
Darren pun mulai menjelaskan pada bibi dan paman Airin, juga pada Airin yang ada diruangan, tentang dirinya yang tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar selama ini, dan alasan jelasnya tentang dirinya yang baru muncul sekarang untuk menemui Airin. Menceritakan juga tentang bagaimana awal mula ia sampai mengalami kecelakaan yang akhirnya membuatnya tak bisa mengingat kenangannya dulu selama tinggal di melbourne, termasuk mengingat tentang hubunganya dengan Airin.
"Karena itu.. saya minta maaf jika baru bisa datang sekarang." Tuturnya yang kemudian mengakhiri penjelasanya.
Masih memeluk anaknya yang masih berada di dalam pangkuanya, Darren yang selesai menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada bibi dan paman Airin, juga pada Airin itu sendiri, kini tengah menunggu respon dan tanggapan dari mereka tentang permintaan maafnya juga pada penjelasan yang sudah ia lakukan.
"Apa permintaan maafku masih belum bisa menyentuh hati mereka? Dan apa penjelasanku masih sulit untuk meyakinkan mereka?
Darren tak tau harus apa lagi sekarang setelah menjelaskan semuanya, ia yang sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum datang menemui Airin dan keluarganya terlihat masih kesulitan dengan situasinya yang saat ini sedikit membuatnya begitu tertekan. Sebuah perasan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sial, situasi ini benar-benar menyiksaku." Batinya yang merasa sesak dalam situasi yang begitu serius ini.
Meski ia sudah mempersiapkan diri dari kemungkinan ia akan diusir atau tidak diterima oleh keluarga Airin, namun setelah bertatap muka secara langsung dengan mereka, membuatnya tersadar bahwa rasa tekanan yang begitu menyiksa batinnya saat ini ternyata berawal dari rasa bersalahnya pada Airin dan keluarganya.
Rasa bersalahnya itulah yang membuatnya berada dalam tekanan yang besar ketika berbicara langsung dengan paman dan bibi Airin. Entah mengapa ia sedikit gugup di depan mereka, dan sampai membayangkan mereka tak mau menerima kehadiranya ataupun tak mau memberinya waktu untuk menjelaskan semuanya, terlebih menerima permintaan maafnya.
"Apa ini? jadi beneran aku sedang gugup sekarang?"
Darren seolah sedang menertawakan dirinya sendiri di dalam hati yang tak menyangka bahwa ia akan merasa gugup seperti ini. Ia datang kerumah Airin dengan harapan ingin memperbaiki semuanya. Harapan pada hubungannya bersama Airin dan anaknya yang jadi semakin membaik, terlebih ia ingin mendapatkan permintaan maaf dari Airin dan keluarganya.
Namun, setelah melihat Airin yang saat ini hanya diam membatu setelah mendengar penjelasan darinya, membuat Darren menatapnya bingung. Tak ada yang tau apa yang sedang Airin pikirkan saat ini, karena ekspresinya saat ini hanya datar tanpa ekspresi. Sorot matanya pun tampak kosong menatap hal di depanya.
__ADS_1
Hal yang sama juga terjadi pada Bibi dan paman Airin saat ini, keduanya ikut terdiam mendengar penjelasan dari Darren, seolah tertegun dengan apa yang mereka dengar, hingga tak tau harus memberikan respon seperti apa terhadap penjelasan Darren yang terlalu mengejutkan bagi mereka.
Penjelasan yang masih terasa sulit untuk mereka pahami, hingga rasa amarah yang terlanjur membuncah karena kesalahan yang dia lakukan selama ini pada Airin, kini seolah kehilangan artinya dengan cerita yang terlanjur mereka dengar dari mulutnya itu. Terlebih mereka melihat adanya kejujuran dari sorot mata Darren yang saat ini memperlihatkan perasaan menyesal, dan ketulusanya saat meminta maaf secara langsung pada mereka.
