Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
81. Airin dan Bunga


__ADS_3

Airin's Garden, toko bunga milik Airin hari ini terlihat ramai dan banyak pesanan. Semua terlihat lebih sibuk dibanding hari sebelumnya, tak terkecuali Airin yang ikut turun langsung membantu.


"Hari ini banyak banget yang pesan bunga, ya? Dan semua terlihat memesan untuk pasangan mereka." Bi Rahma yang datang ke toko milik Airin, tampak takjub melihat banyaknya pesanan bunga untuk pasangan.


"Iya, bi, hari ini memang sedikit lebih ramai dari sebelumnya." Balas Airin yang terlihat sibuk merangkai bunga pesanan pelangganya.


"Apa hari ini ada hal yang spesial, ya?" Tanya bi Rahma yang tampak penasaran.


"Nggak harus ada hal yang spesial sih, terkadang mereka memesan bunga sebagai bentuk kasih sayang atau kejutan buat pasanganya." Balas Airin yang masih terus fokus mempersiapkan pesanan pelangganya.


Namun saat itu, fokusnya tiba-tiba terpecah ketika mendengar suara dari arah pintu tokonya. Krincing..


Suara pintu terbuka, pertanda ada sebuah pelanggan yang masuk kedalam toko bunga miliknya, semua mata seketika memandang ke arah pelanggan yang baru masuk tersebut. Membuat Airin menghentikan sejenak aktifitasnya yang sedang merangkai bunga, sedangkan bi Rahma kembali masuk kedalam rumah, meninggalkan Airin yang tengah sibuk melayani pelanggan yang baru datang.


"Maaf, apa benar ini toko bunga Airin's Garden?" Tanya pelanggan yang baru masuk tersebut.


"Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Airin yang langsung menghampiri pelangganya itu.


"Saya tidak tau nama bunganya apa, tapi bisakah saya memesan bunga ini?" Ujar pelanggan tersebut sembari menunjukkan gambar bunga yang hendak ia pesan melalui layar ponselnya.


Begitu melihat bunga yang ada di foto, Airin langsung mengenali jenis bunga apa yang dimaksud oleh pelangganya itu. Ia tersenyum ketika melihat bunga tersebut, karena jenis bunga yang ia lihat memiliki makna yang begitu mendalam. Bunga Daisy dan Bunga Mawar adalah adalah bunga yang dimaksud oleh pelanggannya tersebut.


Bunga Daisy yang kerap kali dilambangkan sebagai ketulusan hati, sedangkan bunga Mawar lebih dikenal sebagai simbol cinta dan kasih sayang. Sungguh perpaduan yang indah jika dihadiahkan untuk seseorang yang spesial.


"Kebetulan kami memiliki bunga yang anda minta, akan segera kami siapkan bunganya, anda bisa menunggunya disana." Ujar Airin menunjuk salah satu bangku.


"Ah, itu.., saya tidak ingin membawanya sekarang, bisakah anda mengantarnya pada alamat ini?" Pelanggan tersebut menolak untuk menunggu dan meminta bunga pesananya di antar pada alamat yang ia berikan.


"Iya, bisa, baiklah akan saya antarkan bunga pesanan anda pada alamat yang anda berikan ini." Ucap Airin menyanggupi permintaan pelangganya itu.


"Terimakasih, kalau begitu saya tinggal menyelesaikan pembayaran untuk pesanan bunganya." Balas pelanggan itu merasa senang dan ingin segera menyelesaikan transaksi pembayaran.


"Sebelum itu, bunganya dikirim untuk siapa, ya? Apa perlu tulisan di dalam bunganya?"


"Ah, tidak perlu, karena bunga ini bukan saya yang memesannya, saya hanya diminta oleh atasan saya untuk membelikan bunga disini."


"Oh, begitu, jadi hanya kosongan saja, ya? Baiklah saya mengerti."

__ADS_1


"Apa ada bunga yang memiliki makna permintaan maaf?" Tanya pelanggan tersebut ketika melihat berbagai macam bunga yang ada di dalam toko.


Pertanyaanya itu membuat Airin menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap ke arah pelangganya yang sedang bertanya tentang sebuah bunga padanya.


"Ada, nama bunganya hyacinth. Seperti ini bentuk bunganya." Tunjuk Airin pada bunga berwarna putih yang sedang ditanyakan oleh pelangganya.


Sosok pelanggan yang berjenis kelamin laki-laki itu, tampak diam ketika melihat bunga yang ditunjuk oleh Airin. Ekspresinya seakan tertarik pada bunga yang ia lihat.


"Bisakah saya memesan ini juga." Ucapnya kemudian.


"Iya, anda boleh memesan bunganya." Jawab Airin.


"Kalau begitu tolong hitung sekalian dengan bunga yang saya pesan tadi, saya akan membeli ketiganya." Kata pelanggan tersebut yang menjadi tertarik pada bunga yang tak sengaja ia lihat itu.


"Baik, akan segera saya lakukan. Tapi, apa bunganya juga akan di antarkan pada alamat yang anda berikan tadi?"


