Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
88. Mencari Airin


__ADS_3

"Arka sudah tenang kan sekarang."


Arka hanya mengangguk kecil saat ditanya oleh Darren.


"Sekarang Arka masuk kedalam rumah dulu ya sama papa." Sembari mengusap air mata sang anak, Darren mengajak Arka untuk masuk kedalam rumah bersama.


"Tapi, mama gimana? Arka mau ketemu sama mama?" Dengan suara yang serak karena habis menangis, Arka menanyakan kemalbali keberadaan Airin pada Darren.


"Iya, nanti kita pasti ketemu kok sama mama, sekarang kita masuk dulu yuk kedalam." Ujar Darren yang kembali menenangkan anaknya.


Keduanya pun akhirnya berjalan menghampiri bibi dan paman Airin yang saat ini masih berdiri menatap pada arah kepergian Airin bersama mobilnya, keduanya terlihat masih begitu shock dengan Airin yang tiba-tiba pergi tanpa menoleh sekalipun pada mereka, terlebih sampai meninggalkan anaknya seperti ini.


"Gimana ini, pak? Tidak biasanya lho Airin bersikap begini?"


"Bapak juga nggak tau, sebaiknya kita coba telfon saja dulu anaknya, siapa tau diangkat."


"Oh, iya benar juga, tapi sebelum itu bagaimana kondisi Arka?"


Menyadari Arka yang ditinggalkan oleh Airin, bi Rahma dan suaminya yang semula menghawatirkan Airin, kini berbalik menghawatirkan kondisi Arka yang sejenak mereka lupakan karena terlalu fokus pada kepergian Airin.


Saat mata mereka sedang mencari keberadaan Arka, keduanya pun akhirnya menyadari bahwa Darren ternyata masih berada disana, terlebih saat ini Darren dan Arka tengah berjalan mengarah pada mereka.


"Maaf jika kedatangan saya justru membuat suasana jadi tidak menyenangkan seperti ini." Ujar Darren pada bibi dan paman Airin.


Mendengar Darren yang meminta maaf pada mereka, bibi dan paman Airin saling melirik bingung, tak tau harus menjawab apa, karena terlalu tiba-tiba.


"Saya tau anda berdua pasti masih kaget dengan kepergian Airin, karena itu biar saya saja yang akan mencari Airin."


Bibi dan paman Airin kembali saling menatap satu sama lain, mendengar Darren berencana mencari keberadaan Airin, sejenak membuat mereka ragu, namun disatu sisi juga hal yang baik bagi mereka, mengingat mereka juga menghawatirkan kondisi Airin yang tiba-tiba bersikap aneh.

__ADS_1


"Baiklah, kalau memang itu yang anda mau, kita akan menerimanya dengan senang hati, karena kami juga tidak ingin ada apa-apa dengan keponakan kami." Ujar bi Rahma yang akhirnya menjawab dan membiarkan Darren yang hendak mencari Airin.


Mereka tak ada alasan untuk menolak, mengingat keselamatan Airin yang lebih penting sekarang, terlebih akan menjadi bantuan besar jika Darren bisa membantu mencari Airin, terlebih lagi jika nanti Darren bisa menemukan keberadaanya dan membuatnya kembali kerumah.


"Terimakasih karena sudah memberi saya izin, dan memperbolehkan saya untuk mencari Airin." Ujar Darren merasa berterimakasih diberi kesempatan untuk mencari Airin dari paman dan bibi Airin.


"Iya, sama-sama, saya harap anda bisa menemukanya dan membawanya kembali pulang kerumah." Balas bi Rahma sedikit berharap pada Darren.


"Sebelum itu, kamu harus mempersiapkan diri untuk mengahadapinya. Karena kepergianya pasti ada sangkut pautnya dengan masalah kalian berdua." Timpal paman Airin yang ikut memberikan pendapatnya.


Sejenak Darren terdiam, karena ia pun juga sudah merasakan hal itu setelah melihat kepergian Airin yang begitu tiba-tiba dan terkesan penuh amarah.


"Baik, akan saya ingat ucapan anda, terimakasih karena sudah mengingatkan saya." Balasnya kemudian yang mendapat anggukan kecil dari paman Airin.


"Kalau begitu saya ingin menitipkan Arka sebentar, soalnya tadi anaknya sedikit histeris melihat kepergian Airin." Darren pun hendak menyerahkan Arka pada mereka berdua, namun Arka menahan tanganya dan tak mau melepaskanya yang mau pergi meninggalkanya.


