Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
63. Kepingan Cerita


__ADS_3

Benar, seseorang yang berada dalam foto bersama Airin adalah Darren. Di dalam foto tersebut, keduanya saling memberikan ekspresi bahagia dengan memancarkan senyum yang memperlihatkan rasa penuh kasih dari keduanya, hinggga siapapun yang melihat ekspresi yang diperlihatkan keduanya, pasti dengan mudah bisa merasakan perasaan keduanya yang terlihat saling menyayangi satu sama lain.


Namun, hanya foto itu satu-satunya yang Airin miliki saat ini, karena foto lainnya saat bersama Darren tersimpan di dalam ponsel lama milik Darren dan juga di dalam album foto yang tersimpan di apartemen Darren yang ada di melbourne, dan saat itu hanya foto inilah yang Airin bawa karena sudah tersimpan sebelumnya di dalam dompet miliknya.


Dan foto saat bersama Darren itulah yang saat itu dilihat oleh Arka, dan mengira itu adalah foto mama bersama papanya. Mengingat dalam foto tersebut, Arka melihat sosok mamanya yang sedang memperlihatkan ekspresi bahagia bersama orang disampingnya. Karena hal itu juga yang akhirnya membuat seorang Arka bisa melihat wajah papa kandungnya untuk pertama kalinya setelah dia dilahirkan kedunia.


....


Namun, sayang papa kandungnya tidak bisa mengingat tentang dirinya, karena memang tidak pernah mengetahui keberadaanya sedari awal. Darren yang merupakan ayah biologisnya, saat ini justru sedang berjuang mengingat kenangan masa lalunya yang ada di melbourne yang tiba-tiba saja menghilang dari ingatannya.


"Sial, satupun tak ada yang ku ingat tentangnya." Umpat Darren yang merasa frustrasi ketika berusaha mengingat soal pertemuannya dengan Airin, juga tentang kedekatanya di masa lalu dengan Airin yang tak satupun bisa ia ingat..


Darren yang saat ini telah kembali dari melbourne bersama Lucas, bergegas masuk kedalam apartemen miliknya begitu tiba, seolah tengah mencari sesuatu yang bisa memudahkan dirinya mengingat tentang Airin. Seorang perempuan yang beberapa kali berpapasan denganya, juga sosok perempuan yang tak sengaja terlihat dalam siluet bayangan yang ia lihat saat mengunjungi apartemen lamanya di melbourne. Hanya saja, setelah mengobrak-abrik apartemen miliknya, tak bisa ia temukan satupun jejak dari seorang Airin di dalamnya.


"Tidak ada jejak apapun yang kumiliki disini." Ucapnya yang merasa frustrasi setelah tak menemukan apa yang ia inginkan.


Darren yang masih memakai setelan baju yang ia pakai dari melbourne dan sepatu yang belum juga ia lepas meski sudah berada di apartemen, terlihat tak memperdulikan penampilanya itu. Ia terus mencari dan mencari apa yang bisa ia dapatkan di apartemenya yang ada di jakarta, tempat ia tinggal setelah pulang dari melbourne.


"Ternyata disini memang tidak ada apa-apa." Ucapnya yang akhirnya memberi kesimpulan setelah membuat berantakan aparteme miliknya.


Rasa yang mengganggu itu begitu menyulitkan Darren, rasa yang tak hanya sekedar penasaran melainkan lebih dari kata untuk menggambarkan perasaan yang ia rasakan saat ini terhadap Airin yang terus mengusik hati dan perasaanya. Namun, ketika mengingat ia ternyata pernah bersama Airin sebelumnya, terlebih ada kehangatan dan kedekatan yang ia lakukan dulu bersama Airin, tentu semakin membuat Darren dilanda rasa tak karuan, karena sejatinya ia sama sekali tak mengingat soal Airin dan tak merasa mengenal sosoknya sebelumnya.

__ADS_1


"Apa aku mengenalnya dulu? Kapan? Dan apa hubungan kita saat itu?" Ucapnya penuh tanya.


"Ah,.."


Rasa sakit kembali melanda kepalanya ketika berusaha mengingat sosok Airin dan kenangan masa lalunya yang ia lupakan.


