
"Lu, gila ya!, habis dari mana aja lu baru datang ke kantor?" Ujar Lucas protes pada Darren yang baru saja datang ke kantor dengan mimik wajahnya yang terlihat marah.
"Berisik, aku mau masuk keruanganku." Balas Darren terlihat cuek dan memilih mengabaikan protes Lucas.
"Woi, kira-kira dong, karena lu nggak datang ke acara meeting pagi tadi, hampir aja kita itu dapat masalah tau, untung mereka mau mendengarkan penjelasanku dan mau menunda meetingnya lagi." Lucas mengikuti langkah Darren yang masuk kedalam ruangannya dan terus mengomeli Darren yang memilih tak datang ke acara meeting.
"Duh, iya sorry deh. Yang penting sekarang sudah beres, kan?" Balas Darren.
"Gila ini anak, kesambet apa'an sih hari ini, gak biasanya ya lu kaya begini? Ada hal penting apa yang membuatmu harus melewatkan acara meeting, ha?" Lucas tak habis fikir dengan sikap Darren yang sedikit membuatnya kesal.
Darren yang sudah duduk di dalam kursinya, terdiam dan jadi mengingat kembali momennya yang saat itu berkunjung ke sekolah anaknya.
"Acara yang sangat penting bagi hidup dan juga masa depanku." Jawabnya dengan tenang pada Lucas yang tengah menatapnya kesal.
"Ck, masa depan? Omong kosong apa lagi ini?" Lucas mendecak tak percaya dengan jawaban Darren, dan menatapnya kesal.
"Bukan soal pekerjaan, tapi soal kehidupan pribadi, dan kamu nggak akan mengerti meski aku jelaskan sekalipun." Ujar Darren yang mulai mengerjakan pekerjaan yang ia tinggalkan di atas meja kerjanya.
Lucas mengernyit bingung pada ucapan Darren dengan sorot matanya yang tajam, seakan tengah menusuk tubuh Darren.
"Duh, maksudnya apa sih, jelasin yang bener dong. Kalau nggak dijelasin mana bisa ngerti, coba?" Ucapnya meminta penjelasan pada Darren.
"Apa kamu nggak lihat aku lagi sibuk kerja? Sana pergi, aku lagi beresin pekerjaan yang kutinggalkan tadi. Ganggu orang lagi kerja aja, deh." Balas Darren tak mau menjelaskan dan memberi gestur pada Lucas untuk pergi dari ruanganya.
Kata-kata cuek dari Darren, dengan gesturnya yang tenang seperti tak merasa bersalah sama sekali, seketika membuat Lucas membatu karena saking bingungnya harus menjawab dan merespon seperti apa ucapannya itu. Ia terpaku pada reaksi Darren yang tak memperdulikan protesnya.
"Ha.., dasar manusia kepala batu." Ucapnya memilih pergi dari ruangan Darren dengan mimik wajah yang masih kesal.
__ADS_1
Melihat kepergian Lucas dari ruanganya, Darren yang semula bersikap cuek dan tak perduli mendengar omelan dan protes dari Lucas, jadi sedikit bernafas lega dengan bersender pada kursinya. Ia juga melonggarkan dasi yang melilit lehernya, seolah menghilangkan sejenak rasa sesak di dada.
"Sumpah dia bawel banget." Keluh Darren yang sedikit kewalahan menghadapi kekesalan Lucas.
....
Meski ia tau kesalahanya, dan mencoba untuk memperbaiki kesalahanya itu, namun pikiranya terus tertuju pada sosok Airin dan Arka, hingga menbuatnya tak bisa fokus dalam pekerjaannya. Ia tak bisa melupakan keduanya, terlebih pada kenyataan fakta keduanya yang memiliki hubungan langsung denganya.
"Apa benar hubungan kita dulu hanya sebatas kekasih?" Ujarnya memikirkan sosok Airin.
Ia tau tentang hubunganya di masa lalu bersama Airin dulu, namun hanya itu yang baru ia pastikan, karena sejatinya ingatan tentang Airin dulu belum sepenuhnya ia ingat dalam memorinya. Hanya sepenggal dan samar-samar yang ia ingat tentang kenanganya dulu bersama Airin.
