
Airin duduk terdiam di atas ranjangnya, ia terus kepikiran akan Darren. Kenangan bersama dengan Darren dulu tiba-tiba kembali muncul di pikiranya. Ia sedikit flashback dengan kenangan-kenangan manis yang pernah ia lakukan bersama dengan Darren dulu.
Tanpa ia duga, air matanya keluar ketika mengingat kembali momen-momen itu bersamanya. Perasaannya seolah tak lagi bisa membendung rasa kerinduan pada orang yang selama ini sudah ia tunggu dan nantikan kehadiranya.
Airin menghapus kembali air mata yang terlanjur tumpah dan membasahi kedua pipinya tersebut, ia lalu membuka laci disamping tempat tidurnya, dan hendak mengeluarkan sesuatu di dalamnya. Ada beberapa tumpukan buku di dalamnya ketika ia membuka laci tersebut, dengan perlahan ia mencoba mengambil satu buku dari beberapa tumpukan buku yang ada di dalam laci miliknya.
Buku yang berwarna coklat dengan ukuran sedang itu terlihat seperti sebuah diary, karena terdapat banyak coretan-coretan kecil di dalam buku tersebut ketika Airin membuka bukunya. Dengan perlahan ia mencoba membuka beberapa halaman, dan ia terhenti pada satu halaman yang ternyata di dalamnya terdapat foto dirinya bersama dengan Darren yang sedang tersenyum menatap ke arah kamera.
Terlihat bahagia dan penuh kasih sayang jika melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Airin dan Darren di dalam foto tersebut. Hanya dengan menatap foto kenangannya bersama orang yang dia cintai, sudah membuat Airin begitu emosional, karena setiap kali melihat wajah Darren, hati dan perasanya selalu saja merasa terguncang. Ia pun kembali duduk di atas ranjangnya dengan terus memandangi foto kenangan miliknya bersama Darren. Tanpa ia kira, air matanya kini mulai kembali keluar menggenangi bola matanya. Ia tak lagi bisa menyembunyikan kesedihanya pada kenyataan bahwa orang yang dia cintai dan ia tunggu kehadiranya selama ini telah memberikan kabar yang begitu mengejutkan bagi dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumamnya sedikit frustrasi.
Airin menengok kebelakang, dan dilihatnya anaknya yang tengah tertidur pulas. Ia menatapnya lekat sambil mengelus lembut pipinya.
"Maafin mama." Ucapnya dengan nada pelan pada anaknya yang tengah tertidur.
Air matanya mulai menetes ketika ia menatap wajah anaknya yang sedang tertidur, ekspresinya seolah merasa bersalah pada sang anak, karena masih belum bisa mempertemukan dirinya dengan ayah kandungnya.
...
__ADS_1
Seperti sebuah ikatan takdir di antara keduanya, rasa kesedihan yang di alami oleh Airin saat ini, entah mengapa bisa menembus Darren yang sebenarnya sedang tertidur pulas. Dengan nafasnya yang terengah-engah, Darren terbangun dari tidurnya ketika hal yang beberapa bulan ini selalu mengganggu tidurnya telah muncul kembali dalam tidurnya hari ini.
"Sial, kenapa suara perempuan itu harus muncul lagi, sih?." Umpatnya kesal karena harus terbangun dari tidur pulasnya. Mengingat dirinya memiliki insomnia yang cukup parah, karena itu Darren agak kesal ketika harus terbangun dalam kondisi seperti ini, hingga membuat moodnya menjadi tak bagus. Ia mencoba mengatur ekspresinya yang sedikit kesal, namun tiba-tiba saja ia memegangi dadanya yang tiba-tiba jadi sakit lagi.
"Kenapa lagi ini?" Ucapnya pada dadanya yang kembali merasakan nyeri. Dengan cepat Darren mencoba mengambil air minum yang berada disebelahnya dan langsung meminumnya.
Ia mengusap bibirnya yang sedikit basah karena air. Sekarang ia bisa sedikit bernafas lega karena dadanya yang sakit mulai terasa ringan. "Hari ini benar-benar hari yang buruk." Gumamnya yang sedikit merasa kesal dengan apa yang ia alami hari ini.
