
Dia yang saat ini menatapku dengan marah, dengan sorot mata tajam yang seolah mampu menembus wajahku, juga membuat tubuh ini membeku karena amarahnya.
Darren merasa tertegun melihat ekspresi wajah Airin, sudut hatinya tiba-tiba merasa sakit saat melihat mata penuh kebencian dan rasa amarah yang ditujukan oleh Airin padanya.
"Aku tau kamu begitu marah padaku, karena itu aku datang kesini untuk memperbaiki semuanya, memperbaiki apa yang sudah terlanjur aku rusak dan terlebih aku ingin meminta maaf padamu."
Setelah sempat terdiam karena cukup terkejut dengan Airin yang hrndak mengusirnya pergi, Darren akhirnya memberikan komentarnya pada Airin, dan menjelaskan tujuanya datang kerumah keluarganya.
"Apa menurut kamu permintaan maaf itu akan cukup? Setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku selama ini? Bukankah kamu terlalu egois?" Balas Airin yang sedikit tak setuju dengan tindakan Darren yang menurutnya terlalu egois.
Dengan mata yang bergetar, lidah yang terasa keluh saat berkata, dengan ekspresi wajah yang menahan rasa amarah dan tangisnya, Airin dengan sekuat tenaganya mencoba untuk menahan diri didepan Darren yang saat ini sangat membuatnya marah dan kecewa.
Melihat Airin yang masih marah padanya, hingga tak memberikan ia kesempatan untuk menjelaskan semuanya, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya untuk mendekat lebih dekat ke arah Airin berdiri.
"Bisakah kita masuk kedalam lebih dulu, karena aku ingin bicara dengan keluargamu, akan aku ceritakan semuanya di dalam bersama keluargamu." Ucapnya yang kali ini berjarak lebih dekat dengan Airin.
"Aku kan sudah bilang untuk pergi, hey.."
Ketika Airin ingin mengusirnya kembali, namun Darren malah menggandeng tangannya untuk masuk kedalam rumah bersama, hingga membuat Airin sedikit berteriak padanya dan juga memberontak untuk dilepaskan tanganya. Keduanya berjalan menghampiri bibi dan juga pamannya yang telah menunggu kehadiran keduanya.
"Apa yang kamu lakukan, kubilang lepaskan tanganku." Ronta Airin, namun Darren tetap menggenggam tanganya menemui bibi dan pamanya.
.....
__ADS_1
Melihat Airin saling bergandengan tangan dengan Darren tentu membuat bi Rahma dan pamanya Bilal yang tengah menunggu mereka di dalam rumah menatap terkejut pada keduanya, yang bahkan membuat keduanya saling melirik tak percaya. Sedangkan Airin langsung melepaskan begitu saja tangannya yang digandeng oleh Darren, sesaat setelah masuk kedalam rumah dan bertemu langsung dengan bibi dan pamanya.
"Dav, kamu bawa Arka main kebelakang rumah atau keluar sana." Ujar paman Airin, meminta pada anaknya Dava agar Arka dibawa keluar, mengingat situasinya yang saat ini tampak tak memunginkan dan pasti tak akan berakhir dengan tenang.
"Duh, urusan orang dewasa itu ribet banget sih." Gerutu Dava yang terlihat enggan terlibat dalam masalah keluarganya, namun tetap menuruti perintah bapaknya dan berniat mengajak Arka keluar.
"Arka nggak mau main, Arka maunya sama papa." Mendengar dia akan dibawa keluar oleh Dava, Arka yang peka langsung menghampiri Darren dan tak mau melepaskan diri begitu saja dari Darren.
Melihat anaknya yang menempel pada Darren, entah mengapa membuat Airin sedikit takut dan khawatir. Ia tak menyangka bahwa Arka akan menempel dengan ayahnya secepat ini, mengingat keduanya tak pernah bersama atau bertemu sejak kecil.
