
"Bibi akan coba koordinasi dulu sama dokter yang merawat kamu. Kalau dokternya nggak ngebolehin, bibi terpaksa menolak keinginan kamu itu." Bi Rahma yang sempat menolak keputusan Airin, akhirnya luluh dengan mencoba berbicara pada dokter yang merawat Airin.
"Terimakasih, bi." Airin tersenyum pada bibinya yang akhirnya mau membantu keinginanya untuk segera keluar rumah sakit.
Karena kondisinya yang kelelahan dengan pikiran yang terus menumpuk, ternyata berdampak pada kondisi tubuhnya yang akhirnya tidak bisa menampung beban masalahnya. Airin tampaknya tak menyangka bahwa akan berakhir dengan masuk rumah sakit seperti ini. Sepulangnya dari mengantar anaknya yang bersekolah, tiba-tiba saja kondisinya memburuk, hingga akhirnya pingsan begitu sampai di depan rumah, hingga menimbulkan kepanikan orang-orang disekitarnya.
"Aku nggak sadar akan sampai seperti ini. Apa ini karena aku terlalu memikirkannya?"
Ada perasaan bersalah pada semua keluarganya, juga pada dirinya sendiri ketika melihat kondisi tubuhnya yang drop, karena merasa abai pada tubuh yang harusnya ia jaga dengan baik. Dengan masuknya ia ke rumah sakit, hal yang ia takutkan dan khawatirkan adalah Arka, anaknya yang harus ia tinggalkan seorang diri. Takut melihatnya sedih dan mencari keberadaanya yang tidak ada dirumah.
Arka sudah makan apa belum, ya?
Airin yang terbaring dalam ranjang rumah sakit, masih terus memikirkan keberadaan anaknya yang tidak ada dihadapannya. Perasaan takut, khawatir, gelisah bercampur jadi satu, mengingat ini pertama kalinya bagi Airin meninggalkan anaknya lebih dari satu jam lamanya.
Sama seperti dirinya yang terus memikirkan anaknya sedang apa dan bagaimana keadaanya, tak berbeda dengan Arka yang sudah berada di dalam rumah dan tidak melihat keberadaanya, hingga terus menanyakan keberadaannya pada Dava.
"Om, kok mama belum sampai juga dari mengantar bunganya?" Tanya Arka yang belum juga melihat keberadaan Airin sepulangnya dari sekolah.
"Duh, aku harus jawab apa nih?" - Batin Dava yang merasa kebingungan untuk mencari alasan yang tepat buat Arka.
"Mama kamu pasti pulang, kok. Cuma sekarang sedang terjebak macet, jadi pulangnya agak telat." Ucapnya kemudian yang mencoba menenangkan Arka.
"Terus itu kenapa toko bunga mama tutup? Apa ini karena mama sedang tidak ada?"
Sial, ini karma. Kalau gini mending aku tidur saja dikelas dibanding menghadapi situasi seperti ini.
Dava merasa bingung menghadapi Arka yang terus menanyakan keberadaan mamanya.
"Iya, soalnya mama Arka lagi nggak ada. Mbak Rini sama mbak Dewi juga lagi cuti, jadi tidak ada yang menjaga tokonya." Ucap Dava yang asal saja memberikan alasan, karena sudah tidak tau harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
"Bunda Rahma mana? Kok dia nggak ada juga? Apa bunda ikut mengantarkan bunga sama mama?" Kali ini Arka berbalik menanyakan keberadaan ibu Dava yang sedang tidak ada.
"Bunda lagi ada urusan diluar. Arka sudah makan belum?" Ayah Dava, yang juga paman Airin muncul dan ikut nimbrung dalam obrolan keduanya.
"Duh, pak. Kemana aja, sih? Sudah tau Dava bingung harus jawab apa dengan situasi ini. Bapak malah baru muncul sekarang." Dava yang melihat keberadaan bapaknya, merasa lega namun juga merajuk karena bapaknya baru muncul.
"Bapak habis dari depan sebentar, tadi ada tetangga yang kecelakaan. Makanya bapak nengokin dia sebentar." Dengan langkahnya yang pelan, perlahan Bilal menghampiri anaknya dan Arka yang sedang mengobrol.
"Bagus deh, sekarang bapak sudah ada disini. Sekarang bapak urus gih, si Arka. Aku sudah pusing ditanya mulu soal kak Airin."
