Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
52. Akhirnya Pulang


__ADS_3

Arka yang sedari tadi mencari keberadaan Airin, berlari penuh semangat begitu melihat keberadaan Airin.


"Hati-hati, jangan lari-lari begitu, nanti kamu jatuh." Ucap Airin pada sang anak yang menghampirinya sambil berlari.


Sembari merentangkan tangannya dan menundukan badanya agar sejajar dengan tubuh anaknya, Airin menyambut kedatangan anaknya yang tengah menghampiri dirinya yang baru pulang. Memeluknya dengan erat dan penuh kehangatan dalam menyambut tubuh anaknya yang sekarang sedang ia peluk.


"Arka kangen ya sama mama." Ucapnya lagi, yang kini duduk berjongkok sembari memeluk sang anak.


"Iya, Arka kangen dan terus mencari mama tadi." Jawab Arka dengan jujur disertai anggukan kecil.


"Oh ya? Maafin mama ya karena baru pulang sekarang" Balas Airin yang meminta maaf pada anaknya dan lagi-lagi mendapat anggukan kecil dari Arka, yang seolah tidak apa-apa.


Melihat kedekatan antara Airin dan Arka yang penuh kasih sayang, membuat bi Rahma dan Rendi yang melihat disamping mereka ikut merasa senang. Keduanya terlihat menyunggingkan senyuman pada kedekatan ibu dan anaknya.


"Padahal belum satu hari ditinggal ya, tapi Arka sudah begitu merindukan Airin begini!." Kata Rendi ketika melihat Arka yang terlihat tak ingin lepas dari Airin.


"Iya, benar juga, padahal biasanya anaknya anteng dan nggak terlalu mencari Airin lho. Apa dia tau kalau mamanya lagi sakit, ya?" Ujar bi Rahma yang ikut menimpali.


"Bisa jadi sih, bi. " Ucap Rendi setuju. "Kalau begini sih, wajar juga jika Airin meminta untuk segera pulang dari rumah sakit." Ujarnya lagi yang akhirnya mengerti posisi Airin yang terus memaksa untuk pulang dari rumah sakit meski kondisinya belum sembuh sepenuhnya.


Rendi ikut merasa senang melihat kedekatan antara Airin dengan anaknya yang penuh dengan rasa kasih sayang dan kehangatan.


"Duh, maaf ya kak, jadi menahan kak Rendi begini." Airin bangkit dari duduknya dan beralih menatap Rendi yang masih tinggal dan menyaksikan dirinya dan sang anak yang tengah mengobrol.


"Tidak apa, sekarang aku jadi tau alasan kamu terus meminta pulang dari rumah sakit, meski kondisi kamu belum pulih sepenuhnya." Balas Rendi yang tak merasa keberatan dan memahami kondisi Airin yang terus meminta untuk pulang dari rumah sakit.


"Iya kak, soalnya Airin belum pernah meninggalkan Arka tanpa pamit begini, karena itu Airin sedikit takut kalau nanti Arka mencari Airin yang tidak ada dirumah." Jelas Airin.


"Dan itu juga alasan membuat Airin memilih untuk pulang lebih cepat dari rumah sakit, tapi meski begitu kondisiku juga sudah lumayan baik kok sekarang." Ujar Airin lagi.


"Syukurlah kalau begitu, aku jadi lega mendengarnya. Yasudah aku pamit dulu ya, kamu masuklah untuk istirahat dan jangan memaksakan diri dulu untuk melakukan pekerjaan yang berat." Ucap Rendi yang ikut merasa senang dengan kondisi Airin dengan memberikan sedikit nasehatnya untuk Airin sebelum pergi.

__ADS_1


"Iya, terimakasih, kak. Kakak hati-hati ya dijalan." Balas Airin yang merasa berterimakasih pada perhatian Rendi.


"Arka, om Rendi pergi dulu, ya. Jagain mama ya biar mama tidak sakit lagi." Sebelum ia pergi, kali ini Rendi beralih mengajak bicara pada Arka sembari mengusap pelan puncak kepalanya dengan lembut.


"Mama sakit, om? Kata om Dava, mama lagi mengantar bunga? Jadi itu karena mama lagi sakit, ya?" Tanya Arka dengan polosnya.


Rendi sempat membeku, lalu menatap Airin canggung, karena kelepasan memberitahukan kondisi Airin pada Arka.