Sejenak, suasana berubah menjadi sunyi karena tak adanya obrolan yang terjadi diantara mereka. Semua nampak diam dengan pikiran masing-masing. Airin pun juga terlihat membeku dengan penjelasan Darren, seolah masih mencerna apa yang sudah terdengar oleh telinganya.
.....
"Apa penjelasan saya tadi masih tidak terlalu meyakinkan untuk anda berdua?" Ucap Darren mencoba memecah kesunyian dengan mengajak bicara pada bibi dan paman Airin.
"Maaf, jika penjelasan saya terkesan tidak meyakinkan, tapi..."
Airin tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meninggalkan obrolan begitu saja, memotong Darren yang masih berbicara dan kemudian berlari keluar meninggalkan semuanya. Membuat bibi, paman dan juga Darren menatap terkejut pada kepergianya.
"Mama.." Arka yang sedari tadi menempel pada Darren ikut memanggil Airin yang tiba-tiba pergi keluar rumah.
Sedangkan Darren nampak tertegun melihat Airin yang tiba-tiba keluar dari rumah, hingga tanpa sadar membuat tubuhnya membeku saat melihat ia beranjak pergi, karena ada Arka yang masih berada di dalam pangkuanya, membuatnya tidak bisa langsung menyusul kepergianya.
"Pak, ini gimana? Kenapa Airin malah tiba-tiba keluar begini? Tadi dia juga tidak mendengarkanku yang memanggil namanya." Ujar bi Rahma sedikit panik dan tengah mengadu pada suaminya.
"Lebih baik kita susul dia keluar, siapa tau dia masih ada dihalaman depan." Balas Paman Airin yang kemudian mengajak sang istri untuk keluar menyusul Airin.
__ADS_1
Darren yang masih terkejut melihat kepergian Airin, hendak ikut menyusul keluar bersama Arka.
"Papa, apa mama marah sama Arka?" Kata Arka yang menghentikan langkahnya untuk keluar mengejar Airin.
"Kenapa Arka bisa berfikir begitu?" Mendengar anaknya bertanya, Darren pun akhirnya mengurungkan niatnya yang ingin mengejar Airin dan memilih berjongkok untuk menatap dekat wajah sang anak yang saat ini sedang memperlihatkan raut wajah sedih.
"Karena mama tidak mendengarkan Arka yang tadi memanggilnya." Jawab Arka sedikit murung.
Darren yang juga tak mengerti alasan Airin yang tiba-tiba bersikap begini, juga mengalami kesulitan ketika hendak menjawab pertanyaan anaknya.
"Kita keluar dulu yuk, kita susul mama sama-sama." Ujarnya mencoba membujuk Arka dan mendapat anggukan dari Arka yang setuju ikut keluar bersama.
Namun, begitu ia berhasil keluar bersama Arka, ia melihat Airin yang sudah pergi bersama mobilnya seorang diri, meninggalkan bibi dan pamanya yang terus memanggil-memanggil namanya.
"Mama..." Arka pun mulai menangis melihat Airin yang pergi meninggalkanya, dan bahkan berusaha untuk mengejar mobil milik Airin yang sudah melaju jauh dari pandangan.
Aksinya itu langsung ditahan oleh Darren saat Arka berusaha untuk mengejar Airin yang sudah pergi bersama mobilnya.
"Lepaskan, Arka mau mengejar mama." Rengek Arka yang minta dilepaskan.
Hati Darren merasa sakit ketika melihat anaknya menangis histeris karena kepergian Airin. Ia pun hanya bisa mendekapnya erat dengan mencoba untuk terus menenangkanya yang masih terus menangis dan mencari keberadaan Airin. Sembari terus menenangkan anaknya, kedua matanya tak bisa berhenti berpaling dari arah kepergian Airin bersama mobilnya, seolah pikiranya saat ini terus tertuju padanya yang tiba-tiba pergi.
__ADS_1
Seketika ekspresinya berubah menjadi takut dan khawatir secara bersamaan ketika melihat Airin yang jadi bersikap aneh dan bahkan sampai meninggalkan anaknya seperti ini.
"Apa ini karena kedatanganku kesini?"