Dari bertemu keluarga besarnya dan makan malam bersama, berita tentang pernikahanya yang tiba-tiba keluar tanpa persetujuan darinya, lalu dadanya yang tiba-tiba menjadi nyeri dan ia yang harus terbangun dari tidurnya karena bayang-bayang akan suara dan samar-samar wajah perempuan yang muncul dalam mimpinya.
"Aku yakin itu suara perempuan, tapi dia siapa sebenarnya? Kenapa dia selalu mengganggu tidurku?" Gerutu Darren sedikit frustrasi ketika memikirkanya, karena ia sama sekali tidak ada gambaran apapun akan perempuan yang selalu muncul dalam mimpinya tersebut, hal yang telah membuat dirinya susah untuk tidur dalam beberapa waktu dan akhirnya membuat insomnianya menjadi cukup parah, dan terkadang kepalanya akan merasa pusing setiap kali bayang-bayang akan perempuan dalam mimpinya tersebut muncul dalam pikirannya.
"Atau aku punya janji yang belum aku lunasi?" Ucapnya lagi. "Kalau iya, lalu apa? Dan siapa dia, apa aku begitu mengenalnya?" Darren sedikit frustrasi karena merasa buntu akan jawaban yang telah ia cari selama ini.
......................
Jejaknya seolah tak bisa menghilang, bayangan akan dirinya pun sulit untuk dilupakan, hingga kenangan saat bersamanya begitu sulit untuk disingkirkan. Walau hati pernah terluka karena telah dicampakkan dan ditinggalkan olehnya, namun rasa yang tertinggal dari sudut hatinya tetap tak bisa ia lepaskan begitu saja.
Mungkin begitulah gambaran akan perasaan Airin saat ini, meski berusaha melupakan sosok yang telah meninggalkanya dan bahkan tak berharap terlalu banyak akan dipertemukan kembali padanya, namun perasaanya tak bisa bohong ketika melihat kembali wajah yang begitu ia rindukan itu.
__ADS_1
Hatinya terasa sakit dan ingin segera berlari mengarah pada sosok yang sangat ia rindukan itu, namun ada hambatan di depanya yang menghalangi dirinya untuk melakukanya. Dari sikapnya yang terasa berbeda, status dia yang sebenarnya, identitas asli tentang dirinya, hingga hubungan orang tersebut dengan seorang wanita selain dirinya adalah tembok besar yang sedang ia coba runtuhkan.
"Haruskah aku merelakan dan melupakanya?" Ucap Airin masih termenung di atas ranjangnya. Terlihat jelas bagaimana ekspresinya saat ini yang terlihat tak yakin, ketika mencoba membuat keputusan seperti itu.
"Tapi aku masih belum tau alasan dia meninggalkanku?" Sambungnya lagi ketika mengingat kembali tentang Darren yang telah lebih dari 5 tahun pergi dari sisinya dan juga lost kontak denganya.
...
Tak berbeda dengan Airin yang merasa gundah dan banyak pikiran, Darren yang saat ini terjaga dari tidurnya, memilih turun kebawah untuk menghilangkan suntuknya karena telah terbangun dari tidurnya.
Ia memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, untuk menghilangkan sejenak rasa frustrasinya dalam menghadapi berbagai problem yang terjadi padanya hari ini.
"Besok aku harus ke rumah kakek, aku mau menyelesaikan permasalahan yang hari ini dulu." Ucapnya yang bertekad membereskan hal-hal yang telah mengganggu pikiranya sedari tadi. Terlebih pada hal yang baru saja terjadi padanya, yaitu tentang berita pernikahannya yang keluar ke media tanpa persetujuan darinya.
"Apa setelah itu aku coba cari tau soal perempuan itu, ya?" Ucapnya lagi yang jadi lebih kepikiran soal perempuan yang selalu muncul dalam tidurnya.
"Tapi gimana caranya aku mencari tau soal itu? Aku saja tidak tau wajah dan namanya?" Bingung Darren.
"Melbourne, ini pasti masih ada hubunganya dengan itu. Benar, aku harus datang kesana lagi untuk mencari tau." Ingatnya kemudian.
__ADS_1