
"Sial, kenapa dadaku tiba-tiba sakit begini?" Ucapnya yang tiba-tiba merasakan nyeri pada dadanya.
Tanpa permisi, tiba-tiba saja rasa nyeri itu menyerang dadanya. Darren sedikit kesulitan ketika rasa nyeri itu menyerang dirinya. Getaran yang cukup kuat terasa pada dadanya, hingga menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Duh, sakit banget lagi" Ucapnya sembari menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Ia lalu berjalan ke arah dapur untuk mencari air.
Gluk, gluk, gluk.., ia menenggak air dengan cepatnya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Ha.., ha.., buangan nafasnya yang berat seolah melepas rasa nyeri yang sempat menyerang dadanya. Dengan mencoba mengatur kembali nafasnya, dan terus memegang dadanya yang kini mulai tenang. Darren kembali meminum air putih, seolah memastikan kembali bahwa rasa nyeri pada dadanya sudah tak terasa.
"Padahal aku gak lagi minum kopi ataupun alkohol?" Ucap Darren yang merasa sedikit bingung dengan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Kini dadanya terasa lebih nyaman dan tak sakit lagi, namun ia masih tak sanggup untuk berjalan ke arah kamarnya. Ia terduduk lemas di atas kursi meja makan miliknya, sambil mengatur kembali ritme nafas dan detak jantungnya yang sedari tadi berpacu lebih cepat karena rasa nyeri pada dadanya.
"Apa ini juga efek samping dari kecelakaan itu?" Ucapnya mencoba mencari jawaban dari rasa nyerinya itu.
"Haruskah aku periksa pada dokter Heru?" Sambungnya.
Darren jadi sedikit flashback dengan kecelakaan yang menimpa dirinya 8 tahun yang lalu. Ia teringat akan memorinya yang hilang saat kecelakaan. Meski kondisinya bisa pulih dan sempat mengalami koma beberapa bulan, namun ia tetap bisa diselamatkan setelah mengalami kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawanya itu.
Beruntung ia tak mengalami hal fatal, meski kepalanya sempat cedera, namun ia masih mengingat nama dan asal usulnya, termasuk orang-orang di sekelilingnya. Hanya saja kenangan dirinya selama di australia yang tak bisa ia ingat, termasuk soal kecelakaanya sendiri.
"Sudahlah, nanti giliran kepalaku lagi yang sakit." Ucap Darren tak mencoba menggali lebih jauh tentang kecelekaanya, mengingat setiap kali ia berusaha untuk mencoba mengingat, maka kepalanya akan merasa pusing dan sakit.
Setelah terduduk sejenak untuk menenangkan tubuhnya yang sempat lemas, kini Darren menuju ke arah kamarnya dan tak lagi memusingkan apa yang sedang menimpa dirinya.
...
Di tempat yang berbeda, saat ini Airin telah sampai di depan rumahnya setelah selesai makan malam bersama Arka dan Rendi di restaurant.
"Terimaksih ya kak hari ini." Ucap Airin pada Rendi begitu turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya sama-sama, harusnya aku yang berterimakasih karena kamu dan Arka mau aku ajak makan hari ini." Jawab Rendi.
Airin tersenyum, "Oh iya, biar aku aja yang menggendong Arka masuk kedalam." Ucapnya yang ingin menggendong Arka yang tertidur dalam gendongan Rendi.
"Tidak usah, aku gak keberatan kok. Lebih baik kita masuk saja, kasian Arka sudah tertidur pulas begini." Tolak Rendi dan merasa tak keberatan menggendong Arka masuk kedalam rumah.
Keduanya pun kini berjalan masuk kedalam rumah bersama. Ada keluarganya yang terlihat berbincang di ruang tamu ketika ia bersama Rendi masuk kedalam rumah.
"Oh, kalian berdua sudah pulang." Ucap bi Rahma yang mengetahui kedatangan Airin dengan Rendi.
"Iya bi, kita sudah pulang." Jawab Airin.
"Lho, Arka tertidur ya itu?" Tanya bi Rahma ketika melihat Arka tampak diam dalam gendongan Rendi.
