Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
74. Berbagi Cerita


__ADS_3

Lucas diam terpaku mendengar ucapan Darren yang tampak serius dan tak ada celah bercanda di dalamnya. Ia tertegun menatap Darren yang justru bersikap tenang mengucapakan hal yang membuatnya terkejut itu.


"Gila, jadi berita itu benar?" Ucapnya kemudian dengan ekspresi meminta penjelasan pada Darren.


"Harus ya ku ulangi apa yang sudah ku ucapkan tadi?" Balas Darren menatap wajah Lucas dengan ekspresi yang enggan untuk menjelaskan.


Lucas menatap tak percaya pada Darren yang terlihat tenang, sedangkan dirinya sendiri cukup terkejut begitu mengetahui kenyataan yang ia dengar.


"Kok, lu bisa bersikap tenang begini, sih? Apa sebelumnya lu emang udah tau kalau lu itu punya anak? Dan lagi..." Lucas yang lebih terkejut dari Darren saat ini, terlihat kehilangan kata-kata.


"Aku lagi males menjelaskan padamu, kalau lu nggak mau mencarikan rumah buatku, mendingan pergi sana, ganggu tau." Ucap Darren tak perduli dan justru memilih melanjutkan kembali perkerjaanya.


"Astaga ini anak, bikin kepalaku sakit aja." Ujar Lucas menatap kesal pada Darren yang enggan untuk menjelaskan padanya.


"Sejak kapan lu tau soal ini? Dan, kenapa lu nggak pernah cerita hal ini ke gue?" Tanyanya lagi pada Darren.


"Baru-baru ini aja. Dan, soal aku yang enggak mau cerita, ya karena saat itu aku memang masih belum tau." Jawab Darren yang sembari mengerjakan pekerjaannya.


"Hah! Dan lu bisa bersikap tenang begini meski elu tau soal ini? Soal lu yang punya anak? Serius?" Ujar Lucas menatap tak percaya pada Darren.


Darren menghentikan aktivitasnya, dan terdiam sejenak, yang kemudian beralih menatap ke arah Lucas yang saat ini menatapnya penuh rasa penasaran.


"Aku juga kaget sepertimu, malah lebih kaget darimu tau." Jawabnya kemudian, dan membuat Lucas kembali tenang.


"Ok, sorry deh, habisnya ini cukup mengagetkan buatku." Balas Lucas.


"Memangnya menurumu hal ini nggak cukup mengagetkan buatku? Aku juga kaget waktu pertama kali mengetahuinya, tapi kan aku juga tidak bisa melakukan apa-apa selain mempercayainya?" Jelas Darren.


Mendengar penjelasan Darren, Lucas pun akhirnya bisa memahami perasaan sahabatnya itu. Ia mengerti kalau rasa kagetnya tak akan sebanding dengan Darren yang mengalaminya langsung.


"Di berita soal lu yang pergi ke sekolah anakmu, apa itu juga benar? Lalu, apa anakmu juga tau soal lu yang merupakan ayahnya?" Tanya Lucas kemudian.

__ADS_1


"Benar, aku tadi memang datang ke sekolahnya untuk bertemu denganya. Dia juga tau soal aku yang ayahnya, karena memang dia sudah menungguku." Balas Darren jadi termenung memikirkan anaknya.


"Terus sekarang gimana? Apa lu mau merawatnya gitu? Makanya tadi lu memintaku untuk mencarikan rumah?"


"Iyalah, aku kan ayahnya, aku juga ingin menebus kesalahanku padanya, karena itu aku mau..." Sejenak ia terdiam. "Aku mau lebih dekat denganya." Sambungnya yang kini menatap ke arah Lucas.


Lucas berdecak tak percaya mendengarnya, ia pun jadi tak bisa berkata-kata lagi. "Duh, kepalaku jadi pusing memikirkan ini." Ujarnya masih banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Darren.


"Soal anakmu itu, apa lu sudah yakin seratus persen kalau dia itu anak kandungmu?" Tanyanya pada Darren kembali.


"Aku sudah yakin, karena aku sudah memeriksanya langsung melalu tes DNA." Balas Darren.


"Lalu bagaimana dengan ibu dari anakmu? Apa lu juga tau soal dia?"


