
Hari pun sudah semakin larut, dan Darren semakin dibuat khawatir dengan Airin yang belum juga ia temukan. Dengan perasaan putus asa dan gelisah, Darren yang sudah mulai lelah tetap berusaha mencari keberadaan Airin.
"Dimana kamu sebenarnya." Gumamnya yang sangat frustrasi.
Dering ponsel yang berbunyi mengalihkan pandanganya yang sedang bingung dan frustrasi mencari keberadaan Airin disepanjang jalan yang ia lalui. Telfon dari Arsen setidaknya membuatnya sedikit bisa bernafas lega, karena seperti ada secercah harapan untuk masalahnya saat ini.
"Halo, gimana perkembanganya? Apa kamu sudah menemukan sesuatu?" Ucapnya begitu telfon terangkat.
"Saya sudah mengecek kerumah nona Airin seperti yang anda perintahkan, namun tidak ada mobil milik nona Airin dirumah, kemungkinan besar beliau belum kembali kerumah."
Deg, perasaan Darren kembali menjadi tidak tenang karena prenjelasan Arsen. Mengingat hari yang semakin larut, namun ia dan bawahanya belum juga menemukan keberadaan Airin. Ia pun semakin dibuat pusing karena hal itu.
"Cari lagi keberadaanya sampai ketemu, sebelum itu coba cari informasi pada keluarganya Airin, siapa tau ada info yang bisa kita dapat untuk mencari keberadaan Airin." Ujar Darren memberikan perintahnya pada Arsen.
"Baik, akan segera saya lakukan." Jawab Arsen.
Telfon diantara keduanya pun akhirnya terputus. Dengan Darren yang kembali melanjutkan pencarian dan Arsen yang juga langsung bergerak sesuai perintah Darren.
.....
Malam terus berjalan, dan Darren terus berupaya mencari keberadaan Airin. Tak lagi memperdulikan kondisinya yang semakin kacau, dengan penampilanya yang semakin lusuh, dan juga rasa lelah yang terlihat jelas dalam ekspresi wajahnya karena terus bergerak tanpa berhenti, terlebih ia juga baru saja datang dari luar negeri yang bahkan belum sempat mengganti pakaiannya. Dan sekarang, ia harus mencari Airin yang tiba-tiba pergi tanpa pamit.
"Aku akan terus mencarimu, dan dimanapun kamu berada aku pasti akan menemukanmu."
Namun, tampaknya ia tetap bertekad untuk terus mencari Airin dan tak ingin menyerah begitu saja untuk mencari keberadaanya. Karena perasaanya belum merasa tenang sebelum melihat Airin ditemukan dan terlihat langsung oleh kedua matanya.
__ADS_1
"Sebenarnya kenapa kamu tiba-tiba lari begini?"
Sejenak ia pun jadi terpikirkan akan alasan Airin yang tiba-tiba pergi tanpa menoleh kebelakang, terlebih sampai meninggalkan anaknya begini. Kepergian Airin yang ia lihat tepat di depan matanya, membuat Darren terus bertanya-tanya bahkan merasakan perasan bingung disaat bersamaan.
"Apa ini karena kamu sudah tidak mau lagi memaafkanku?"
Memikirkan itu tiba-tiba membuatnya sedih, ia tak bisa membayangkan jika nanti Airin benar-benar tidak mau memaafkanya terlebih lagi jika sampai menolak kehadiranya.
"Hatiku sakit hanya dengan memikirkanya saja."
Perasaanya seolah tak sanggup untuk membayangkan kemungkinan terburuknya nanti, dan membuatnya tersadar bahwa dengan meminta maaf tak cukup baginya untuk mendamaikan perasaan orang yang terlanjur kecewa padanya.
"Aku harus bagaimana lagi supaya kamu memaafkanku dan mau menerimaku lagi?"
