
Natalie tampak resah dengan fakta tentang Darren memiliki seorang anak, terlebih Darren memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, usia yang sudah cukup besar.
"Kenapa aku bisa nggak tau soal ini? Padahal aku sudah menyelidiki kehidupanya selama dia tinggal di melbourne?"
Entah apa yang ia khawatirkan, hanya saja Natalie tampak tak senang mendengar Darren memiliki seorang anak, terlebih pada fakta anak itu berasal dari hubungan tak resmi.
"Aku harus mencari tau soal ibu dari anak kecil itu? Dan, ada hubungan apa dia dimasa lalu dengan Darren?"
.....
Bersamaan dengan fakta yang begitu mengguncam hati dan perasaan, Darren yang telah meninggalkan rumah keluarganya menyisakan perasaan yang membuat semua anggota keluarganya berada dalam situasi yang tak menyenangkan karena terlalu terkejut. Semua seolah terdiam karenanya, tak lagi bisa mencerna apa yang ada, karena begitu mengguncam dan terlalu tiba-tiba.
"Sekarang bagaimana, pa?" Tanya Edward pada kakek Ferdi.
Namun, kakek Ferdi hanya diam. Ekspresinya terlihat begitu kacau, karena terlalu terkejut pada masalah yang terjadi pada keluarganya, hingga membuatnya merasa pusing memikirkan rumor yang tengah menimpa cucunya.
"Anakmu itu sama seperti dirimu, keras kepala dan susah di atur. Kamu urus sendiri sajalah anakmu itu, aku mau tidur." Ujar kakek Ferdi yang memilih bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan perkumpulan, menyisakakan anaknya Edward bersama menantunya Gauri dan cucu perempuanya Gloria yang masih tinggal diruang keluarga.
"Sayang, apa yang akan kamu lakukan pada Darren sekarang?" Ucap Natalie ikut memberikan komentarnya setelah sedari tadi hanya diam menyaksikan suami dan mertuanya berdebat dengan Darren.
"Aku nggak tau, semua terasa memusingkan sekarang." Balas Edward yang merasa ikut pusing memikirkan masalah anaknya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pastikan dulu kebenaran beritanya, siapa tau itu nggak benar, dan mungkin Darren salah kira soal anaknya?" Natalie mendesak suaminya untuk mencari kebenaran berita tentang Darren.
"Apa kamu nggak dengar Darren sudah mengatakan kalau itu anaknya?" Balas Edward.
Natalie tak bisa membantah lagi fakta yang disebutkan oleh suaminya, karena ia memang mendengar dengan jelas perkataan Darren tadi.
"Dia kan belum membicarakan soal tes DNA, bagaimana kalau kamu pastikan dulu soal itu, setelah itu kamu bisa mengambil langkah selanjutnya soal permasalahan yang mengenai Darren." Ujar Natalie yang ingin suaminya mencari kebenaran yang jelas pada masalah Darren.
Edward diam, karena sudah terlalu pusing memikirkan permasalahan anaknya. Terlebih ia memang tidak begitu dekat dengan anak laki-lakinya, sehingga sulit baginya untuk mengatasi permasalahan yang melibatkan Darren, mengingat sikapnya yang selalu bersebrangan denganya.
"Pa, kalau anak itu memang anaknya kak Darren, memangnya apa yang akan papa lakukan?" Kali ini Gloria tampak ikut memberikan komentarnya, tak seperti dirinya yang selalu cuek pada permasalahan keluarganya, meski tentu aksinya itu mendapat tatapan tajam dari sang mama.
Sedangkan Edward, sang papa kini tengah menatapnya dalam diam padanya yang saat ini sedang bertanya padanya.
"Umurku sudah 20 ya, Ma, jadi aku bukan anak kecil lagi. Lagi pula kalau aku memang masih di anggap anak kecil, harusnya dari awal aku tidak usah di ajak kesini saja." Gerutu Gloria sedikit tak terima.
"Ini anak ya, sukanya.."
"Karena kamu bukan anak kecil lagi, kedepan kamu harus lebih berhati-hati, jangan sampai kamu mengulangi hal yang dilakukan oleh kakakmu." Ucap Edward pada Gloria anak perempuanya. Memotong kalimat istrinya yang hendak memarahi Gloria, dan memberikan nasehatnya sebagai seorang ayah pada anak perempuanya.
Mendengar ucapan papanya, Gloria hanya bisa diam mendengarkan. Ia tak mengucapkan bantahan atau menanggapi perkataan sang papa, karena setelah itu papa dan juga mamanya pergi meninggalkanya seorang diri di dalam ruangan keluarga, dan ia pun hanya bisa menyaksikan kepergian keduanya.
__ADS_1
"Selalu deh, ditinggal sendiri seperti ini." Keluhnya yang merasa kesal karena selalu menjadi yang terakhir dan ditinggalkan.
"Aku masuk sajalah ke kamar." Ucapnya yang ikut memilih bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke kamarnya dengan ekspresi sedikit mengantuk.
.....
Darren yang telah kembali dari rumah keluarganya, kini sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemennya dengan ditemani oleh Arsen yang sedari awal ikut bersamanya.
"Aku memang bertekad untuk membesarkan anakku, tapi.. apa aku akan diperbolehkan olehnya?"
Meski tekadnya ingin membesarkan anaknya cukup tinggi, namun ia menyadari hal itu tak akan mudah baginya, mengingat Airin terlalu marah padanya.
"Sekarang aku bahkan tidak tau bagaimana caranya untuk meminta maaf padanya, terlebih alasan apa yang akan kukatakan padanya jika bertemu nanti?"
Darren tampak dilema pada masalah lainya, pada Airin yang merupakan ibu dari anaknya. Ia ingin meminta maaf secara langsung pada Airin, tapi di satu sisi ia merasa menyesal karena ia yang belum sepenuhnya mengingat kenangan mereka di masa lalu.
"Aku memang belum mengingat semua kenanganku bersamanya di masa lalu, tapi hatiku terus saja menginginkannya."
Saat ditanya oleh papannya bagaimana nasib ibu dari anaknya dan saat itu ia menjawab akan membuat Airin berada disisinya kembali. Namun, sejatinya ia tak begitu yakin pada keputusan itu, mengingat hubungannya bersama Airin belum ada kemajuan yang pasti. Ada sedikit keraguan darinya yang merasa hal itu tak akan mudah ia lakukan dan menganggap perjalanan untuk mewujudkan keinginannya itu akan terasa begitu berat kedepanya.
"Sial, aku sudah merasa pusing hanya dengan memikirkan ini."
__ADS_1
Sembari menatap pemandangan yang ada disebelah kaca jendela mobil, Darren terus melamunkan pergolakan hatinya yang saat ini tengah kacau memikirkan permasalahannya sendiri. Diam melamun, ekspresi yang terlampau serius memikirkan persoalan, hingga helaan nafas yang berulang memperlihatkan frustrasinya mengahadapi permasalahanya sendiri, terlebih pikirannya yang terus tertuju pada Airin.
"Ku harap kita bisa mengobrol."