Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
42. Perjalanan Airin Membesarkan Anaknya


__ADS_3

Airin hanya ingin melihat kebahagiaan anaknya, meski ia tahu jalan yang ia lakukan tidaklah mudah sebagai ibu tunggal, namun dia terus berusaha demi melihat anak semata wayangnya hidup bahagia.


Tidak mudah baginya ketika harus berhadapan dengan keadaan yang diluar keinginannya. Dengan menjadi seorang ibu di usia muda, bukan hal yang mudah untuk dihadapi, terlebih lagi ayah dari anak yang dikandungnya tiba-tiba saja menghilang dari kehidupannya dan akhirnya memaksa ia untuk menjadi orang tua tunggal untuk membesarkan anaknya.


Harapan untuk bertemu dengan ayah dari anaknya ternyata masih selalu ada di benak Airin. Terlepas dia adalah ayah dari anaknya, kenyatan bahwa dia juga menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, tidak mudah bagi Airin untuk melupakannya, meski ia tau sudah di kecewakan olehnya. Karenanya, ia masih menunggu kehadiran sosok yang telah mengisi sudut hatinya itu hingga sekarang.


"Apa aku salah, jika masih mengharapkan dia kembali?"


Berjalan dengan tekad yang kuat untuk membesarkan anak semata wayangnya, Airin sempat beberapa kali merasakan perasaan yang tak nyamannya ketika tidak ada sosok laki-laki yang dicintainya. Perasaan bersalah pada anak dan juga pada keluarganya tak pernah lepas dari fikirannya.


Banyak hal yang ia takutkan dan khawatirkan setalah menjadi seorang ibu tunggal. Kekecewaan bibi dan pamanya, anggapan buruk orang-orang disekitarnya tentang dirinya dan juga anaknya, kehidupan pasca melahirkan anaknya, juga pada kelanjutan hidup selanjutnya setelah menjadi orang tua.


Tidak mudah, karena banyak hal yang menjadi rintangan bagi dirinya sendiri ketika menjadi seorang ibu tunggal dan membesarkan seorang anak sendirian. Usianya yang masih muda, ketidaksiapan dirinya tentang membesarkan seorang anak sendirian, beradaptasi diri tentang perubahan statusnya, ditambah dengan ketidakhadiran seorang suami disisinya menjadi problematik terbesar bagi seorang Airin Oktavianti Putri.


Perjalanan membesarkan seorang anak memang tidak mudah, namun karena keluarga yang ia miliki selalu berada disisinya, membuatnya merasa tidak kesepian dan sangat terbantu ketika dirinya yang sempat merasa down karena problematiknya menjadi seorang ibu tunggal.


"Aku malu pada bibi dan juga paman, karena aku, mereka harus pindah dari rumah yang sudah mereka tinggali."


Airin selalu merasa bersalah setiap kali mengingat keputusan bibi dan pamanya yang memilih untuk menjual rumah mereka, hanya demi dirinya. Karena masalah yang ia hadapi saat itu, membuat keluarga bibinya memilih pergi dari rumah yang telah lama mereka tinggali, karena pandangan orang-orang disekitar tentang dirinya yang saat itu menjadi seorang ibu tunggal.


Karena pandangan buruk orang disekitarnya, membuat bibi dan pamanya membuat keputusan untuk keluar dari tempat tinggal mereka yang lama. Meski Airin sempat melarang keputusan itu, dan memilih dirinya saja yang keluar dari rumah, namun karena rasa sayang bibi dan pamanya pada keponakan mereka, membuat keduanya membuat keputusan seperti itu demi bisa melindungi dan menjaga keponakan yang sudah mereka anggap anak mereka sendiri.


"Padahal mereka tidak perlu sampai sejauh itu."


Airin merasa terharu, namun juga merasa tidak enak, ketika mengingat kembali kenangan dulu saat pulang dalam keadaan yang tidak biasa pada bibi dan pamanya setelah bersekolah di luar negeri. Baik dulu dan sekarang, bibi dan pamannya selalu mendukung dirinya, hal itu membuatnya terkadang merasa beruntung memiliki sebuah keluarga. Meski keduanya bukanlah orang tua kandungnya, namun rasa kehangatan yang bibi dan pamannya lakukan pada dirinya membuatnya merasa bersyukur dan bahagia.