Di dalam mobil, Darren terus memikirkan cara untuk bisa mendapat maaf dari Airin. Ia tak berhenti untuk terus berupaya mencari jalan keluar dari apa yang sudah ia lakukan selama ini pada Airin. Terlihat jelas bahwa ia tak ingin kehilangan Airin, terlebih sampai dibenci olehnya
"Tapi.., apa?" Meski berusaha mengingat, namun Darren tetap tak bisa menemukan jawabanya. Semakin membuatnya frustrasi dan kesal pada dirinya sendiri.
....
Ingatanya perlahan mulai membaik dan pulih, walaupun itu masih samar-samar, namun satu hal yang pasti bahwa kenanganya dulu bersama Airin telah ia ingat sepenuhnya, meski ada seauatu yang masih mengganjal dihatinya, yang kemungkinan menjadi hal penting dalam hubunganya bersama Airin.
"Apa yang kulupakan, ah.. sial." Umpatnya yang tak bisa mengingat
Ting, tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk kedalam ponselnya. Sebuah pesan dari Lucas yang tengah mmenanyakan posisinya dan juga memberitahukan tentang jadwalnya besok, namun tentu saja Darren tak membalasnya dan memilih untuk mengabaikanya.
__ADS_1
"Kenapa masih belum ada kabar apapun dari Arsen?" Ia pun hanya terfokus pada masalah yang sedang ia hadapi saat ini, dan mengenyampingkan sejenak hal lainya yang menurutnya tak begitu penting untuknya.
Saat ini ia tengah menunggu kabar dari Arsen yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan Airin. Namun, baru saja ia hendak menelfon Arsen yang tak kunjung memberinya kabar baik, sebuah pesan dari Arsen masuk dan di dalamnya tertulis tentang lokasi Airin berada.
Melihat pesan itu membuat matanya terbuka lebar dan langsung menjalankan kembali mobilnya untuk menuju alamat yang diberikan oleh Arsen.
......................
...Kamu yang berlari menjauhiku, begitu menyiksa relung hatiku. Mengobrak-abrik perasaanku yang kacau karena terus memikirkan keberadaanmu. Tak akan kubiarkan kau menghilang dari pandanganku walau kutahu tak akan mudah untuk mendapat maaf darimu....
.
Perasaan yang lega karena akhirnya mengetaghui lokasi Airin berada, Darren melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju tempat Airin berada saat ini.
"Ternyata kamu pergi sampai sejauh ini." Gumamnya yang terlihat tak menyangka pada Airin yang harus pergi meninggalkan kota.
Meski tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini, namun dengan ia yang harus sampai keluar kota bahkan denganya yang seorang diri mengendarai mobilnya di malam hari, tentu bukanlah hal yang biasa baginya yang seorang perempuan.
"Pantas aku tak menemukanmu, ternyata kamu memang sedang tidak ada disini." Ujarnya yang merasa lelah telah mencari Airin dipenjuru kota, namun ternyata Airin sedari awal memang tidak ada disana.
Tak memperdulikan hari yang semakin larut, dengan melajukan mobilnya seorang diri Darren sedang menuju tempat yang Airin kunjungi saat ini dengan perasaannya yang penuh campur aduk.
"Tempat apa itu, dan mengapa Airin harus datang kesana, apakah tempat itu menyimpan makna baginya hingga ia harus datang kesana malam-malam begini?" Begitulah yang terus dipikirkan oleh Darren selama dalam perjalanan menuju tempat Airin berada saat ini.
Sedangkan Airin, ia yang pergi tanpa tujuan berakhir mendarat disebuah rumah kosong milik kerabatnya yang masih terawat dengan rapi dan bersih. Pemandangan yang langsung menatap ke laut, dengan tiupan angin yang menyejukkan mampu mendamaikan perasaanya yang saat ini tengah kacau.
__ADS_1
Ia yang pergi tanpa berfikir, merasa kacau dengan apa yang ia lakukan, terlebih ia sampai meninggalkan anaknya. Namun, karena situasinya yang terlihat menyedihkan, ia langsung meluapkan kesedihan yang telah menumpuk di dalam hatinya. Seolah apa yang ia alami selama ini tak mampu ia bendung lagi. Ia pun menangis di dalam kesendirian ditengah ombak lautan yang terus bersuara.