Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
41. Mengatakan Kebenaran


__ADS_3

Airin menahan rasa gugupnya ketika hendak mengatakan pada bibinya. Ia menguatkan sekali lagi pada keputusannya yang hendak mengatakan seputar ayah kandung anaknya.


"Kamu mau bicara apa sama bibi? Tidak ada masalah serius, kan?" Tanya bi Rahma begitu melihat Airin yang masih diam.


"Itu.., sebenarnya ada hal yang sangat ingin Airin katakan pada bibi." Airin menatap wajah bibinya dengan ekspresinya yang terlihat hati-hati.


"Memangnya kamu mau bicara soal apa sampai berekspresi serius seperti ini?" Tanya bi Rahma ketika melihat ekspresi Airin yang terlihat ragu-ragu.


"Mungkin bibi akan kaget kalau Airin bilang soal ini, tapi..sepertinya Airin sudah tidak bisa lagi menyembunyikan soal ini pada bibi." Kata Airin yang mulai memberanikan diri berkata jujur pada bibinya.


"Ada apa ini, memangnya apa yang hendak kamu katakan sama bibi, apa itu begitu serius sampai kamu menatap bibi begini?" Bi Rahma cukup panik setelah mendengar perkataan Airin, ditambah dengan ekspresi Airin yang terlihat tidak biasa di depannya. Raut wajahnya langsung berubah khawatir pada Airin.


"Bibi tenang ya, tidak terjadi apapun sama Airin, maupun Arka, kok." Airin mencoba menenangkan bibinya yang justru menghawatirkannya.


"Fiuh, syukurlah, bibi sempat khawatir lho." Nada dan ekspresi kelegaan terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Maaf, jika Airin mengagetkan bibi. Tapi, yang mau Airin katakan itu..."


Dengan sedikit keraguan, Airin mulai mengatakan yang sejujurnya pada bi Rahma soal ayah kandung anaknya yang sempat ia sembunyikan identitasnya. Awal yang tenang ketika bi Rahma mendengarkan cerita Airin, namun ketika mengetahui kebenarannya secara langsung dari Airin, ekspresinya langsung berubah terkejut.


Melihat bibinya yang terdiam setelah dirinya mengatakan yang sejujurnya akan identitas ayah kandung dari anaknya, membuat Airin jadi gelisah, karena takut bibinya kecewa dan marah padanya.


"Bi, maaf kalau Airin baru cerita soal ini sama bibi. Karena saat itu, Airin masih cukup terkejut dan menunggu momen yang tepat juga untuk cerita sama bibi dan paman." Ucap Airin, pada bibinya yang masih diam.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kalau begini, akan susah buatmu meminta pertanggung jawaban darinya?" Ujar bi Rahma yang memberikan ekspresi prihatin pada sang keponakan, mengingat identitas dari ayah kandung anaknya yang ternyata terlihat cukup berbeda darinya.

__ADS_1


Airin yang mengerti maksud dari bibinya hanya bisa diam, karena ia sendiri masih bingung harus bagaimana menghadapi situasi dirinya saat ini.


"Airin juga masih bingung, karena itu.. Airin tidak bisa cerita sama bibi soal ini."


"Setidaknya cobalah bertemu dengannya, tanyakan alasanya kenapa dia meninggalkanmu, dan setelahnya mintalah pertanggung jawaban darinya, setidaknya demi Arka, anakmu." Ujar bi Rahma memberikan nasehatnya.


"Bertemu denganya?" Airin menghela nafas frustrasi karena merasa bingung jika harus bertemu lagi dengannya, mengingat dia tidak tau tempat tinggal Darren.


"Airin tidak tau tempat tinggalnya, terlebih.." Ia menahan rasa sakitnya ketika hendak mengatakan soal kebenarannya. "Dia tidak mengingat Airin lagi." Sambungnya kemudian, sembari memasang ekspresi wajah yang terlihat sedih.


"Hah! Gimana maksud kamu?" Bi Rahma terlonjat kaget ketika mendengar kalimat yang dikatakan oleh Airin.


"Dia tidak mengingat Airin, bi. Saat Airin berdiri di depanya pun dia tidak bisa mengenali Airin, entah dia benar-benar tidak ingat sama Airin atau justru sengaja melupakan Airin." Jelas Airin.


