Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
85. Perkenalan Diri Dari Darren


__ADS_3

"Papa, Arka kangen banget sama papa." Ucap Arka memeluk erat Darren.


"Maaf ya, karena papa terlambat datang menemui Arka, sebenarnya papa juga kangen sama Arka." Balas Darren mengelus lembut puncak kepala sang anak.


Masih terdiam melihat kedekatan keduanya, semua memandang tak percaya pada fakta yang baru saja mereka lihat secara langsung di depan mereka saat ini, seolah terpaku pada kedekatan Arka dengan Darren yang terlihat begitu kompak dan penuh kehangatan.


Rendi yang sedari tadi hanya diam juga memberikan ekspresi terkejutnya pada pemandangan di depanya. Ia tak biasanya melihat Arka yang begitu akrab dengan seseorang, terlebih setelah melihat ekspresi wajah Arka yang penuh dengan kebahagiaan bersama orang yang ia sebut sebagai papanya.


"Kalau dilihat lagi, wajah mereka memang terlihat mirp." Ujarnya dalam hati ketika melihat dengan seksama wajah Arka yang terlihat memiliki kemiripan dengan laki-laki yang baru ia temui itu.


Namun, entah mengapa perasaanya tiba-tiba menjadi tidak nyaman ketika melihat kedatangan laki-laki yang katanya papa dari Arka. Ia pun terdiam menatap kedekatan keduanya yang tampak tak canggung satu sama lain.


"Aku tidak pernah melihat raut wajah bahagia yang diperlihatkan oleh Arka seperti ini sebelumnya? Apa benar itu ayahnya? Kalau begitu..."


Rendi pun melirik ke arah Airin yang saat ini terlihat hanya diam melihat kedekatakan anak dan ayahnya. Ekspresinya terlihat begitu datar dan hanya menatap lurus pada kedekatan Arka dan ayahnya. Melihat itu, Rendi pun juga hanya bisa mengamatinya dalam diam.


....


Tak berbeda dengannya yang terkejut melihat kedatangan Darren, bi Rahma dan suaminya juga sampai tak berekspresi karena saking terkejutnya melihat kehadiran Darren. Keduanya membeku melihat sosok yang di duga ayah dari anak keponakanya itu.


"Maaf, kalau kedatangan saya mengejutkan kalian semua." Darren yang menyadari tak adanya respon dari keluarga Airin, terlebih Airin yang juga nampak terlalu terkejut dengan kedatanganya, mencoba untuk menyapa mereka kembali.


"Saya akan memperkenalkan diri saya lagi secara resmi pada anda berdua." Ucapnya mengarah pada bibi dan paman Airin.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Darren, ayah kandung dari Arka." Lanjutnya yang kembali memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tanganya pada bibi dan juga paman Airin. Kali ini ia memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari Arka.


Sontak saja semua menatapnya terkejut, sedangkan Airin hanya diam tertegun menyaksikan Darren yang memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari anaknya. Karena saking terkejutnya dengan ucapan itu, bibi dan paman Airin mengabaikan uluran tangan Darren. Yang akhirnya membuat Darren menurunkan kembali uluran tangannya yang tak mendapat sambutan itu. Ia pun hanya bisa tersenyum menyembunyikan perasaannya yang tak mendapatkan sambutan dari keluarga Airin, dan kembali menggandeng tangan anaknya.


"Airin, benarkah itu?"


Bi Rahma yang terkejut nampak bertanya pada Airin untuk meminta penjelasan. Meski sudah mendapatkan penjelasan dari Airin sebelumnya tentang siapa sosok ayah kandung dari anaknya, namun karena tak pernah bertemu secara langsung, bi Rahma ingin mengkonfirmasinya lagi pada Airin.