"Iya, tolong antarkan bunganya pada alamat yang saya berikan pada anda tadi. Tapi, saya harap anda segera mengantarkan pesanan bunganya, karena ini penting untuk atasan saya." Ujar pelanggan itu yang meminta agar bunga pesananya segera di antarkan.


"Baik, akan kami usahakan segera di antar pada alamat yang anda maksud." Jawab Airin meyakinkan pelangganya itu.


"Eh!," Mata Airin cukup terkejut mendengar permintaan pelangganya itu. "Ah, saya tidak menjamin akan itu, tapi akan saya usahakan." Ucapnya yang tak bisa berjanji.


"Tapi, apa ada alasan khusus soal anda yang meminta saya mengantarkan langsung bunganya pada atasan anda?" Sambungnya lagi.


"Tidak ada sih, saya hanya merasa suka dengan pelayanan yang anda berikan, dan mungkin nanti atasan saya juga akan merasa senang saat menerima bunga dari anda." Jawab pelanggan tersebut.


"Ah, begitu ya.. terimakasih atas pujian anda." Airin tersenyum mendengar jawaban pelanggannya itu.


"Saya ikut senang jika anda merasa puas pada pelayanan yang saya berikan, terlebih pada anda yang membeli bunga pada toko kami." Sambungnya lagi.


Meski tampak terkejut dan sedikit bingung pada permintaan pelangganya, namun Airin melayaninya dengan baik sampai pelanggan yang berjas rapi itu pergi dari toko bunganya. Ia tak tau identitasnya, namun ia melihat sosok pelangganya sebagai seseorang yang keren, mengingat penampilanya yang terlihat gagah dengan setelan jas yang melekat pada tubuhnya yang kekar.


"Penampilanya seperti dia bekerja diperusahaan besar." Gumamnya mengomentari penampilan pelanggannya yang memakai setelan jas hitamnya.


.....


"Aku pergi dulu ya, tolong titip toko sebentar, kalau Arka mencari, kasih tau saja kalau aku sedang mengantarkan pesanan." Ucap Airin pamit pada kedua pegawai tokonya yang bernama Dewi dan Rini.

__ADS_1


"Iya, mbak Airin tenang saja, nanti akan kujaga tokonya dengan baik." Jawab Rini.


"Iya, mbak Airin bisa pergi dengan nyaman, jangan khawatir soal Arka juga, nanti pasti ku jaga." Timpal Dewi.


"Ok, terimakasih."


Bersama mobil miliknya, Airin pun pergi untuk mengantarkan pesanan bunga pada pelanggannya. Tempat yang ia tuju adalah sebuah apartemen berlantai 20. Dan ia mendapatkan pesanan pada salah satu penghuni apartemen yang ia datangi saat ini. Tepatnya ia harus menemui pemilik pesanan bunganya dilantai 15.


Tak butuh waktu lama ia sampai pada apartemen tersebut, hanya butuh waktu 15 menit untuknya sampai pada tempat tujuan. Untuk mengantarkan pesanan bunga miliknya pada salah satu penghuni apartemen.


"Disini tertulis lantai 15, tapi yang mana apartemenya? Kiri atau kanan? Mana tidak ada namanya."


Airin tampak bingung ketika ada dua apartemen begitu ia naik ke lantai 15, ia bingung harus memencet tombol yang mana untuk mengantarkan pesanan bunganya. Sebenarnya ia bisa menitipkan bunganya pada security, namun ia disuruh mengantarkan langsung pada pemilik apartemen oleh pria berjas hitam yang datang ke tokonya tadi.


"Aku coba pencet yang kiri sajalah." Ucapnya yang sedikit ragu-ragu, namun tetap memencet tombol apartemen di depanya.


Betapa terkejutnya Airin begitu pintu apartemen yang ia pencet tombolnya terbuka. Tubuhnya membeku karena melihat sosok yang keluar dari dalam apartemen, dan sosok itu adalah Darren.


"Maaf, sepertinya saya salah memencet tombol apartemen." Ucap Airin yang merasa salah tempat dan hendak pergi.


"Tidak, kamu datang ketempat yang benar." Namun, Darren mencegahnya dengan cepat dan mengatakan kalau ia tak salah tempat.


Seketika hati dan perasaan Airin membeku, ia tak sanggup menatap Darren yang berdiri di depannya.


"Ah, begitu ya. Syukurlah kalau begitu, tolong terima bunga yang dikirim oleh pak Arsen untuk anda." Ucapnya yang mau menyerahkan bunga pesanan yang sedang ia pegang pada Darren.


"Bisakah kamu masuk kedalam apartemen?"


Sontak ucapan itu membuat Airin terkejut."Maaf, tugas saya sudah selesai, karena itu tolong ambil segera bunga pesanan anda."


"Aku butuh bantuanmu untuk menaruh bunganya." Ucap Darren menahan Airin yang hendak pergi.


"Maaf, pak. Tapi, saya harus pergi sekarang, karena masih ada banyak pesanan yang harus saya antarkan." Tolak Airin.


"Kalau begitu buang saja bunganya." Ucap Darren yang tak lagi perduli.


Airin menatap tak percaya pada hal yang dikatakan oleh Darren.

__ADS_1


__ADS_2