Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
67. Darren Akhirnya Ingat?


__ADS_3

Flashback, sebelum kedatanganya ke sekolah Arka.


"Apa maksud dari foto-foto ini semua? Kenapa banyak sekali foto-fotoku bersama perempuan ini?"


Darren yang masih tak mengerti dan tak percaya pada apa yang ia lihat, meminta penjelasan pada Arsen yang telah membawakanya foto-foto tersebut.


"Maaf, foto ini saya temukan saat saya mendatangi apartemen lama anda yang ada di melbourne." Jawab Arsen.


"Apa kamu bilang? Jadi, foto ini kamu temukan di apartemen lamaku?" Darren menatap terkejut pada jawaban Arsen.


"Iya, benar, pak." Jawab Arsen.


Darren tersenyum tak percaya, karena sejatinya ia baru saja kembali dari apartemen lamanya, dan saat itu dia tak bisa menemukan apapun disana selain siluet bayangan yang ia lihat, terlebih ia juga sempat pingsan disana.


"Lalu, apa lagi yang kamu temukan disana?" Ucapnya menanyakan hal lainya.


"Saya menemukan ini di dalam laci kamar tidur anda dulu." Jawab Arsen yang kemudian memberikan suatu barang pada Darren.


"Apa ini juga kamu temukan di apartemen lamaku?"


Pertanyaannya itu mendapat anggukan dari Arsen.


"Ternyata banyak hal yang tersimpan disana rupanya." Ujarnya sembari membuka kotak kecil yang seperti tempat cincin.


Dan benar, di dalamnya ada sebuah cincin yang masih terlihat bagus meski kotaknya sedikit berdebu. Ia menatap dalam ekspresi bingung dan juga terpaku, pada cincin yang di depannya. Setelah melihatnya, entah mengapa ekspresinya jadi terlihat sedih ketika menatap cincin tersebut, seolah merasakan kepedihan yang tak bisa ia jelaskan.


Darren tak kuasa saat melihat cincin itu, dan dengan segera menutup kotak cincin itu.


"Apa kamu bisa menjelaskan perempuan yang sedang bersama denganku di foto ini? Apa kamu menemukan sesuatu soal dia?" Ucapnya yang memilih menutup kotak cincin itu dan beralih bertanya pada Arsen.


Arsen pun mulai menjelaskannya pada Darren, dimulai dari latar belakang Airin hingga apa hubungan Darren di masa lalu dengan seorang Airin atau perempuan yang berada dalam foto tersebut.


Darren mendengarkan penjelasan Arsen sembari menatap isi laporan yang Arsen berikan padanya. Ia mencocokan penjelasan Arsen dengan laporan yang ia berikan padanya. Hingga ia cukup terkejut ketika mendengar Airin telah mempunyai seorang anak dari penjelasan Arsen, membuatnya kembali teringat pada sosok anak kecil yang tak sengaja ia lihat beberapa waktu lalu ketika bertemu dengan Airin di pertemuan mereka saat itu.


"Ah.., jadi itu anaknya." Gumamnya yang masih terus mendengarkan penjelasan Arsen.


....

__ADS_1


"Apa dia sudah menikah?" Tanya Darren kemudian, menghentikan Arsen yang hendak berbicara kembali.


"Dia seorang ibu tunggal." Jawab Arsen.


"Ibu tunggal? Apa dia bercerai dengan suaminya?" Tanya Darren lagi.


"Tidak, pak."


"Maksudmu apa, dengan tidak?" Darren menatap bingung pada Arsen.


"Dari yang saya selidiki, dia belum pernah menikah sebelumnya."


"Hah, jadi maksudnya dia punya anak diluar pernikahan?" Darren tertegun mendengarnya hingga tidak mempercayai apa yang ia dengar. Namun, anggukan Arsen langsung menjawab kebingungannya.


"Kalau begitu, apa kamu tau siapa ayah dari anaknya?" Ucapnya lagi dengan sedikit penasaran.


"Saya menemukan ini saat saya mengunjungi apartemen lama anda, mungkin ini bisa menjawab pertanyaan anda tadi." Arsen tak langsung menjawabnya dan memilih memberikan sebuah foto baru dan flashdisk pada Darren.