"Maksud om, jagain mama, agar mama tidak jatuh sakit." Sambung Rendi memberi jawaban untuk Arka.


"Oh begitu, baiklah, Arka akan menjaga mama dengan baik." Jawab Arka penuh semangat dan keyakinan tinggi, hingga membuat Airin, bi Rahma dan Rendi tersenyum melihat tingkahnya.


"Aduh, aku tadi hampir kelepasan bicara. Maaf ya?" Kat Rendi, yang sedikit merasa bersalah karena hampir salah bicara.


"Nggak apa-apa kok, kak." Balas Airin menenangkan.


"Iya, nak Rendi, tidak apa-apa. Untung saja anaknya tidak terlalu menyadari." Timpal bi Rahma.


"Hati-hati kak, terimakasih sekali lagi karena sudah mau mengantar Airin dan bibi pulang."


"Iya, sama-sama."


Rendi pun pergi meninggalkan kediaman Airin. Bersama bi Rahma dan Arka, Airin menyusul masuk kedalam rumah setelah memastikan Rendi pergi.


....


"Gimana keadaanmu Rin? Kata bibimu kamu memaksa untuk pulang?" Tanya paman Airin yang habis dari arah belakang rumah.


"Kondisi Airin sudah agak mendingan. Jadi paman tidak usah khawatir soal itu." Balas Airin.


"Syukurlah ya, soalnya kan kamu pingsan tadi, jadi paman mengira kamu akan tinggal lebih lama di rumah sakit."

__ADS_1


"Harusnya sih begitu, tapi Airin terus meminta untuk pulang ke rumah." Ujar bi Rahma yang ikut nimbrung di obrolan suami dan keponakannya.


"Lho, berarti kamu harusnya belum boleh pulang dong?"


"Iya, tapi karena Airin meminta berobat jalan saja, akhirnya dokter memberi Airin izin untuk pulang." Jelas Airin.


"Astaga, harusnya kamu tetap tinggal saja diasana, tuh lihat wajahmu yang masih pucat itu."


Airin hanya tersenyum simpul pada kekhawatiran pamannya.


"Bandel sih dia, selama di rumah sakit terus saja memikirkan anaknya. Padahal sudah kubilang kalau dirumah sudah ada kamu dan Dava yang menjaga Arka, tapi dianya tetap kekeh mau pulang." Bi Rahma ikut mengomel sembari membawakan minuman untuk Airin dan suaminya.


"Duh, harusnya kamu nggak usah menghawatirkan Arka, nanti biar paman yang jagain dia."


"Airin percaya kok sama paman dan Dava, cuma Airin merasa nggak betah aja di rumah sakit." Jawab Airin.


Mengambil minuman yang dibawakan oleh bibinya, Airin mencoba untuk meminumnya sembari menjawab ucapan paman dan bibinya.


"Yasudah kalau memang itu keputusanmu, yang penting sekarang jaga kondisi kamu dan istirahat lebih banyak, dan jangan lupa minum obatnya juga." Ujar paman Airin memberikan nasehatnya.


"Iya, nanti Airin pasti akan lakuin." Senyum Airin menenangkan bibi dan pamanya yang masih terus menghawatirkan kondisinya.


Di tengah kelegaan dirinya melihat kondisi anaknya yang baik-baik saja, ingatan akan pertemuanya dengan Darren kembali muncul dalam pikirannya.


Meski rasa khawatir dan perasaan tidak nyamanya yang sempat ia rasakan selama di rumah sakit tidak terjadi pada anak dan keluarganya, namun pertemuanya bersama Darren membuatnya terus kepikiran dan mencoba untuk mendamaikan hatinya yang terlanjur terluka.


Ia masih belum bisa menceritakan masalah ini pada keluarganya, karena hati dan perasaanya terlalu shock dalam menerima kenyataan ini terjadi padanya.


Sekarang aku benar-benar yakin kalau dia memang telah melupakanku.


Airin yang tak mengira bahwa Darren benar-benar tidak mengingat dirinya, begitu terluka dan merasa kecewa pada Darren, hingga tak lagi bisa berhadapan lagi dengannya yang dulu begitu ia cinta.

__ADS_1


Aku sudah tidak mengharapkan apapun lagi padanya..


__ADS_2