Namun Airin terlihat kesulitan untuk sekedar menjawab, ia membisu melihat kehadiran Darren kerumahnya, bahkan ia yang saat ini saling bertemu mata dengan Darren tak bisa menyembunyikan ekspresi marah dan tak percayanya pada Darren yang saat ini harus datang kerumahnya, hingga menciptakan suasana yang canggung dan menempatkan ia dalam keadaan sulit seperti ini, terlebih ada Rendi dirumahnya sekarang. Membuatnya sedikit malu untuk sekedar bertatap muka dengan Rendi yang terlanjur menyaksikan semuanya dari awal.


....


"Sepertinya saya harus kembali kerumah sakit, soalnya masih ada pasien yang harus saya periksa kondisinya." Ucap Rendi yang hendak pamit pergi pada bibi dan paman Airin, tak terkecuali pada Airin sendiri, yang sedari tadi tak bersuara semenjak kedatangan Darren kerumah.


"Oh, nak Rendi sudah mau pergi, maaf ya nak kita jadi lupa kalau nak Rendi masih ada disini." Ucap bi Rahma yang baru tersadar kalau Rendi masih ada dirumahnya. Karena terlalu terkejut dengan kehadiran Darren, ia sampai lupa pada sekelilingnya.


"Terimakasih nak, sudah mau mengunjungi kami lagi." Kali ini suami bi Rahma, yang juga paman Airin ikut menimpali Rendi yang hensak pergi dari rumahnya.


"Iya, gapapa kok tante." Balas Rendi pada bi Rahma. "Rendi yang merasa berterimaksih om, karena sudah di izinkan berkunjung kerumah om dan sekeluarga." Kali ini ia membalas ucapan paman Airin.


Rendi pun pamit pergi pada keduanya, dan juga pada Airin. Meski sedikit canggung ia juga menyapa Darren, tak lupa ia berpamitan pada Arka dan Dava yang ada di dalam rumah. Kedekatan dan keramahanya pada keluarga Airin membuat Darren sedikit tidak nyaman.


"Hati-hati ya kak, maaf kalau membuat kakak merasa nggak nyaman begini." Ucap Airin merasa sedikit bersalah pada Rendi yang harus pergi dan terlanjur menyaksikan permasalahan keluarganya.

__ADS_1


"Iya, gapapa, kalau begiru aku pergi dulu ya." Pamitnya kemudian dan berjalan pergi melewati Darren.


.....


Setelah kepergian Rendi, suasana kembali hening dan canggung.


"Wah.. suasananya jadi suram begini. Apa aku pergi aja, ya?" Dava yang sama terkejutnya dengan kehadiran Darren, berniat pergi dari suasana yang menyesakkan itu.


"Sebaiknya kita ngobrol di dalam saja, tidak enak kalau dilihat banyak orang." Paman Airin pun bersuara dan memberikan pendapatnya untuk membawa Darren kedalam rumah.


Aksinya itu diikuti oleh bi Rahma dan Dava yang terlebih dahulu masuk kedalam rumah. Namun, Airin masih tinggal diluar bersama Arka yang masih berpegangan tangan dengan Darren.


"Apa tujuan anda datang kemari." Ucapnya yang akhirnya bersuara setelah dari tadi hanya diam.


"Arka, papa mau bicara sama mama, boleh kan kalau Arka masuk dulu kedalam." Darren yang tau tak akan ada pembicaraan santai dengan Airin, menyuruh anaknya untuk masuk kedalam terlebih dahulu.


Meski sedikit ragu, Arka pun akhirnya mau menuruti kemauan Darren dan meninggalkan kedua orang tuanya untuk saling berbicara.


"Aku tau kamu sedang marah padaku, karena itu aku datang kemari untuk meminta maaf. Aku juga mau menjelaskan soal masalah kemarin padamu." Ujar Darren kemudian.


"Pergi, aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Usir Airin yang tak ingin melihat kehadiran Darren.


Darren langsung tertegun melihat Airin mengusirnya, melihat raut wajahnya yang nampak serius membuatnya semakin tak bisa berkutik. Aura kemarahan yang amat besar padanya membuat hatinya begitu sakit.

__ADS_1


__ADS_2