"Ini benar-benar menggangguku." Ujarnya memperlihatkan ekspresi yang terlihat frustrasi.


....


Merasa ada sebuah clue dari siluet yang ia lihat, Darren seakan sedang dikejar oleh waktu dan ingin segera memastikan jawaban dari rasa penasaranya setibanya di dalam apartemennya yang ada di jakarta, bahkan tak memperdulikan kondisinya yang baru saja tiba setelah perjalanan panjang, terlebih dia baru saja terbangun dari pingsan.


"Apa yang mau lu lakuin? Mau kemana malam-malam begini?"


"Aku mau menemui seseorang." Jawab Darren yang sudah bersiap untuk pergi dengan membawa kunci mobilnya.


"Gila lu ya, apa lu nggak nyadar kalau baru aja terbang dari perjalanan panjang? sekarang sudah mau pergi menemui seseorang? mana membawa mobil sendiri lagi? Apa lu segitunya ingin menemuinya dia?"


Lucas tak habis fikir dengan sikap Darren yang terlihat aneh sejak akan pulang dari melbourne tadi.


"Aku harus segera menemui dia, karena ini penting untukku." Balas Darren yang terlihat tak perduli dengan protes Lucas.

__ADS_1


"Wah, dasar keras kepala. Ingat kondisimu sebelum pulang kesini, kalau elu itu habis pingsan dan juga habis dari perjalanan panjang, yang itu artinya kondisi tubuhmu masih belum sepenuhnya baik-baik saja." Ujar Lucas yang sedikit marah pada keras kepala Darren.


"Wah, apa ini? Apa sekarang lu lagi marah ke gue?" Nada bicara Darren pun menjadi berubah ketika melihat ekspresi Lucas yang terang-terangan sedang marah dan kesal menatapnya, meski ia tau itu hanyalah perasaan khawatir Lucas terhadap kondisinya.


"Iya, gue lagi marah, marah padamu yang keras kepala dan egois, terlebih pada tubuhmu sendiri."


Tiba-tiba suasana berubah menegang di antara dua sahabat dekat itu. Dalam ketegangan itu, akhirnya menyiptakan suasana yang menjadi canggung dan hening seketika.


"Sialan.." Umpat Darren yang akhirnya berjalan ke arah kamarnya dengan ekspresi kesal dan Lucas yang hanya bisa menghela nafas panjang melihat Darren yang berjalan ke arah kamar dan tak jadi pergi keluar.


"Sebenarnya siapa sih yang mau dia temui itu? Dia sampai bersikap diluar kebiasaanya?"


Melihat punggung Darren yang menjauh, Lucas pun akhirnya bertanya-tanya pada sosok yang ingin Darren temui.


"Sikapnya menjadi aneh setelah sadar dari pingsannya."


....


Berjalannya waktu sekembalinya ia dari melbourne, Darren masih belum menemukan jawaban dari apa yang sedang ia cari, terlebih Arsen yang ia tugaskan lagi untuk menyelidiki soal Airin, belum memberikan kabar lebih lanjut padanya, karena posisinya yang masih berada di melbourne. Dan setelah berjalan lebih dari 3 hari setelah sekembalinya ia dari melbourne, tak membuatnya bisa berjumpa dengan Airin, seperti apa yang ia harapka ketika telah pulang dari melbourne.


"Arsen bilang dia punya toko bunga dan menjalankan toko bunganya." Ujarnya yang akhirnya mengetahui pekerjaan Airin melalui informasi yang ia dapatkan dari Arsen sebelumnya.

__ADS_1


Di dalam kantornya, ia tengah memikirkan sesuatu agar bisa bertemu dengan Airin. Karena banyak hal yang ingin ia tau dan tanyakan pada Airin, membuat Darren terobsesi ingin segera bertemu dengan Airin. Terlebih ia begitu menderita sekembalinya dari melbourne, karena sempat jatuh sakit saat berusaha memikirkan kenangannya di masa lalu, hingga mengurungkan niatnya untuk segera bertemu Airin.


"Padahal saat pulang, aku sudah bertekad untuk bertemu dengan dia." Ucapnya merasa menyesal.


__ADS_2