan baru bangun dari pingsanya. Namun, karena rumahnya yang luas membuatnya sedikit bingung harus mencari kemana terlebih dahulu.


"Kemana aku harus mencari keberadaannya, tidak mungkin kan dia pergi begitu saja?"


Darren mulai terlihat frustrasi karena belum menemukan Airin. Namun, untuk berjaga-jaga ia mencoba menghubungi bawahanya untuk mencari Airin dan meminta pada bawahanya itu untuk mengecek Airin dirumahnya.


Bergegas mencari Airin kembali begitu panggilan yang ia lakukan bersama bawahanya selesai. Menyusuri satu persatu rumah barunya itu, dan beberapa saat ia pun akhirnya berhasil menemukan keberadaan Airin yang ternyata sedang berdiri di depan pintu.


"Apa kamu mau pergi dengan kondisi seperti itu?" Ucapnya pada Airin yang tengah berdiri dengan kondisi lemah.


Airin yang merasa familiar dengan suara yang tengah menyapanya sekarang ini, bergerak perlahan menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati sosoknya yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya sembari memasang wajah sedih penuh kekhawatiran. Ekspresinya terlihat terkejut ketika melihat keberadaan Darren. Ia hendak bergerak mundur, namun tiba-tiba tubuhnya yang masih lemas tak bisa menopangnya hingga nyaris saja membuatnya terjatuh, beruntung Darren yang cekatan langsung menangkap tubuhnya.


"Apa sebegitu bencinya kamu sama aku, hingga kamu rela mengabaikan kondisi kamu seperti ini?" Ucap Darren menatap sedih pada Airin yang masih terlihat enggan untuk menatap ke arahnya, hingga harus memaksakan kondisinya yang masih sakit untuk berjalan keluar.


"Lihat mataku Airin." Ucap Darren lagi, namun Airin tetap tak bergeming dan terus memalingkah wajahnya pada Darren dengan enggan.


Tiba-tiba saja aksi yang dilakukan Darren membuat Airin terkejut, dan seketika membuatnya menatap langsung ke arahnya.


"Ap-apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" Ucap Airin menatap terkejut pada Darren yang tiba-tiba berlutut dihadapanya.


"Akhirnya kamu menatap ke arahku juga." Ujar Darren dengan nada lirih dengan ekspresi senang yang bercampur sedih pada Airin yang akhirnya menatap ke arahnya meski harus dengan cara ia harus berlutut terlebih dahulu.

__ADS_1


Airin tak bisa membantah ucapan Darren, ia pun hanya diam, karena memang ia tak menampik bahwa sedari tadi ia terlihat enggan untuk menatap wajahnya.


"Terserah kamu saja, aku akan pergi saja." Ucapnya kemudian dan hendak pergi, namun tentu saja tanganya langsung ditahan oleh Darren.


"Apa dengan ini juga aku belum bisa menyentuh hati kamu?" Ujar Darren menahan kepergian Airin.


Airin diam terpaku mendengar perkataan Darren, dadanya tiba-tiba merasa sesak namun tetap memilih diam.


"Aku tau kalau aku bersalah, aku minta maaf akan semuanya. Jadi, ku mohon, tidak bisakah kamu memaafkan aku?" Ucap Darren memohon dengan penuh kesungguhan pada Airin.


"Baiklah aku maafkan." Airin yang sedari tadi diam dan menatap ke arah lain, kini mulai bersuara dan mulai menatap ke arah Darren yang masih berlutut dihadapanya.


Mendengar jawaban Airin, seketika membuat Darren terpaku, ia tak bisa mengekspresikan dirinya saat ini, antara senang atau justru merasa lega. Namun, satu hal yang pasti ia cukup senang dengan jawaban Airin.


"Apa benar kamu sudah memafkanku?" Ucapnya yang kini susah berdiri sejajar dengan Airin.


"Benar, lagi pula itu yang kamu mau, kan?" Balas Airin dengan ekspresi wajah tak semangat.


Darren terdiam mendengar jawaban Airin. Tubuhnya membeku tanpa sadar karena terlalu terkejut mendengar jawaban darinya.


"Bukankah itu artinya kamu tidak benar-benar memafkanku?" Ia tersenyum getir pada hal yang ia dengar dari mulut Airin.


"Lagi pula semua sudah terjadi, benar kan?" Terdengar nada yang bergetar saat ia mengucapkan kalimatnya.

__ADS_1


"Mungkin memang seharusnya aku memaafkanmu, dengan begitu urusan kita akhirnya bisa selesai." Ujarnya lagi, yang penjelasnya itu membuat Darren seketia membeku.


__ADS_2