Darren menerimanya dengan tatapan bingung, namun ekresinya berubah terkejut ketika melihat foto di dalamnya.


"Di dalam flashdisk itu ada rekaman tentangnya saat mengunjungi apartemen anda." Ujar Arsen menjelaskan.


....


Darren yang mengetahui apa yang sebenarnya, tentu saja merasa terguncang, hingga tak bisa kata-kata. Pada hubunganya di masa lalu bersama Airin yang ternyata pernah berpacaran, hingga pada anak kecil yang terlihat mirip denganya itu.


"Tunggu, apa kamu sudah memastikan kalau dia itu.." Darren menghentikan ucapannya yang terasa berat itu. "Kalau dia itu anakku?" Ucapnya kemudian.


"Ini hanya dugaan saya, karena selama saya menyelidiki soal anda selama tinggal di melbourne, hanya perempuan inilah yang anda kencani dan temui." Jawab Arsen.


"Artinya kamu belum yakin kalau dia itu anakku, kan?"


"Maaf, iya pak." Jawba Arsen jujur.


"Antar aku untuk menemuinya." Pinta Darren.


"Maaf.."

__ADS_1


"Ku bilang antar aku menemui anak itu." Ujar Darren dengan ekspresi dinginnya.


"Baik, akan segera saya siapkan mobilnya." Arsen pun bergegas pergi dari hadapan Darren.


Flashback pun berakhir dengan Darren yang akhirnya kembali pada kenyataan.


....


Darren yang saat ini baru saja kembali dari mendatangi dan menemui Arka terlihat dalam suasana yang kacau. Ia pun mencoba mencocokan kembali pertemuannya bersama Airin yang beberapa kali tak sengaja bertemu, terlebih pada ekspresi yang selalu ditujukan oleh Airin setiap kali melihatnya.


"Saat itu dia begitu marah padaku." Ucapnya ketika mengingat pertemuanya bersama Airin.


Pikirannya bertambah kacau ketika mengingat ternyata ia pernah berhubungan dengan Airin dulu.


"Apa karena ini dia marah padaku? Karena aku tidak bisa mengingat tentangny?"


Darren terduduk lemas ketika memikirkan kembali pada hal yang mengejutkan ini.


"Sial, otakku benar-benar tidak bisa mencerna dengan baik." Umpatnya frustrasi.


Tak hanya kenyatakan akan hubungany bersama Airin di masa lalu, namun dengan kenyataan akan dirinya yang di duga memiliki seorang anak menambah kacau perasaannya.


"Aku harus apa sekarang?" Ucapnya bingung pada kondisinya saat ini.


"Aku masih belum mengingat semua ini, tapi kalau dia benar anakku, bukankah aku harus bertemu dengannya?" Ucapnya lagi memikirkan kemungkinan itu terjadi.


Darren bergolak pada pikiran yang terus merusak perasaanya. Di lihatnya lagi pada foto-foto miliknya saat bersama Airin. Ia tak bisa berkata-kata ketika melihat foto dirinya bersama Airin yang terlihat bahagia.


Tiba-tiba saja bayangan akan kenangan dirinya bersama Airin dulu muncul dalam pikirannya, membuatnya mengerang kesakitan dan hanya bisa menahannya saat ingatan yang kini terlihat jelas itu terus muncul dalam kepalanya.


"Jadi, suara yang kudengar selama ini, adalah suaranya." Ucapnya merasakan sakit yang amat pada dada dan kepalanya.


"Apa ini hukuman untukku darimu?" Ucapnya yang kini memasang ekspresi sedih.


Raut wajahnya berubah ketika mengingat itu, kedua bola matanya memerah karena ingatan itu dan tubuhbya yang merasakan sakit karena ingatan itu.


"Aku minta maaf." Ujarnya yang kini tak lagi bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

__ADS_1


Darren menangis sambil terus menahan rasa sakit dalam dadanya yang tiba-tiba merasa sesak. Ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang menyerang hati dan perasaanya. Meski ingatannya belum pulih sepenuhnya, namun karena bayangan ingatan yang muncul dengan jelas dan bukti dari laporan Arsen, membuat ia akhirnya menyadari kesalahanya.


__ADS_2