Bi Rahma terkulai lemas, meraskan perasaan yang campur aduk karena cerita keponakanya. Antara tidak percaya, marah, kecewa dan merasa prihatin akan nasib yang di alami keponakannya.


"Iya."


"Meski begitu, kamu harus tetap bicara sama dia, kalau dia tidak percaya, lakukan saja tes dna agar dia percaya kalau Arka itu anaknya."


Airin terlihat ragu pada ucpaan bibinya, dan merasakan perasaan yang begitu sulit untuk dilakukannya, mengingat soal status Darren yang dari kalangan berbeda dengannya.


"Apa mungkin Airin menyerah saja soal dia? Arka juga tidak menanyakan lagi soal ayah kandungnya?" Ucap Airin yang terlihat pasrah dan merasa tidak ada harapan.


"Jangan bilang seperti itu, kamu coba saja dulu, siapa tau ada harapan. Apa kamu tidak kasihan sama Arka? Meski Arka tidak membicarakan lagi soal ayah kandungnya, tapi bukan berarti anakmu tidak akan menanyakannya nanti."

__ADS_1


"Lalu Airin harus bagaimana, bi? Kalau Airin menghampirinya langsung dan mengatakan yang sebenarnya padanya, nanti justru Airin yang akan di anggap aneh dan dibilang matrealistis."


Bi Rahma tak bisa mendebat, karena apa yang dikatakan oleh Airin ada benarnya juga. Perbedaan status mereka yang cukup besar, membuatnya cukup masuk akal. Dan, yang bisa ia lakukan pada keponakannya saat ini adalah mencoba menghibur Airin dengan pelukan dan sentuhan lembut pada punggungnya.


"Bibi tau itu terlihat sulit. Tapi, untuk sekarang mungkin kamu harus menekan ego kamu, setidaknya demi anak kamu yang nanti akan terus bertumbuh besar." Bi Rahma yang melepaskan pelukannya, mencoba meyakinkan sekali lagi pada Airin.


"Airin coba pikirkan hal itu, nanti. Sekarang Airin benar-benar masih bingung soal ini."


"Bibi tidak menyuruhmu langsung membuat keputusan, tapi apapun keputusan yang kamu buat nanti, bibi akan tetap mendukungmu. Tapi, setidaknya coba pikirkan dulu soal yang bibi bilang tadi."


"Iya, bi. Terimakasih sudah mendengarkan cerita Airin dan tidak marah soal ini pada Airin."


"Bibi yang harusnya berterimakasih, karena kamu mau menceritakan hal ini pada bibi. Lain kali jangan dipendam sendiri, coba katakan pada bibi, bisa aja bibi bisa bantu kamu."


"Iya, bi." Senyum Airin pada kehangatan bibinya yang selalu memperlakukan dirinya dengan baik.


Ada kelegaan di hati Airin ketika sudah menceritakan permasalahnnya pada sang bibi. Meski belum benar-benar menemukan solusi yang terbaik dari kegundahan hatinya, namun dengan hanya bercerita secara jujur pada bibinya membuat dirinya merasa lebih lega dan nyaman.


"Kalau kamu sudah berbicara dengan ayah dari anakmu, mungkin nanti kamu jadi bisa bercerita dengan bebas pada anakmu soal siapa ayahnya. Kamu tidak mungkin menyembunyikan terus kan, soal identitas ayah kandungnya pada Arka?"


"Iya, bi. Airin juga inginnya mengatakan pada Arka. Tapi, disatu sisi Airin merasa taku, takut jika ayahnya justru tidak mau mengakuinya, dan nanti malah menyakiti hati Arka." Ujar Airin yang menghawatirkan perasaan anaknya.


Bi Rahma mengangguk kecil, terlihat setuju pada kekhawatiran yang Airin rasakan.


"Yasudah, pelan-pelan saja. Selagi Arka belum menanyakan soal ayahnya lagi, kamu coba saja dulu temui ayah dari anakmu itu. Kalau tidak berhasil pun, setidaknya kamu sudah berusaha, dan bibi akan terus berada disisi kamu dan Arka meski nanti dia tidak mengakuimu dengan anakmu."

__ADS_1


Bola mata Airin mulai menggenang, karena merasa tersentuh dengan perkataan bibinya.


"Terimakasih, bi." Ucap Airin yang mulai membasahi kedua pipinya.


__ADS_2