"Iya, sepertinya dia sedikit lelah hari ini." Jawab Rendi.
"Yasudah cepat sana baringkan dia dikamar." Pinta bi Rahma segera.
Airin dan Rendi pun menuruti perintah bi Rahma dengan segera menuju ke arah kamar yang biasa dirinya dan Arka tidur. Begitu sampai di dalam kamar, Rendi langsung membaringkan tubuh Arka dengan pelan di atas ranjang tempat tidurnya.
"Uang, uang aja terus. Kerjaanmu dari tadi gak becus, sana masuk ke kamar dan belajar." Omel bi Rahma pada putra semata wayangnya itu.
"Yaudah deh aku minta ke bapak aja lha, pak minta uang dong. Laper nih, mau beli nasi goreng." Dava tak memperdulikan omelan sang ibu dan malah beralih ke arah bapaknya yang tengah asik menonton tv.
"Kamu ini kok minta uang terus, sih? Bukanya tadi kamu sudah makan ya?" Heran pak Bilal pada Dava.
"Duh, tadi itu cuma buat ganjel perut, sekarang aku tuh butuh makan besar. Jadi, aku boleh minta uang tidak, nih?" Jawab Dava dengan entengnya.
"Yaudah nih, tapi langsung pupang lho nanti jangan keluyuran kemana-mana" Pak Bilal pun luluh dan akhirnya memberi Dava uang.
"Yes.." Seru Dava dengan ceria begitu sang ayah yang akhirnya memberikan dirinya uang.
__ADS_1
"Astaga ini anak. Kamu dengar tidak, apa yang bapakmu bilang tadi? Jangan keluyuran kemana-mana." Gerutu bi Rahma dengan memukul Dava pelan yang seolah gemes melihat tingkah dari sang anak yang terlihat masih belum dewasa.
"Duh, iya Dava denger kok." Cemberut Dava mendapat pukulan dari bi Rahma.
"Oh, kak Rendi sudah mau pulang, nih?" Ucap Dava yang tiba-tiba mengalihkan pandanganya pada Rendi yang baru saja kembali dari menaruh Arka di kamar.
"Iya nih, aku harus pulang sekarang. Arka juga sudah aku taruh dikamarnya." Jawab Rendi.
"Lain kali ajak-ajak Dava dong kalau makan malam, aku juga mau kali, kak." Kata Dava yang terlihat begitu akrab dengan Rendi.
Satu pukulan mendarat pada kepalanya dari sang ibu.
"Sakit tau, buk." Protes Dava sambil memegang kepalanya yang kesakitan.
"Sana pergi beli nasi goreng."
"Ini juga mau pergi, nih."
Pertengkaran antara Dava dengan bi Rahma membuat Rendi jadi terhibur, hal yang biasa ia lihat setiap kali ia datang kerumah mereka.
"Nak Rendi mau pulang, ya?" Tanya bi Rahma memecah suasana yang sempat kacau karena Dava.
"Iya, bi. Rendi harus pulang sekarang. Rendi pamit ya." Pamit Rendi pada bibi dan paman Airin dan pada Airin sendiri.
"Iya, kalau begitu hati-hati dijalan. Terimakasih ya sudah memulangkan Airin dan Arka dengan selamat."
"Iya, bi. Itu kan sudah pasti, kalau mereka tidak Rendi pulangkan, nanti yang ada saya ditangkap sama polisi lagi, karena sudah menculik mereka." Kelakar Rendi yang disambut tawa oleh bi Rahma.
Airin hanya tersenyum saat melihat keakraban Rendi dengan bibinya. Obrolan itu mengakhiri keduanya dan Rendi pun pulang dari kediaman Airin.
...
__ADS_1
Saat kembali masuk ke dalam kamarnya setelah mengantar Rendi pulang, ekspresi Airin terlihat kembali murung. Ia masih tak bisa melupakan kejadian yang ia dengar di restaurant tadi.
"Apa aku coba menghampirinya, ya?" Tuturnya lalu menghela nafas panjang.