Meski ia tau kalau Darren adalah ayah kandung dari anaknya, namun entah mengapa itu tak membuatnya merasa senang dan sedikit cemburu melihat kedekatan Darren dengan Arka. Mengingat Arka yang selalu menempel padanya disetiap waktu, kali ini justru terlihat menempel pada Darren. Ia pun jadi merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh anaknya. Terlebih ketika melihat Arka yang langsung berlari menghampiri Darren, seketika hatinya merasakan perasaan yang sulit untuk ia jelaskan.
"Aku seolah sedang diselingkuhi." Batinya ketika melihat pemandangan antara Darren dengan anaknya.
"Bodohnya aku yang tidak tau soal ini." Rutuknya pada dirinya sendiri yang tak bisa mengetahui soal apa yang diinginkan oleh anaknya.
Melihat itu, tentu membuat perasaannya menyesal karena tak pernah mencoba untuk menceritakan perihal sosok ayah kandungnya pada sang anak.
"Aku merasa gagal sebagai seorang ibu bagi anakku. Karena aku bahkan tidak tau apapun soal anakku."
Airin merasa sedih dengan apa yang ia lakukan selama ini pada sang anak. Ia tak merasa bahwa ia berhasil membesarkan anaknya. Namun, tetap saja hatinya merasa terluka melihat anaknya yang terus menempel pada Darren.
.....
__ADS_1
"Arka, ikut sama kak Dava dulu ya, hari ini mama mau berbicara serius sama papanya Arka." Kali ini Airin mencoba mebujuk anaknya untuk keluar dengan Dava. Ucapanya itu membuat senyum Darren mengembang.
Namun, Arka justru menangis dan semakin memeluk Darren. Seketika membuat Airin terkejut melihat tangisan anaknya, terlebih aksinya yang langsung memeluk Darren. Tubuhnya tak berkutik melihat anaknya yang lebih memilih ayahnya dibanding dirinya seperti yang biasa Arka lakukan bersamanya. Bi Rahma dan pamanya pun sama terkejutnya dengannya, sedangkan Dava yang melihat situasi semakin menyulitkanya, akhirnya memilih pergi dari sana dan mengacuhkan keluarganya.
Karena rasa cemas masih menghantui Airin, ia pun tak bisa melihat kedekatan anak dan ayahnya sebagai hal baik. Tubuhnya yang merespon ketakutanya, bergetar dengan sendirinya tanpa ia sadari.
"Tenanglah, sebaiknya kamu duduk dulu, kita bicarakan semuanya secara baik-baik." Bi Rahma yang melihat Airin begitu terkejut dan tampak tak percaya, mencoba menenangkanya dan mengajaknya untuk duduk.
Karena Arka yang menangis dan tak mau dipisahkan dengan Darren, yang merupakan ayahnya, dan akhirnya mau tidak mau membuatnya ikut dalam obrolan. Masih dalam pangkuan Darren, suasana terlihat sedikit lebih baik dengan semua yang kali ini telah duduk diatas kursi.
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat suasana menjadi canggung seperti ini, saya datang kemari hanya ingin bertemu dengan anak saya, terlebih ingin meminta maaf pada kalian." Ujar Darren, yang menyadari kehadiranya telah membuat suasana menjadi tidak nyaman.
"Apa benar anda adalah ayah dari Arka?" Tanya bi Rahma kemudian.
"Iya, benar. Maaf jika saya terlambat menemuin Arka dan Airin, saya tau anda marah pada saya, karena itu hari ini saya ingin menebus semuanya." Balas Darren.
"Bagaimana anda akan menebus semuanya?" Kali ini giliran paman ikut memberikan suaranya.
"Mungkin kata maaf tidak akan cukup, karena saya tau betul bagaimana kesalahan saya. Tapi, saya akan melakukan apapun untuk Arka dan juga Airin." Ujarnya penuh keseriusan.
"Dimana anda selama ini? Mengapa baru sekarang anda muncul dan berniat bertanggung jawab? Dan, bukankah kata-kata saja tidak akan cukup untuk membuktikan keseriusan anda terhadap keponakan saya dan anak anda yang telah anda telantarkan sejak kecil?" Ucap bi Rahma yang terlihat emosional.
Darren sedikit ragu untuk mengatakanya.
__ADS_1
"Dulu saya sakit..."