
"Lepaskan, sudah tidak ada hal lagi yang ingin saya bicarakan pada anda." Ucap Airin yang terlihat mengubah cara bicaranya di depan Darren. Ekspresinya terlihat begitu terluka dan terlanjur kecewa padanya.
"Bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi, kalau kamu saja belum mengatakan siapa kamu sebenarnya!." Darren yang masih penasaran pada Airin, terlihat tidak mau melepaskan tangan Airin yang hendak pergi darinya.
"Maka anda harus mencari tau sendiri." Airin melepaskan paksa tangan Darren yang menahannya untuk pergi.
"Kamu.., ah.. sial, kepalaku.." Darren yang hendak menahan Airin kembali, tiba-tiba saja merasakan kepalanya yang sakit dan menahan dirinya yang hendak menghampiri Airin lagi.
Airin yang melihat Darren memegang kepalanya, membuatnya megurungkan niatnya untuk pergi. Tubuhnya seolah terpaku di depan Darren yang sedang mengerang kesakitan.
"Airin." Panggilan dari seseorang mengurungkan niatnya saat hendak mendekatkan diri pada Darren yang kini tengah mengerang kesakitan.
Terlihat Rendi yang datang dengan setengah berlari menghampiri Airin, dan memperlihatkan wajah paniknya karena Airin tak kunjung datang setelah mengatakan akan menyusul bi Rahma.
"Airin kamu gapapa, kan?" Tanyanya begitu mendekat ke arah Airin. "Kenapa lama sekali, membuatku khawatir saja." Ucapnya lagi yang terlihat menghawatirkan kondisi Airin.
"Aku gapapa kok, kak. Maaf ya, kalau Airin terlalu lama dan membuat kak Rendi khawatir begini." Airin memilih menghampiri Rendi dan meninggalkan Darren yang masih memegangi kepalanya, meski arah pandanganya terus melirik pada Darren yang terlihat masih memegangi kepalanya. Di seberang tempatnya berdiri saat ini, ia hanya bisa mencuri pandang pada Darren yang tengah berjuang mengrndalikan kondisinya.
Dia gak kenapa-napa, kan? Batinya yang terlihat menghawatirkan Darren.
"Syukurlah, aku sempat khawatir kamu kenapa-napa karena belum juga kembali, mana ponsel kamu juga tidak aktif, lagi!" Ungkapan lega terlihat dari ekspresi Rendi.
Airin tersenyum canggung di depan Rendi, karena sedikit merasa bersalah padanya yang kini tengah menghawatirkan kondisinya.
"Iya, maaf kak, karena Airin sudah membuat kak Rendi khawatir." Tanpa sadar Airin kembali meneteskan Air matanya.
"Lho, kamu gapapa, kan? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu tadi?" Tanya Rendi yang cukup terkejut ketika melihat Airin yang menangis dan terlihat menghawatirkannya.
"Aku.. hiks.." Ucapnya yang kini tak kuasa membendung air matanya dan hanya bisa menangis dalam diam.
Tak jauh dari tempat Airin berdiri saat ini, Darren yang masih memegangi kepalanya yang berdenyut kesakitan, mencoba untuk menghampiri Airin yang tengah berbicara dengan Rendi.
__ADS_1
"Woi, dicariin dari tadi, dari mana aja sih lu?" Lucas yang datang, menghentikan langkah kakinya yang hendak pergi.
"Diam, sekarang aku lagi mau menyelesaikan masalah di depanku dulu." Darren meminta Lucas untuk tak menghalanginya yang hendak pergi menghampiri Airin.
"Hah, maksud lu apa, sih?" Lucas terlihat bingung dengan ucapan Darren, namun ia mengikuti arah pandang Darren yang saat ini tengah berekspresi serius melihat arah di depanya.
"Ada apa sih disana, kenapa lu memasang muka serius begitu?" Ucapnya yang terlihat penasaran dengan ekspresi yang dibuat oleh Darren.
Darren yang sejatinya hendak menghampiri Airin, dibuat terpaku pada pemandangan antara Airin dan Rendi. Tiba-tiba saja kakinya menolak untuk melangkah, dan tubuhnya yang juga ikut terdiam, seolah merasa terpana. Hatinya tiba-tiba merasa sakit ketika melihat Airin dan Rendi yang berpelukan.
Gila, kenapa hatiku merasa sakit begini?
Batinnya dalam hati sembari memegang dadanya yang tiba-tiba merasakan perasaan aneh ketika melihat Airin bersama laki-laki lain.