"Setidaknya aku sudah tau kalau aku dan dia ada hubungan di masa lalu." Ucap Darren.
Tak hanya soal Airin yang ia pikirkan, namun juga soal Arka yang merupakan anak kandungnya. Meski bisa mendekat ke arah anaknya karena memang Arka yang memberikan ruang baginya untuk mendekat, namun Darren yang saat ini di dalam ruanganya terlihat masih tak mempercayai dirinya sendiri yang ternyata sudah mempunyai seorang anak.
"Sepertinya aku harus beli rumah." Ujarnya yang buru-buru menelfon seseorang.
Brakk... Pintu terbuka lebar dengan suara yang cukup keras menghentikan Darren yang baru ingin menelfon seseorang. Lucas, datang keruangan Darren dengan mimik wajah yang penuh tatapan tajam.
"Apa'an sih, biasa aja dong buka pintunya, bikin kaget aja." Ujar Darren yang akhirnya memilih mengurungkan niatnya untuk menelfon seseorang, dan beralih protes pada Lucas yang datang dengan tiba-tiba.
"Yang bikin kaget itu justru elu tau." Ucap Lucas yang sudah masuk kedalam ruangan.
"Apa lagi ini? Apa lu mau ngomel lagi? Duh, kalau lu terus ngomel seperti ini, yang ada pekerjaanku malah gak selesai-selesai." Ucap Darren.
"Apanya yang pekerjaan, lihat ponselmu sekarang juga, ini jauh lebih danger." Lucas meminta Darren untuk mebuka ponselnya cepat.
__ADS_1
"Kenapa dengan ponselku?" Bingung Darren.
"Duh lama, lihat ini. Apa maksud dari berita ini? Coba jelaskan yang ada di artikel ini" Lucas yang tak sabaran, akhirnya menyodorkan ponsel miliknya sembari memberitahukan sebuah artikel pada Darren.
Darren mengambil ponsel milik Lucas dan mulai membaca artikel yang dimaksud oleh Lucas. Sebuah artikel yang membahas tentangnya yang datang kesekolah anaknya dan juga tentangnya yang ternyata sudah memiliki seorang anak.
"Ah, akhirnya beritanya keluar juga." Ucap Darren tenang dan menyerahkan kembali ponsel milik Lucas padanya langsung.
"Hah, apa ini? Kenapa ekspresimu malah tenang begini?" Lucas menerima ponselnya dengan tatapan tak percaya melihat reaksi tenang Darren.
"Ya terus aku harus apa? Beritanya kan memang benar." Jawab Darren tenang dan melanjutkan kembali pekerjaanya.
"Tunggu, coba ulangi, aku nggak salah dengar, kan?" Lucas sempat tertegun mendengarnya dan meminta Darren untuk mengulangi kalimatnya lagi.
"Tidak ada pengulangan, kalau tidak dengar yasudah sana pergi." Balas Darren cuek.
"Gila ini anak, lu tau ini masalah serius, kan? Gimana lu bisa sesantai ini, coba?" Lucas menaruh kedua tanganya pada meja kerja Darren dan menatap wajahnya untuk meminta penjelasan lebih.
"Lu mau apa? Menjelaskan isi artikel itu?"
"Iyalah, kalau lu diem dan tenang begini, kan artinya lu menbenarkan beritanya."
Darren tak langsung membalas Lucas, ia diam menatap wajahnya yang saat ini penuh rasa penasaran.
"Mending cariin aku rumah deh, aku mau pindah rumah dan tinggal disana saja." Ujarnya kemudian.
"Duh, bisa serius dikit nggak sih, kenapa malah bahas soal rumah yang nggak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, coba?" Kesal Lucas pada Darren yang terus berputar-putar.
__ADS_1
"Menurutku ini masih ada sangkut pautnya, karena apartemen tidak cocok membesarkan anak, jadi aku harus mencari rumah yang memiliki halaman luas, agar anakku bisa tumbuh dengan baik dan bermain dengan bebas disana." Ujar Darren yang perkataanya itu membuat Lucas speechless mendengarnya.