"Kamu ini, gini aja nggak bisa menenangkan Arka."
"Yaudah, bapak coba aja tenangin anaknya, toh bapak juga nggak akan bisa." Ledek Dava yang milih segera pergi sebelum semakin pusing karena terus ditanya oleh Arka.
......................
Sebuah firasat tidak akan pernah salah, karena ikatan yang terjalin dalam hubungan seorang ibu dan anak sudah seperti benang merah yang akan terus terikat dengan sendirinya. Kekhawatiran yang dirasakan oleh Airin terhadap anak yang sedang jauh darinya sedikit mengganggu pikirannya yang sekarang masih terbaring lemah di rumah sakit.
Meski tubuhnya sedang berbaring di ranjang rumah sakit, namun hati dan perasaanya terus saja tertuju apada anak semata wayangnya.
"Semoga dokter mengizinkanku untuk pulang. Entah kenapa perasaanku terus saja tidak enak dari tadi." Ucapnya yang masih memikirkan keberadaan sang anak.
Saat pikiranya kembali kalut karena memikirkan anaknya, sebuah pintu kamar inapnya tiba-tiba saja terbuka. Dan terlihat seseorang yang sedang masuk kedalam. Tak hanya satu, namun dua orang yang sedang menuju ke arahnya yang sedang berbaring.
"Tidak usah memaksakan bangun. Kamu tiduran saja lagi."
Melihat Airin yang hendak terbangun dari tidurnya, ayah dari Rendi memintanya untuk tidak usah bangun, karena melihat Airin yang masih lemah dan terlihat begitu kesusahan saat hendak bangun dari tidurnya. Bersama dengan Rendi anaknya, saat ini ia sedang mencoba menjenguk Airin seperti kata yang sempat ia ucapkan tadi.
"Om Septian." Ucap Airin yang terkejut melihat keberadaan papa dari Rendi yang kebetulan datang bersama Rendi.
__ADS_1
"Om dengar dari Rendi, kalau kamu sedang dirawat di rumah sakit ini, jadi om menyempatkan diri untuk menjenguk kamu." Ujarnya.
Airin yang tak jadi mengangkat tubuhnya untuk bangun dari tidurnya, tersenyum pada papa Rendi yang kebetulan ia kenal dengan baik. "Terimaksih, om, Airin jadi merepotkan begini." Ucap Airin merasa nggak enak, namun disatu sisi, ia juga merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan papa Rendi yang sudah lama tak ia lihat.
"Apanya yang merepotkan, ini kan kemauan om sendiri."
Airin tertawa kecil mendengar jawabannya. "Jawaban om, sama dengan yang kak Rendi katakan."
"Ini karena kita memang mirip."
Ada tawa kecil mengelilingi ketiganya.
"Gimana keadaanmu? Apa sekarang sudah mendingan?" Tanya Rendi yang untuk kedua kalinya menjenguk Airin.
"Iya, kak. Airin sudah agak mendingan sekarang. Di bandingkan saat Airin datang,kondisi Airin sekarang sudah jauh lebih baik."
"Syukurlah, aku lega mendengarnya."
"Wajah kamu masih terlihat pucat dan kondisi tubuh kamu juga masih terlihat lemah, mungkin sebaiknya kamu memang perlu istirahat lebih lama." Ujar Septian ketikan melihat kondisi Airin.
"Apa terlihat seperti itu, om? Soalnya Airin merasa sudah baikan, meski kadang masih sedikit pusing."
"Tidak terlalu, tapi kalau dilihat dari dekat, memang sewajarnya kamu ini seorang pasien."
"Itu artinya aku masih belum boleh pulang?" Airin agaknya sedikit merasa kecewa.
"Pulang? Kenapa kamu mau pulang, padahal baru dirawat tadi pagi?" Tanya Rendi yamg sedikit terkejut.
"Karena Airin tidak betah disini, dan Airin juga menghawatirkan Arka yang ada dirumah." Jawab Airin.
__ADS_1
"Iya juga ya, Arka juga pasti akan terus mencari keberadaanmu yang sedang tidak ada dirumah."
"Arka? Siapa dia?" Septian yang tidak memahami obrolan anaknya bersama Airin, merasa bingung dengan nama yang baru ia dengar.