"Airin.." Gumamnya, ketika mengingat nama perempuan yang beberapa kali menangis di depannya itu.
"Lu kenal sama mereka?" Lucas yang agak bingung melihat pemandangan di depannya mencoba bertanya pada Darren yang masih diam terpaku menatap keduanya yang masih berpelukan.
"Aku nggak kenal." Balasnya dengan memasang wajah yang tiba-tiba kesal.
"Karena itu aku jadi tambah kesal, aku nggak kenal sama mereka, tapi kenapa aku benci banget melihat pemandangan itu." Ujar Darren kesal.
Lucas masih tak mengerti dengan maksud dari Darren dan hanya bisa mengernyitkan dahinya.
"Aha! Aku tau kenapa lu bisa sebenci itu melihat mereka pelukan?" Ucap Lucas yang tiba-tiba bersemangat.
Darren melirik sekilas ke arah Lucas yang tiba-tiba saja jadi bersemangat.
"Ini tuh karena lu yang nggak pernah pacaran sebelumnya, jadi lu merasa iri dan cemburu sama mereka. Hmm.. tapi, aneh juga ya mereka melakukanya di rumah sakit begini?" Ucapnya dengan penuh percaya diri tanpa memperdulikan reaksi dari Darren padanya.
Ucapannya itu tentu saja makin membuat Darren kesal.
__ADS_1
"Yaudahlah, kita pergi aja dari sini, lagian kita kan mau jenguk teman kita disini, ngapain malah lihat orang berpelukan begini, sih!." Ucap Lucas yang kini beralih menatap ke arah Darren, namun nyatanya orang yang ia ajak bicara itu sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya.
"Eh, woi, tunggu dong. Masa aku ditinggal gitu aja sih." Protes Lucas yang akhirnya mengejar langkah Darren.
....
Airin yang kini mulai tenang mencoba melepaskan diri dari pelukan Rendi. Meski sudah terlihat lebih tenang, namun raut wajahnya masih memperlihatkan kesedihannya.
"Maaf, kak, karena Airin justru menangis dipelukan kak Rendi." Ucapnya sembari mengusap air matanya.
"Iya gapapa, apa sekarang kamu sudah baikan?"
"Iya, kak. Airin sudah sedikit merasa lega sekarang." Angguk Airin sembari terus mengusap air matanya.
"Yasudah kita pulang sekarang." Ajak Rendi.
Airin melirik sejenak pada arah Darren tadi, dan mendapati keberadaanya yang sudah tidak ada ditempat. Melihat itu, membuatnya tersenyum getir.
"Kenapa Rin?" Tegur Rendi pada Airin yang terdiam menatap ke arah lain.
"Ah, nggak apa-apa kok kak. Airin cuma merasa sedikit malu karena menangis seperti ini, apalagi di tengah rumah sakit begini." Ujar Airin, yang kali ini jauh lebih tenang dengan memperlihatkan senyum tipisnya pada Rendi dan Rendi pun membalasnya dengan senyuman yang sama.
Meski dalam hati Rendi saat ini terus bertanya-tanya pada apa yang sedang Airin alami, namun ia tak bisa bertanya dan yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu sampai Airin mengatakannya langsung padanya.
"Kak Rendi kenapa tidak bertanya alasanku menangis? Apa kakak tidak penasaran soal itu?" Tanya Airin pada Rendi yang justru memilih diam dan justru tak menanyakan apapun padanya.
"Bohong kalau aku bilang tidak penasaran, tapi aku tidak mau membebanimu dan membuatmu kepikiran untuk menjelaskan alasanya padaku, karena aku tau, kalau kamu juga tidak ingin mengatakanya sekarang." Ungkap Rendi yang mengerti kondisi Airin.
"Terimakasih, kak, karena kak Rendi tidak memaksaku untuk mngatakanya sekarang, karena sebenarnya aku memang belum siap untuk mengatakan alasan kenapa aku begini!" Ucap Airin merasa berterimakasih pada keluwesan hati Rendi.
"It's ok, kamu bisa mengatakannya di lain waktu dan aku pasti akan siap untuk mendengarnya." Balas Rendi yang tak merasa keberatan.
__ADS_1
Airin tersenyum lega dan merasa bersyukur dengan Rendi yang begitu menghargai keputusannya.
"Yasudah, kita samperin bi Rahma yuk, takutnya beliau menunggu kita, dan pasti lebih khawatir dari aku tadi." Ucap Rendi yang mengajak Airin segera menyusul bi Rahma yang mereka tinggalkan sendirian.