"Papa harus mencari mama, kalau papa masih disini, nanti kita tidak bisa bertemu sama mama, apa Arka mau seperti itu?"


Kembali mensejajarkan tubuhnyan dengan tubuh milik anaknya, Darren yang kini kembali berjongkok didepan anaknya, berusaha memberi pengertian pada anaknya. Dengan lembut ia mencoba membujuk anaknya yang masih kekeh tak mau melepaskanya pergi.


"Tapi, Arka nggak mau papa pergi..." Arka pun kembali menangis dihadapan Darren, membuat Darren jadi bingung sendiri, hingga akhirnya ia kembali memeluk sang anak untuk menenangkanya yang baru saja lebih tenang. Dengan lembut ia menepuk punggung anaknya yang sedang menangis.


"Cup.. cup.. papa nggak akan pergi." Ucaonya mencoba menenangkan anaknya yanh masih menangis.


Menghela nafas dengan situasi yang ada, Darren yang saat ini sedang berada dalam kesulitan terus mencoba untuk bersikap tenang dalam menghadapinya. Mencoba untuk tetap tenang dalam menenangkan anaknya yang menangis, hingga ia yang saat ini masih terus mencoba untuk tenang dengan pikirannya yang terus tertuju pada Airin.


"Aku pasti akan menemukanmu" Tuturnya dalam hati yang bertekad untuk mencari dan menemukan Airin.


.....

__ADS_1


Bi Rahma dan suaminya terlihat diam melihat betapa sayangnya Darren pada Arka, anak yang sejatinya baru dia temui itu. Terlebih melihat Arka yang entah mengapa begitu lengket pada Darren, membuat mereka takjub dan juga tak menyangka. Mengingat Arka tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya sejaj kecil.


Melihat kedekatan diantara keduanya membuat mereka tersadar bahwa hubungan antara Darren dan Arka memang layaknya seorang ayah dan anak pada umumnya. Ikatan darah dan juga batin diantara mereka benar-benar tak bisa dilepaskan begitu saja.


"Arka dirumah saja ya sama ayah dan bunda, soalnya papa mau menjemput mama." Stelah berpikir sejenak, kali ini bi Rahma mencoba untuk ikut membujuk Arka yang terlihat masih enggan untuk melepaskan Darren yang hendak pergi.


"Iya, ada om Dava juga lho dirumah, nanti kita main sama-sama sambil menunggu mama dan papanya Arka pulang." Timpal Bilal, suami dari bi Rahma.


Sempat ragu untuk melepas Darren, akhirnya Arka pun terbujuk oleh usaha dari mereka berdua. Hingga merelakn Darren yang harus pergi untuk mencari Airin.


"Papa janji akan membawa mama pulang, kan?" Ucapnya dengan suara yang agak serak dengan ekspresinya yang terlihat masih enggan untuk melepaskan.


"Iya, papa janji. Nanti papa pasti akan datang lagi kesini dan membawa mama pulang." Balas Darren yang akhirnya membuat janji dengan anaknya.


Keduanya pun saling melingkarkan jari kelingking sama-sama dan menempelkan janji yang mereka buat.


Melihat anaknya yang sudah mulai tenang dan mau melepaskan ia pergi, dengan bergegas Darren pun akhirnya pamit dari hadapan bibi dan paman Airin untuk segera mencari keberadaan Airin ditemani oleh Arsen yang masih menunggunya.


Hari sudah semakin gelap karena malam telah menghampiri, Darren yang sekarang sudah barada dalam mobil bersama Arsen menatap segala arah untuk melihat keberadaan Airin, telebih pada mobil yang dikendarai oleh Airin saat itu.


"Apa kamu melihat plat mobil yang dikendari oleh Airin tadi?" Tanya Darren pada Arsen.


"Iya, say kebetulan melihat plat mobilnya." Jawab Arsen yang ternyata melihat plat mobil yang dikendarai oleh Airin.


"Bagus, intruksikan pada bawahanmu untuk segera mencari mobil dengan plat mobil itu." Pinta Darren memberikan perintahnya.


"Baik, akan segera saya laksanakan." Balas Arsen yang segera melaksanakan tugasnya dari Darren.


Kamu pergi kemana sebenarnya?...

__ADS_1


__ADS_2