"Aku bersyukur karena mereka masih menyambutku dengan hangat meski sudah menimbulkan masalah dan menyusahkan mereka." Tuturnya merasakan perasaan senang.

__ADS_1


....


Hari semakin larut, keadaan yang sempat membuat dirinya kalut, kini perlahan mulai mendapat ketenangan, karena beban yang ia tanggung pada punggungnya, sedikit ia bisa ringankan dengan hanya berbagi cerita dengan bibinya.


"Sekarang bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengannya?"


Dalam kamarnya, ia memikirkan kembali solusi yang dikatakan oleh bibi untuknya.


"Aku ingin memberitahukan pada Arka secepatnya, tapi.., bagaimana jika dia benar-benar melupakanku? Nanti, apa yang akan aku katakan pada anakku?"


Ada keinginan terbesar dari Airin yang ingin mempertemukan anaknya dengan ayah kandungnya. Namun, terhalang batas yang cukup besar ketika hendak melakukannya.Dari status sosialnya, hingga ingatan akan Darren yang tiba-tiba saja tidak mengingat akan dirinya.


"Tapi, kenapa Arka tidak pernah lagi bertanya soal ayahnya padaku, ya?"


Airin tiba-tiba teringat pada Arka yang tak lagi menanyakan soal ayah kandungnya, hingga membuatnya bertanya-tanya akan alasan anaknya.


"Apa karena saat itu aku tidak bisa menjawab pertanyaan darinya, ya? Makanya Arka tidak mencoba mencari tahu lagi soal ayah kandungnya?."


....


"Hey, apa kabar?" Sapa teman lamanya yang terlihat begitu akrab dengan Darren dan Lucas.


"Baik, gimana denganmu?" Ucap Darren yang membalas jabatan tangan dan pelukan teman lamanya itu.


"Sama, aku juga baik."


Ketiganya pun saling berpelukan satu sama lain dengan akrabnya. Setelah melepas kerinduan yang telah lama tidak bertemu, ketiganya pun memilih duduk.

__ADS_1


"Wah.. sudah lama juga ya kita nggak ketemu. Berapa lama itu, ya?" Ucap teman Darren, mencoba membuka obrolan.


"Nggak tau, mungkin sejak masuk kuliah." Balas Darren yang tak bisa mengingat pastinya.


"Oh, ya? Wah lama juga ya ternyata?"


"Bener banget, sudah sangat lama kita nggak ketemu dan saling kontakan, bahkan setelah dalam waktu itu banyak hal yang sudah berubah disekitar kita." Timpal Lucas yang ikut nimbrung dalam obrolan.


"Benar, banyak hal yang berubah sama kita juga." Angguknya yang menyetujui perkataan Lucas.


Ketiganya telah saling mengenal sejak SMA, menjadi dekat dan terus berhubungan hingga lulus sekolah. Meski sempat lost kontak karena kesibukan masing-masing, ketiganya dipertemukan kembali setelah hampir lebih dari 10 tahun tidak bertemu. Meski begitu, hubungan ketiganya tak menjadi canggung meski sudah lama tidak bertemu.


"Gimana kabarmu selama di US?" Tanya Darren pada teman lamanya yang bernama Alex.


"Kabarku baik, cuma agak bksen aja disana? Lo sendiri gimana kabarnya selama disini?"


"Yah.. beginilah, nggak ada yang berubah sama kehidupanku." Balas Darren.


"Dia mau dimana juga akan tetap sama, masih resek dan dingin." Ucap Lucas sedikit meledek.


"Resek lu bilang? elu tuh yang resek!" Darren mendelik tak terima pada Lucas.


"Benar, nggak ada yang berubah ternyata, kalian berdua masih sering berantem." Alex tertawa melihat perdebatan Darren dan Lucas yang biasa ia lihat dulu.


"Tuh, tuh lihat. Dia masih menyiksaku tau! Setiap hari aku tersiksa banget." Ucap Lucas mencoba membuat gesture kesakitan.


"Dasar ini anak, nanti malam lu jangan tidur di apartemenku lagi."

__ADS_1


"Marah nih ceritanya.."


Tawa yang ringan, dengan candaan yang memperlihatkan keakraban, menghilangkan jarak dan sekat di antara ketiga teman yang telah lama tak berjumpa. Mengurangi sejenak beban kehidupan yang membebani pikiran.


__ADS_2