Pertanyaan dari Lucas soal ibu dari anaknya, membuat Darren jadi teringat soal Airin yang masih menjadi tantangan untuknya.


"Jadi lu juga tau soal dia? Astaga ini anak, hal ini pun lu juga rahasiakan dariku?" Lucas tampak tak habis fikir pada Darren.


"Dia itu, apa aku juga mengenalnya?"


"Entahlah, tapi yang jelas lu pernah ketemu sama dia beberapa kali."


Lucas mengernyitkan dahinya, bingung dengan yang dimaksud oleh Darren.


"Siapa? Dan dimana aku pernah ketemu sama dia?"


"Waktu dipesta pernikahan Silvia, itu pertama kalinya kita ketemu sama dia, dan yang terakhir mungkin saat kita menemui Laura." Jelas Darren.


Lucas tak langsung ngeh dan ingat soal Airin, ia masih berusaha memikirkan apa yang dimaksud oleh Darren.


"Oh, aku ingat sekarang, jadi dia perempuan yang sempat berselisih sama Laura itu?" Ingatnya kemudian.

__ADS_1


"Hem.." Darren hanya berdehem mengiyakan pertanyaan Lucas.


"Oh, iya aku juga ingat kalau disana ada anak kecil bersama perempuan itu, tapi saat itu aku nggak terlalu ngeh sama dia karena terfokus pada anak kecil yang bersamanya saat itu." Ucap Lucas teringat pertemuanya dengan Airin dan Arka saat itu.


"Pantesan aja saat itu aku berasa familiar ketika melihat anak kecil itu, karena wajahnya begitu mirip denganmu waktu kecil" Sambungnya lagi ketika teringat kembali sosok Arka yang saat itu bersama Airin.


Darren terdiam, karena saat itu ia justru tak menyadari keberadaan anaknya, dan justru hanya terfokus pada Airin yang saat itu memang sedang menarik perhatianya.


"Apa keluargamu sudah mengetahui hal ini?"


"Belum, aku belum menceritakan pada mereka, toh nanti mereka juga akan tau sendiri dari berita itu." Balas Darren bersikap tenang dan tak terlalu memusingkan soal keluarganya.


"Wah, aku masih nggak percaya lho, kalau lu ternyata sudah punya anak dan jadi seorang ayah." Ujar Lucas yang masih terlihat tak percaya pada kenyataan tentang cerita Darren.


"Aku juga sebenarnya masih nggak percaya soal statusku yang berubah, tapi semua sudah terlanjur terjadi, jadi mau tidak mau aku harus menerimanya, kan?" Meski masih tak percaya, namun Darren tak bisa menolak pada kenyataan yang ada pada dirinya saat ini.


"Tapi, soal perempuan itu, gimana hubungan kalian dulu? Apa dia ada hubunganya dengan masa lalumu yang hilang itu?" Tanya Lucas soal Airin.


"Sepertinya sih gitu, karena suara perempuan yang selalu kudengar dikepalaku dan membuatku kesulitan saat mau tidur itu suara dari dia." Jawab Darren dengan yakin.


"Kamu sudah mengetahui identitas suara yang terus mengganggumu selama ini, jadi apa sekarang ingatanmu sudah pulih? Apa kepalamu juga tak sakit lagi?"


"Sayangnya masih belum, karena aku memang masih belum mengingat dia sepenuhnya, hanya sepotong-potong yang ku ingat soal dia." Jelas Darren yang sedikit menyayangkan.


"Memangnya apa hubungan kalian dulu?"


"Aku nggak tau, yang ku ingat dalam ingatan kecil itu, kita cukup dekat dan akrab, yang bahkan.." Darren tak sanggup melanjutkan kembali kalimatnya, karena entah mengapa membuat perasaanya terasa sakit hanya dengan memikirkannya.


Lucas menatap wajah sahabatnya yang tengah murung memikirkan hubunganya bersama ibu dari anaknya di masa lalu. Ekspresi wajahnya seolah menangkap kesedihan yang sedang dirasakan oleh sahabatnya.


"Sungguh plot twist yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.." Ujarnya dalam hati meracu pada kisah Darren.

__ADS_1


__ADS_2